True Story

Surat Kangen dalam Botol Kaca

Ini naskah lama, menjumpai aku tiba-tiba ketika iseng menanyai Paman Google tentang arsip karya-karyaku selama ini. Ketemulah naskah ini, naskah yang meraih Juara 2 Lomba Menulis Pengalaman Pribadi yang dihelat CurhatKita.com sekitar tahun 2009 silam. Naskah aslinya berjudul Lentere Bu Minda.

Bu Mindawati, begitulah namanya. Guruku ketika menempuh pendidikan di SMP 7 Padang. Sudah lima tahun aku tidak bertemu beliau dan terakhir kali ketika masih SMA, kalau tak salah saat aku berkunjung pertama kali setelah masuk SMA 1 Padang. Ah, sudahlah, tak perlu berlama-lama, ini cerita rindu tentang dia.

– Saya sengaja mempertahankan naskah asli, ketika ditulis pertama kali tahun 2009. Saya akui, banyak cela di sanas-ini, dan mohon dimaklumi –

 

Foto oleh Fefry ZahilatulDear Bu Minda,

Dear Bu Minda,
Aku akan menceritakan sosok seorang yang membuat aku mampu bangkit ketika aku terjatuh. Namanya Mindawati. Semua murid biasanya memanggil beliau Bu Minda. Beliau termasuk guru yang muda di sekolah. Beliau mengajar pelajaran Budaya Alam Minangakabau, meski background beliau bukanlah bukanlah berasal dari disiplin ilmu tersebut. Beliau memiliki latar belakang sebagai guru Bahasa Indonesia.

Awalnya, aku merasa tidak ada spesial dari Bu Minda. Ia sama seperti guru-guru yang lain. Namun aku merasakan sesuatu hal yang membuat aku tertegun. Menurutku, Bu Minda adalah seorang guru yang memberikan aku pelita ketika ia menawarkan padaku untuk mengikuti sebuah lomba baca puisi. Ia menyodorkan padaku secarik kertas tentang pengumuman lomba baca puisi yang diadakan sebuah lembaga pendidikan.

Bu minda tahu aku bukanlah seorang yang mahir dalam membaca puisi. Namun ia hanya berkata singkat setelah menulis namaku dalam sebuat kertas tentang keputusan siapa yang diutus sekolah untuk mengikuti perlombaan itu.

Bu Minda hanya mengatakan “Jangan pernah berkata tidak sebelum mencobanya.” Aku kian tertegun. Aku merasa tertantang oleh kata-kata Bu Minda barusan, yang mana setelah itu aku memberanikan diri untuk mendatangi meja Bu Minda dan berkata bahwa aku sedia untuk mengikutinya.

Bu minda hanya tersenyum. Setelah aku menyatakan pada diriku bahwa aku bisa memberikan yang terbaik bagi Bu Minda, aku kemudian menanamkan kepercayaan dalam diri bahwa aku bisa. Karena aku tidak mau membuat Bu Minda kecewa.

Setelah hari-H acara itu datang aku merasa jantungku dipompa begitu dahsyat. Rasa tanggung jawab atas diutusnya aku sebagai perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan itu. Berat rasanya memikul tanggungan, jikalau saja aku tidak menang pasti aku akan mengecewakan banyak pihak.

Mulai dari Bu Minda. Ya, Bu Minda telah memberikan yang terbaik bagiku. Terlebih pada kata-katanya yang selalu menyelip di benakku. Bahkan sebelum melangkah pergi mengikuti lomba itu Bu Minda mengulangi kata-katanya. Belum lagi kegigihan Bu Minda melatihku, mengajarku bagaimana cara mendeklamasikan puisi degan baik dan benar. Bahkan pada suatu hari sebelum lomba itu dimulai Bu Minda telah melakukan suatu pengorbanan demi aku dan lomba itu.

Selain itu kalau aku tidak menang aku juga akan mengecewakan diriku sendiri, orang tuaku yang hanya bisa memberikan support, juga sekolah dan teman-teman yang memberikan dukungan.

Kalah dan menang itu adalah hal biasa dalam perlombaan. Jadi kalau kalau jangan bersedih. Kalah itu bukan berarti harus mengalah, begitu kata-kata terakhir Bu Minda sebelum aku berangkat ke tempat lomba itu.

Di dalam lomba itu aku menemukan para pesaing yang hebat. Banyak di antara mereka telah berpengalaman dalam membacakan sebuah puisi. Jauh rasanya mendapatkan kata-kata”menang”ketika para pesaing membuat dewan juri tersenyum manis dan semua penonton bertepuk tangan.

Akhirnya setelah hampir seharian penuh mengikuti lomba itu, pengumuman para pemenang akhirnya dibacakan juga. Ketika salah seorang dewan juri menyampaikan hasil perlombaan ku dengar baik-baik, apakah nomor lot ku akan tersebut dalam penyampain dewan juri itu.

Setelah dewan juri selesai menyampaikan pengumuman para pemenang lomba baca puisi tak kudengar dewan juri membacakan nomor lot ku keluar sebagai pemenang. Aku terhempas. Tiada kata yang mampu mengalir dari bibirku. Aku merasakan sebuah goncangan. Sesaat setelah aku terhempas kata-kata Bu Minda yang mengatakan bahwa “Kalah itu bukan berarti harus mengalah” makin mengabut di jiwaku.

Aku berlari ke belakang pelataran parkir di dekat perlombaan puisi itu. Diam-diam aku menjatuhkan air mata. Namun tiba-tiba sebuah suara membuat aku mengahapus butir air mata yang jatuh perlahan ke pipiku dengan jemari.

“kalah itu bukan berarti harus mengalah”. Ibu tadi melihat kamu semangat kok dalam berpuisi. Aku hanya membalas dengan sebuah pertanyaan“Ibu tadi melihat Dodi ya saat tampil, tadi di sekolah katanya ibu nggak bisa datang ke sini karna banyak urusan!”. Bu Minda memelukkku seerat-eratnya dan memberikan sebuah ketegaran untukku.

Kamu sudah memberikan yang terbaik bagi sekolah kita, kata-kata Bu Minda yang terakhir ini membuat aku makin tegar berdiri di saat rapuh seperti ini. Bu Minda memberikan pelita dalam kegelapan hatiku saat ini.

Setelah lama mendapatkan pengajaran dari Bu Minda, aku makin bersikap dewasa dalam menghadapi semua persoalan yang menghadang. Bahkan pada suatu hari aku dihadapkan pada sebuah kenyataan yang amat pahit, aku belum melunasi Lima bulan uang sekolah yang nunggak, padahal kartu ujian bisa dibagikan setelah melunasi. Aku sangat cemas dam ketakutan ketika mengetahui bahwa aku tidak bisa mengikuti ujian, tidak hanya sekedar ujian biasa, itu adalah ujian semester, penentu apakah kita akan naik kelas.

Dengan memberanikan diri aku menemui Bu Minda dimejanya. Kulihat beliau sedang sibuk dengan tugasnya. Aku uraikan apa maksudku. Bu Minda hanya mengangguk-angguk pertanda mengerti dengan masalah yang sedang kuhadapi. Bu Minda mengatakan bahwa “hidup itu seperti roda pedati, dimana suatu saat kita berada diatas dengan artian menemukan kebahagian, terkadang berada di bawah, dengan artian kita pasti akan menemukan kepahitan.

Bu Minda hanya berkata seperti itu, tanpa menyebut-nyebut tentang kartu ujian. Setelah satu jam berlalu, aku yang sedang bingung dengan nasibku, apakah akan tetap bisa mengikuti ujian besok atau tidak hanya bisa tersenyum lega ketika Bu Minda menyodorkan kartu ujian ketanganku. Aku memeluk Bu Minda seerat-eratnya. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan telah memberikan seorang guru yang baik seperti Bu Minda. Sampai sekarang kata-kata mutiara yang diucapkan Bu Minda padaku masih kusimpan dalam hati sebagai prinsip hidup. Life must go on, salah satu moto Bu Minda yang kujadikan sebagai prinsip hidup.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s