True Story

Menanti Februari: Sebut Saja Itu Kejutan

Salah satu cara merawat perasaan bahagia adalah dengan memperpanjang ‘usia’ rasa itu, menyiapkan kejutan kecil setiap setiap hari

Dodi PranandaTelah lama, saya terbiasa menyiapkan kejutan-kejutan kecil untuk diri saya sendiri. Konon, rasa ini membuat saya bahagia. Bila berkenan singgah di kamar saya, di kos, ada semacam kalender (linimasa) yang berisi 35 kotak bentuk kubus yang biasanya saya tulis momen yang dinanti. Misal, seminar yang temanya saya sukai, pengumuman pemenang sebuah kompetisi, hari ulang tahun keluarga dan teman di bulan itu, dan banyak momen lainnya.

Diam-diam, saya menyadari, cara seperti ini membuat saya merasa optimis setiap hari, merasa perlu berbahagia karena esok saya punya bahagia yang lain. Kejutan-kejutan yang saya tulis di kalender itu, membuat saya berpikir, ada alasan bagi diri saya untuk merasa bersiap dengan kejutan.

Ini hanya sekadar intro.

Saya akan cerita sebuah kebahagian, sebuah ‘kejutan’ yang sudah saya persiapkan untuk diri saya sendiri. Tepat Februari 2013, saya punya semacam kebahagiaan. Dari sebuah kompetisi menulis cerita patah hati yang digelar GagasMedia, saya dinyatakan sebagai satu dari sepuluh pemenang.  Saya mengirimkan cerita berjudul: Yogyakarta, Suatu Cerita. Cerita pada naskah itu, saya tulis ketika banyak inspirasi yang datang, semacam hidayah, dan pencerahan dari kisah seorang kawan di SMA Negeri 1 Padang.

Saya enggan membuka cerita itu di sini karena takut bukunya kehilangan keistimewaan. Tapi, yang jelas, buku ini akan diterbitkan GagasMedia, Februari 2013 mendatang. Saya juga belum tahu, buku yang ditulis oleh 10 pemenang lomba bertajuk Proyek 14: Dongeng Patah Hati itu, akan diberi judul apa oleh Redaksi.  Hal yang pasti lainnya, buku ini menjadi buku antologi saya yang kesekian (kalau tak salah jumlahnya sudah belasan) dan buku pertama yang diterbitkan GagasMedia, kelompok penerbit AgroMedia.

Sebetulnya, ini bukan kali pertama bagi saya mengikuti kompetisi menulis yang digelar Gagas. Dulu, sekitar tahun 2009, saya juga pernah ikut lomba bertajuk ‘Menulis Cerita tentang Guru’. Namun, malangnya, saya gagal. Cerita yang saya kirimkan untuk kompetisi itu tak berhasil menemukan takdirnya, dan malah (menemukan takdirnya ketika) menjuari lomba di curhatkita.com (Baca tulisan berjudul Surat dalam Botol Kaca).

Tentulah, sekarang buku ini dalam proses terbit. Sampulnya pun, mungkin kini tengah dirancang. Rasa tak sabar saya kadang sering memuncak, dan berpinta pada-Nya agar Februari segera datang.

Selamat menanti kejutan ya teman-teman. Sebetulnya, salah kalau saya memakai kata kejutan, karena terkesan menghilangkan unsur suprise-nya. Tapi, apapun namanya, ini adalah sesuatu yang membuat saya patut menunggu dengan senang hati. Saya harap nanti, kalian semua, berkenan terkesan, bila suatu hari membaca buku ini. Kejutan ini, kejutan buat kalian juga. Kita lihat dan kita tunggu, bagaimana Februari membungkus rapi kebahagiaan ini. (*)

Depok, 1 Desember 2012

 

 

 

 

Iklan
Standar

2 thoughts on “Menanti Februari: Sebut Saja Itu Kejutan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s