Remaja Malas Membaca! #Ciyus Miapah?

Rendahnya minat baca remaja, sebagai suatu persoalan, bukan lagi sebuah masalah yang aktual. Permasalahan ini telah lama diapungkan dengan berbagai keresahan banyak pihak yang menilai remaja malas membaca.

Hal demikian, pada skala tertentu dapat dimaklumi. Kenapa? Pesatnya kemajuan teknologi yang membuat kehidupan manusia terjebak dalam kehidupan yang serba digital, membuat kecendrungan remaja khususnya, menjadi malas bersentuhan dengan yang manual (katakanlah buku).

Buku sebagai benda manual, bagai dikesampingkan. Belakangan orang kerap mencintai yang digital. Berlama-lama di depan komputer atau laptop. Menghabiskan hari di depan televisi. Banyak remaja yang senang menghabiskan hari-hari untuk berselancar di dunia maya.

Seorang remaja (yang juga mahasiswa UI), tampak sedang membaca. Membaca adalah hobi yang semestinya dimiliki setiap mahasiswa sebagai kerja kaum intelektual (Foto: Aditya Rahmadi, Lokasi: Danau Universitas Indonesia)

Dampak yang timbul, waktu yang harusnya dialokasikan untuk kegiatan manual seperti membaca menjadi berkurang. Bahkan, nyaris tidak ada. Kehidupan digital tampak seperti menjebak remaja dalam perangkapnya. Begitu pula kecendrungan manusia melakukan aktivitas visual digital lainnya.

Keadaan dimana remaja malas membaca ini tidak hanya ditakuti sejumlah pihak seperti tokoh, kalangan intelektual dan para pemimpin saat ini. Tetapi, yang sangat patut mencemasinya adalah Indonesia. Bagaimana mungkin, Indonesia ini, sebagai negara berkembang akan maju bila remajanya malas membaca. Adalah hal nonsen, bila ada negara yang maju, tetapi rakyatnya tak suka membaca. Karena membaca, adalah bagian dari kerja intelektual. Tentu saja ini, akan berpengaruh terhadap eksistensi peradaban suatu bangsa. Bila remajanya malas membaca, sebuah negara itu akan punya banyak rakyat yang bodoh, ketinggalan zaman, dan tidak peka terhadap pembaharuan. Itukah Indonesia, wajahnya kini?

Soal minat baca remaja yang rendah, saya diingatkan rasa kegamangan yang dirasakan oleh sejumlah penulis menyikapi kondisi ini. Muhammad Subhan salah satunya. Penulis novel Rinai Kabut Singgalang itu sangat prihatin terhadap masalah rendahnya minat baca remaja.

Ikhwal minat baca remaja yang rendah itu, menurut Muhammad Subhan, bukan lagi sebuah opini. Melainkan sudah bagian dari fakta yang seharusnya tidak perlu ditutupi lagi. Subhan tentu saja sangat paham dengan kondisi ini. Sebagai pengelola rumah puisi Taufiq Ismail di kawasan Aia Angek, Padang Panjang – Sumatera Barat, ia tentu bisa membaca kondisi riil di tengah masyarakat sekarang.

Sebagai satu contoh kecil, Subhan pernah menyebutkan, banyak perpustakaan sepi dikunjungi remaja. Toko-toko buku juga demikian. Terutama minat baca pada buku-buku sastra. Hal itu juga tampak nyata di Indonesia, secara umum, dengan hanya diterbitkannya 10 ribu judul buku pertahun dan hanya diserap 1.000 judul oleh penduduk Indonesia yang jumlahnya 200 juta lebih. Rendah sekali minat baca masyarakat kita, bukan hanya remaja. Masalah ini, kata Subhan, juga diakui oleh penulis tersohor dengan karya Balada Si Roy, Gol A Gong, saat ia berdiskusi dengan Gol A Gong beberapa waktu lalu di Padangpanjang.

Menurut Subhan, minat baca yang rendah di kalangan remaja dilatarbelakangi atas banyak faktor. Diantaranya, pengaruh perkembangan teknologi khususnya televisi. Remaja senang berlama-lama duduk di muka layar televisi khususnya menonton sinetron dan tayangan infotainment, idol ini itu. Sehingga, menghabiskan waktu dan tak sempat membaca buku.

Pengaruh teknologi internet juga demikian. Remaja kurang suka lagi mencari referensi bacaan di buku, melainkan sering melakukan jalan pintas dengan copas (copy paste) sumber di google atau yahoo yang tentu saja belum tentu dapat dipertanggung jawabkan keakuratan data dan informasinya. Maraknya pemakaian handphone yang difasilitasi fitur-fitur semisal facebook, youtube, twitter, dll juga melenakan remaja. Bahkan, saking terlena, remaja terjebak menjadi pribadi yang asosial dan antipasti terhadap lingkungan.

Tapi, yang paling fatal menurut Subhan, remaja sekarang cenderung merusak bahasa. Lihatlah bahasa SMS atau status facebook yang mereka gunakan. Kadang, tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada yang menulis SMS begini: “Y4n6” untuk kata “yang” misalnya. Ada juga yang menulis status difacebook begini: eH, loE PaI Ka rUm4H 6Ua kInI yOe (eh, kamu datang ke rumah saya sekarang ya).

Ini bahasa apa? Alay kata remaja sekarang. Dan itulah yang sedang membudaya di kalangan remaja kita. Maka, ketika mereka mendapat tugas mengarang di sekolah, banyak remaja yang keteteran tak bisa menulis, disamping mereka juga sangat kurang membaca. Sebab, kecakapan menulis sebanding lurus dengan membaca. Ibarat dua sisi mata uang, membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan.

Menjawab hal itu, Subhan menilai, perlu mengambil beberapa langkah yang cukup urgen demi meningkatkan minat baca remaja yang semakin minim. Misalnya, di lingkungan keluarga, tanggung jawab terdekat harus dipikul orangtua. Budayakan membaca buku dan menulis di lingkungan rumah tangga. Tak salah seorang ibu atau ayah meninabobokan anaknya dengan membacakan buku dongeng, seperti yang dilakukan para tua di masa lampau.

Ia menambahkan, selain itu orang tua yang bergaji tetap tak salah menyisakan sedikit gajinya setiap bulan untuk membelikan 1-2 buku kepada anaknya sehingga si anak cinta buku. Pemerintah daerah harus memperkuat perpustakaan-perpustakaan daerah. Buat gedung perpustakaan daerah yang nyaman sehingga suka dikunjungi remaja. Sekolah-sekolah harus juga memiliki perpustakaan yang lengkap sehingga siswa bisa meminjam buku yang tak mampu dibelinya di luar. Di masyarakat, harus banyak sanggar-sanggar baca atau sanggar menulis. Dan, bila ingin memberi hadiah kepada teman atau seseorang, tak salah menghadiahkan buku sehingga dengan sendirinya si penerima hadiah akan terbiasa menerima buku. Banyak lagi solusi lainnya.

Sekonyong-konyong, saja jadi ingat puisi yang pernah ditulis oleh Bapak Taufiq Ismail pada tahun 1996. Sebuah puisi berjudul Kupu-Kupu di dalam Buku yang mendeskripsikan budaya membaca dimana-mana di sebuah kota, perhatikan petikan puisinya “Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api, di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa, kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku, dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang..”

Puisi ini membuat kita berandai-andai, kalau saja di Indonesia seperti.

Oh, alangkah indahnya. (*)

 

,

Iklan

4 comments

  1. Orang tua juga sebagai contoh yg di lihat anak harus memberikan teladan Salam me baca buku, sehingga anak juga mempunyai model yg bisa di contoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s