Opini

Wajah dan Dosa Indonesia

Kadang, dalam suatu kontemplasi, saya sungguh tidak bisa menjawab: apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini?

Wajah Indonesia bila mungkin saya lukiskan ke dalam sebuah kanvas kosong, maka akan tampak seperti coretan tak beraturan. Bila bermain analogi, mungkin saya akan memilih kaset kusut sebagai umpama.

Kita hampir tidak bisa memalingkan diri dari apa yang kita baca di koran dan apa yang kita dengar dari televisi. Indonesia hari ini adalah perseteruan panjang mengenai kasus perseteruan KPK dan Polri, dua lembaga negara yang punya kapasitas. Tahu-tahu, duanya terlibat sengkarut yang berujung panjang. Saya mungkin tak perlu ceritakan kepadamu, karena saya sangat percaya kasus ini sudah kamu ketahui. Hanya saja, melalui tulisan ini, saya mencoba menuliskan kesedihan saya pada tanah air tempat saya dilahirkan. 

Hari ini, Rabu 10 Oktober 2012, semua media seolah bersuka cita dalam headline masing-masing. Kemarin malam, boleh jadi hari kemenangan semua rakyat yang merasa ‘aus’ akan harapan Sang Presiden akan menentukan sikap. Di tengah kemelut ini, negeri ini terasa semakin getir. Di kota ini dan di kota itu, ‘hawa’ kemaran terasa panas membakar semangat rakyat yang sejak dulu hampir tidak pernah percaya pada pemerintah. Kini, untuk kali yang saya malas menghitungnya, rakyat negeri ini menjadi sangsi pada ‘wajah bijaksana’ empu pemerintahan negeri ini, orang nomor satu yang harusnya bisa tanggap segera untuk meluruskan kusut yang ada di tubuh dua lembaga negara.

 

Sebelumnya, media massa menyuguhkan bentuk desakan rakyat terhadap kelambanan Presiden dalam mengambil sikap. Rakyat sudah terlanjur muntah: muntah di jejaring sosial menunggu hari perayaan kemenangan, muntah untuk segera menunggu Presiden yang seperti bersembunyi, muntah untuk meninginkan Presiden gerak cepat, tidak melulu menunggu dan menunggu di saat situasi semakin runyam. Sementara itu, pahlawan pemberantas korupsi, KPK, terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Rakyat berada di lini yang tepat, membantu lewat dukungan bagi KPK agar tak gentar dengan badai apapun yang siap menerjang. Siap membasmi orang dengan seribu topeng, yang siap memporak-porandakan apa yang selama ini telah KPK perjuangan: membasmi korupsi hingga ke akar!

Akhirnya, suara rakyat didengar. SBY menentukan sikap. Kasus yang menjerat Djoko Susilo terkait pengadaan Simulator SIM tersebut diserahkan sepenuhnya kepada KPK. Rakyat bersukacita. Dengan demikian, pahlawan yang selama ini diagung-agungkan, siap berada di lini depan. Boleh jadi, dengan kesimpulan lain, sirine kemenangan rakyat dibunyikan. Tapi, apakah semua selesai sampai di sini? Tidak!

 

Banyak hal janggal di negeri ini. Saya kadang merasa aneh. Lihatlah, bungkusan politik pencitraan (yang kadang busuk, kadang memuakan) adalah hal yang selalu menjejali kita setiap kali berhadapan dengan wajah perpolitikan Indonesia hari ini. Kita menjadi sulit menemukan (dan selalu merindukan) orang-orang yang mampu menjadi ’empu pemerintahan’ yang tak lagi menjadikan politik pencitraan di atas segala kezaliman, kebohongan, kepalsuan sebagai cara untuk memuaskan nafsu pada kekuasaan. Sayangnya, negeri ini kelangkaan orang-orang yang seperti demikian.

Apa hal janggal lainnya? Ini, sekedar bercerita dari apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar. Kasus mengenai KPK dan Polri saja misalnya. Negeri ini seperti salah melangkah, hilang arah, atau mungkin tersesat di jalur yang tak semestinya di tempuh. Di mana masalah yang tak semestinya menjadi masalah, muncul merusak kemajuan negeri ini. Akhirnya, masalah-masalah ini yang kerap membuat negeri ini semakin tertinggal dari negara lain. Kita (Indonesia) sibuk dan disibukkan dengan urusan yang padahal tak semestinya ada. Cobalah pikir, kalau antara satu lembaga negara dengan lembaga negara lain saling berpegangan tangan, seiya-sekata beriringan, menatap ke depan, mengabulkan impian (rakyat) menjadikan negeri ini menjadi negeri yang aman, damai, sentosa dan alot dalam menghadapi perubahan untuk kemajuan, mungkin tak perlu ada waktu untuk mengurusi masalah semacam ini. Mungkin negara ini bisa mengejar ketertinggalan yang justru semakin jauh dari negera tetangga.

Lucunya, permasalahan sepert yang saya maksud,  kadang berlarut. Cobalah tengok wakil kita di Senayan, untuk masalah kehadiran saja, geram rasanya hati ini dibuatnya. Dulu, sekitar bulan Agustus yang lalu, saya juga dibuat geram dengan pemberitaan media tentang absensi sebuah Kementerian negeri ini. Konon diberitakan, mereka yang diamanahkan mengurusi kementerian itu memiliki persentase kehadiran tertinggi dan seperti merasa berbangga hati. Sinting gak sih, loh, wong itu tugas dia buat datang kerja, ngurusin itu, di gaji sama negara, lah, kenapa untuk datang pasca libur lebaran saja mesti harus diperingatkan? Bukannya itu tanggung jawab mereka, kenapa harus ikut pula campur tangan  (rakyat) untuk membantu mereka biar hadir dan nggak absen? Gendeng!

Nah, problem-problem macam inilah, yang saya bilang, dosa bagi Indonesia. Tak seharusnya, masalah semacam ini terulang lagi. Negeri ini masih terlalu banyak pr-pr yang lain, yang mesti dikerjakan. Bukan membuang-buang waktu, untuk masalah yang menguras perhatian, menguras kesempatan bagi negeri ini untuk berdiri di depan, di garda terdepan, untuk memimpin negara lain. Sayangnya, ini hanya mimpi yang hanya akan ditulis dalam catatan harian negara ini. Negara yang sama-sama kita cintai.

 

 

 

 

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s