Jejaring Sosial: Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

Pemikiran seorang pimred sebuah majalah remaja terbitan Jakarta, membuat saya berkesimpulan bahwa untuk saat ini betapa berbahayanya jejaring sosial untuk kebanyakan orang khususnya remaja.

Betapa tidak, bahaya laten jejaring sosial mampu mendekatkan yang jauh, lantas menjauhkan yang dekat. Itulah kalimat yang belakangan kerap meraung-raung di kepala saya.

‘Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat’ betapa kalimat ini merefleksikan dampak dari jejaring sosial. Anda sekalipun bisa melihat ini dari pola dan tingkahlaku pengguna jejaring sosial yang kerap merasa bahagia dalam kehidupan maya, lantas mengabaikan kehidupan nyata di sekitarnya.

Di dunia maya, atau di situs jejaring sosial, banyak orang melakukan aktitivitas yang antara lain bertendensi ke arah bertukarnya informasi; melalui media itu kita jadi tahu apa yang dilakukan teman, sahabat, pacar, orang lain yang bahkan tak dikenali sekalipun.

Di media itupula, orang menuliskan apa aktivitas terkininya, menunggah foto-foto pribadi yang disengaja untuk dikonsumsi publik, menampilkan banyak hal tentang diri. Melalui kolom status atau pesan personal, orang menuliskan apa yang ia lakukan sekarang, berharap oranglain menjadi tahu apa yang ia lakukan.Serta merta, ada perasaan bahagia dan kepuasan tertentu, bila ada orang yang menjadi tahu karenanya, bahkan mungkin bila ada yang memberikan tanda jempol atau sekadar komentar.

Agaknya, inilah yang kemudian menimbulkan perasaan dimana orang merasa hidupnya lebih bermakna ketika membentuk suatu tatatan hidup yang baru di dunia maya. Mereka merasa bahagia karena ada yang memperhatikan dirinya di dunia itu.

Selain itu, merasa bahagia bila sesama pengguna jejaring sosial itu saling tahu, saling memberi komentar atau dalam taraf yang paling tinggi; melakukan obrolan maya (media jejaring sosial untuk ini antara lain; facebook, blackberry messenger, yahoo messenger, skype dll). Orang-orang yang berada jauh dari lingkungan dunia nyatanya, oleh media-media baru ini, menjadi dekat akibat komunikasi maya yang dilakukan. Sementara, orang-orang yang berada di sekitarnya di dunia nyata menjadi jauh akibat waktu yang kerap dihabiskan untuk berkomunikasi di media jejaring sosial itu.

Demikianlah mungkin, sang pimred media remaja itu menjadi berkesimpulan bahwa betapa bahaya laten dari media jejaring sosial ini membahayakan pranata kehidupan sosial di masyarakat. Media itu, tanpa disadari, melumpuhkan semangat hidup di dunia nyata lewat hilangnya kepekaan orang untuk hidup bermasyarakat pada lingkungan nyata sekitarnya. Orang-orang karena media jejaring sosial, menjadi enggan untuk peduli siapa yang ada di sekitarnya, bahkan juga mungkin menjadi acuh tak acuh pada apa yang terjadi di lingkungannya. Pada sebuah kehidupan di komplek perumahan atau di apartemen, orang-orang penghuninya bisa jadi mengenal orang di luar sana lewat jejaring sosial, tapi tidak tahu siapa orang yang menghuni rumah atau apartemen di sebelahnya.

Media jejaring sosial yang digandrungi banyak orang saat ini, tanpa disadari pula, membuat kita menjadi tidak produktif. Waktu-waktu yang seyogyianya bisa digunakan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat menjadi tersita karena merasa kebahagian yang dimunculkan lewat dunia maya, merasa membuat kita menjadi enggan untuk menghentikannya. Selain itu, bahkan juga membuat kita menjadi orang yang ingin hal-hal yang tak penting sekalipun dari diri kita diketahui oleh orang lain. Sedang lagi di kamar mandi pun, orang menuliskan statusnya di jejaring sosial, pun ketika sedang berada di toilet. Kebahagian bila ada orang lain menjadi tahu aktivitas terkini itu, membentuk pola pikir demikian pada pengguna jejaring sosial.

Hal lain yang menjadi bahaya laten jejaring sosial adalah; banyak penggunanya menuliskan status personal tentang doa pada Tuhan. Ada sebentuk harapan, doa dan kalimat-kalimat yang berbau penghambaan diri pada Tuhan juga dijadikan komoditi ekspose untuk kemudian dituliskan di status personal. Apa iya, kita mesti menulis doa-doa dan kalimat pengharapan pada Tuhan di situs jejaring sosial? Apakah Tuhan akan membacanya juga di sana? Tetapi, model berdoa di media sosial ini muncul begitu saja tanpa penggunanya berpikir bahwa padahal; cukup berdoa di dalam hati saja Tuhan juga akan tahu. Doa untuk Tuhan, semestinya tidak hadir dan dikonsumsi masif oleh sesama pengguna media sosial lainnya. Sekiranya, entah kebahagian apakah yang dicari oleh pengguna situs jejaring sosial ketika menuliskan kalimat penghambaan, doa-doa dan kalimat pengharapan pada Tuhan itu di jejaring sosial.

Selain itu, media jejaring sosial juga menjadikan kita kerap mengumbar kebahagian personal, berharap orang di seantero negeri menjadi tahu tentang kebahagian itu. Kebahagian pribadi yang semestinya cukup diketahui diri sendiri, melalui komunikasi maya di dunia media sosial, pada akhirnya membuat orang menjadi tahu bahwa si A saat ini sedang jatuh cinta, atau tahu bahwa si B saat ini sedang berliburan ke luar negeri, atau tahu si C bahwa dia saat ini dibelikan Blackberry tipe terbaru oleh Papanya.

Bila mungkin pengguna jejaring sosial itu berpikir secara kritis dan membuka wawasannya; apa iya mesti kebahagian pribadi juga dikonsumsi publik secara luas di dunia maya? Padahal, kebahagian yang cukup diketahui diri sendiri tidak harus dituliskan pula di jejaring sosial. Karena pada dasarnya, kebahagian cukup dirasakan sendiri di dalam hati, tanpa perlu mengumbarnya agar oranglain menjadi tahu. Mungkin, tulisan ini belum merangkum semua bahaya laten dari situs jejaring sosial. Tetapi, begitulah saya berpikiran bahwa saat ini, betapa Anda harus cerdas dalam menggunakan media-media tersebut.

(Dodi Prananda, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indonesia)

 

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s