Tulisan Lepas Non Fiksi

Proses Kreatif Buku Puisi Musim Mengenang Ibu

Ide membukukan puisi-puisi lama ke dalam sebuah buku puisi tunggal, muncul tiba-tiba tanpa ada persiapan. Tanpa saya sadar, mungkin ini berkat dorongan teman-teman yang berharap saya meluncurkan buku. Minimal, mempertemukan puisi-puisi, membuat acara ‘reuni’ bagi naskah puisi yang sempat dimuat di sejumlah media ke dalam sebuah buku.

Cover Buku Puisi Musim Mengenang Ibu

Dorongan ini membuat saya kembali membongkar-bongkar naskah puisi lama. Syukurnya, saya masih menyimpan semua file dengan baik. Baik naskah puisi yang dimuat di media maupun manuskrip yang tertidur pulas dan nyenyak di folder berjudul Naskah Puisi yang Belum Menemukan Takdirnya. Sementara itu, puisi yang telah menemukan takdirnya di Singgalang, Haluan, Majalah Say, Jurnal Bogor, Tabloid Gaul, Tabloid Keren Beken telah saya persatukan dalam sebuah file.

Ini perkara kedua, persoalan yang juga tak saya sadari. Kenapa hampir semua puisi ini punya benang merah yang sama; ibu, ayah, cinta, jakarta. Bila dicermati, kata-kata ini hampir tersebut dalam setiap puisi. Apa ini sebuah repitisi? Tapi, di luar kecemasan saya soal puisi yang hampir membahas tema serupa, saya sebenarnya merasa belum pantas membukukan puisi-puisi ini. Karena selain belum matang (dalam menulis puisi), saya juga masih belum banyak membaca karya-karya puisi penyair besar. Belum juga menerbitkan puisi di media-media kenamaan, media-media yang menjadi barometer bagi sejumlah penulis puisi untuk disebut sebagai seorang penyair. Karena itu, untuk menghormati para penyair yang karyanya sudah wara-wiri namun belum bikin buku, saya tak mau menyebut ini sebagai sebuah Kumpulan Puisi. Saya hanya menamai ini sebagai album puisi, album yang setidaknya boleh berkata; sang empu kata, punya hobi menulis puisi. Tak ada tendensi apa-apa. Hanya benar-benar atas dasar satu alasan; iseng dan coba-coba. Kebetulan, saya menemukan sebuah penerbit Indie yang sekiranya bisa mengabulkan harapan sederhana ini.

Bila boleh berterus terang, saya merasa lebih nyaman menulis cerita pendek. Dalam cerita pendek, imajinasi dan ekspresi saya jauh lebih diwadahi dalam ruang yang luas. Bila menulis cerita pendek, saya seperti diberi kanvas berukuran besar, dan saya dengan leluasa menuangkan gagasan besar ke dalam ruang ini. Saya merasa diberi kebebasan untuk nakal, bermain-main, dan bereksperimen. Dibanding puisi, alih-alih ingin menciptakan karya yang punya gebrakan, saya justru merasa mandek dengan ide. Puisi-puisi yang saya tulis rasanya hampir sewarna, maksudnya, nyaris tidak ada variasi. Tidak ada eksperimen yang bisa dijual. Bila penulis berhak mencaci karyanya sendiri, maka saya akan caci karya itu dengan the flat poem.

Tapi, bila saya periksa lagi satu persatu naskah itu, saya merasa bahagia. Ada beberapa puisi yang saya suka. Merasa berhasil menuliskan rasa. Meski ratusan puisi yang termaktub dalam Musim Mengenang Ibu adalah sebuah buku atau karya coba-coba, saya merasa, beberapa puisi ada yang sekiranya patut dan layak mendapat apresiasinya. Di luar itu, boleh dibilang, puisi-puisi yang gagal.

Sejak saya rilis bulan Februari lalu, Musim Mengenang Ibu syukurlah direspon positif. Banyak teman-teman sejawat, khususnya yang pernah satu sekolah, merasa berbahagia bisa membaca puisi saya dalam suatu buku. Setidaknya, mereka tak perlu repot-repot melacak puisi-puisi saya yang pernah tampil di koran. Tak hanya teman sekolah, rekan-rekan di jurusan Ilmu Komunikasi secara khusus dan FISIP UI secara umum juga ikut mengapresiasi. Mereka merelakan uang mereka sebanyak Rp. 38 ribu, menukar uang itu menjadi sebuah buku puisi (yang dalam kacamata pesimis, saya sebut buku puisi gagal).

Lebih senang lagi, ketika Dosen Teori Komunikasi saya, Mas Firman Kurniawan, menyambut hangat mahasiswanya yang berkarya. Atas nama penulis buku ini, saya mau mengucapkan terima kasih untuk Bapak, yang sudah bersedia membaca, memberi komentar dan menghadiahkan saya dengan sebuah buku puisi ciuman karya Agus Noor. Setidaknya, ini adalah motivasi untuk terus belajar dan belajar menulis puisi yang lebih eksperimentif dan puisi yang menawarkan suatu yang baru.

Suatu hari, teman saya, Setyo Manggala yang juga membeli buku ini membawa buku ini ke kelas Perkembangan Media Massa Indonesia. Bang Ade Armando yang kala itu melihat buku itu, setelah Setyo ‘Uta’ mengeluarkan buku dari tas, bertanya, itu buku apa. Singkat cerita, Bang Ade ikutan mesan buku ini. Saya serahkan langsung kepada beliau dan beliau tak mau uang kembalian diserahkan kepadanya. “Saya senang kamu nulis buku,” katanya. Makasih ya Bang Ade, sudah bersedia membeli.

Loh, kok, ini jadi malah terima kasih-terima kasih. Oya, sebelum masuk soal proses kreatif, pokoknya mau ngucapin kepada seluruh teman yang sudah bersedia membeli buku ini.

Kembali soal proses kreatif, jadi puisi-puisi yang termuat dalam buku Musim Mengenang Ibu ini adalah puisi-puisi saya sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2011. Seperti yang saya bilang di atas, puisi yang ada di buku ini, tak semua puisi baru. Hampir seluruhnya, puisi lama.

Kenapa menulis puisi? Mungkin ini pertanyaan yang tepat diajukan kepada saya yang masih meraba-raba gaya dan warna puisi. Pertama, kalau masih diberi kesempatan menjawab, karena terlalu banyak rasa hidup yang membuat saya bergairah menuliskannya. Kadang, ada rasa hidup yang lebih pantas dipuisikan ketimbang dijadikan cerpen. Coba lihat puisi-puisi yang bertema Ibu, itu adalah nangis cengeng saya sendiri karena merasa menjadi orang yang paling bersedih di muka bumi karena kehilangan ibunya. Tapi, saya salah, karena lupa melihat sekeliling. Ternyata oh ternyata, kesedihan adalah hak dan milik setiap orang. Coba balik-balik lagi puisi yang menyoal Jakarta. Hampir semua puisi-puisi itu ditulis di mall lewat notes di Smart Phone saya, antara lain di Grand Indonesia atau Central Park. Itu adalah hasil membaca manusia.

Seperti para pekerja seni yang lain, khususnya penulis, adalah mereka-mereka yang sangat mencinta hal satu ini; mengamati orang lain. Begitu juga diri saya. Puisi-puisi yang termuat dalam Musim Mengenang Ibu merupakan kerja keras saya setelah membaca manusia dan menjadikan apa yang saya lihat, apa yang saya dengar dan apa yang saya amati menjadi puisi. Jadilah, sejumlah puisi yang terkesan menertawai kehidupan di gemerlapan Jakarta, banyak juga puisi yang memberi banyak imajinasi-imajinasi saya akan kota ini, kota yang dulu sempat saya tulis dalam memori sebagai kota yang penuh dengan milyaran Imajinasi.

Nah, begitulah, akhirnya lahir buku Musim Mengenang Ibu. Sebenarnya saya malu, buku ini muncul. Di dunia kepenulisan puisi (saya enggan menyebut dunia kepenyairan karena merasa tak ada apa-apanya dalam menulis puisi), saya masih sangat awam, sangat buta  puisi dan let’s say anak bawang. Tapi, bila karya anak bawang ini diapresiasi, tentulah, saya akan senang! (*)

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s