True Story

Memorabilia 19 Tahun

Tuhan, kepada-Mu semestinya aku berterima kasih.

Selasa, 16 Oktober 2012, aku genap berusia 19 tahun. Aku amat senang, seperti biasa, berlimpah doa dari teman, sahabat, dan orang-orang terdekat. Aku nggak bisa bayangin, betapa bahagia diri ini kalau semua doa-doa itu dipeluk Tuhan, dinyatakan sebagai kebahagiaan untukku.

Ini kado dari Awin, gambar vektor yang aku suka banget….

Seperti biasa, momen pergantian usia adalah ajang evaluasi resolusi yang aku buat di usia sebelumnya. Dan, sekaligus menyusun draft resolusi baru yang siap dicapai sepanjang menjalani usia baru ini. Sebenarnya, aku tidak menganggap penting seberapa wah pencapain yang telah saya jalani di usia delapan belas tahun, namun memandang penting bagaimana aku bisa survive di tengah segala badai bencana, hiruk pikuk masalah, dan mampu tegar ketika ada rintangan. Menang di kompetisi ini dan itu, cerpen yang dimuat di majalah ini dan itu, mungkin masalah yang kalah penting dibanding usaha untuk mendapatkan semua itu.

19 tahun, selangkah lagi menuju titik kematangan kedewasaan, setidaknya menurut versi sebagian remaja. Teman-teman bilang, aku semakin matang. Usia ini, juga sekaligus menandai betapa saya semakin siap dengan rintangan terjal apapun, dan mampu menyikapi semua itu dengan kematangan berpikir dan mencari jalan keluar atas setiap persoalan.

19 tahun, menandai kehangatan persahabatan baru. Teman-teman di Jurnal, Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia 2011 yang merupakan keluarga baru yang selalu hangat. Kawan-kawan seperjuangan, sejawat yang melangkah bersama mendayuh sampan impian. Teman-teman UI-Padang yang menyempatkan membuat suprise yang meskipun pailit. Bagi saya, pailit tidak pailit suprise itu, menyempatkan waktu untuk memberiku suprise adalah kejutan yang lebih bernilai dari subtansi suprise itu sendiri. Untuk itu, aku ucapkan terima kasih, peluk dan cium untuk kalian semua…

Dan kali ini, aku mencoba mengevaluasi pencapain apa yang telah aku raih di usia 18 hingga 19 tahun kemarin. Tidak banyak yang berkesan. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan. Paling, cerita tentang begitu cepatnya waktu berjalan dan saat ini, tak terasa sudah semester tiga. Artinya, sudah hampir satu setengah tahun menjalani aktivitas sebagai mahasiswa. Syukurlah, meski jauh dari orangtua, dengan segala rintangan, masih bisa menjalani semua ini sebaik mungkin. Hal lain, mungkin perlu sedikit dibagi pengalamannya, aku jadi Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Pelajar. Ini kali kedua diberi kepercayaan memimpin sebuah media setelah jadi Pemimpin Redaksi Media SMANSA. Rasanya, jarang-jarang media dipimpin anak muda berusia 18 tahun ( di luar media sekolah). Lainnya, sebenarnya yang telah merangkum cerita sepanjang satu tahun setengah di Universitas Indonesia ini, ada dalam tayangan Kekuatan Cinta di Ujung Pena, yang tayang di DAAI TV Jakarta.

Sebenarnya, catatan ini telat lima hari dari hari jadi 19 tahun. Malangnya, di saat kondisi tak sehat, karena baru sembuh dari sakit, aku memaksakan diri untuk menulis notes ini karena sudah jadi tradisi. Lihatlah, kalau lagi sakit, betapa tidak berseleranya makan, pun menulis. Tapi, yang penting, tulisan ini tetap ada dan bisa dibaca di blog ini. Terima kasih. (*)

Iklan
Standar

2 thoughts on “Memorabilia 19 Tahun

  1. Thank you for some other fantastic post. The place else may anyone get that type of information in such
    an ideal approach of writing? I have a presentation subsequent week, and I am at
    the look for such information.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s