Kupu-kupu di Dalam Kamar

Cerpen Dodi Prananda, SINGGALANG Minggu, 16 September 2012

Bila mungkin ada alasan kenapa aku menyenangi binatang bernama kupu-kupu, bukanlah semata karena kekasihku juga bernama Kupu. Aku menyenangi kupu-kupu justru karena, kupu-kupulah sumber inspirasiku selama ini. Sejumlah lukisan hasil karyaku yang diminati banyak orang; antara lain karena di dalam lukisan itu, ada objek kupu-kupu. Cantik, indah dan menawan, mungkin juga seperti Kupu yang kini sedang mengetuk pintu.

Perempuan bernama Kupu itu muncul dari balik pintu kamarku. Ia mengenakan gaun selutut yang dipakainya tadi sore ketika ia memintaku untuk melukiskan dirinya. Ia tak lagi indah menggunakan gaun itu.

Ilustrasi foto oleh Denny Chandra

Ia cukup berantakkan ketimbang penampilannya tadi sore. Bedaknya barangkali sudah menyatu dengan keringat yang turun satu-satu dari dahinya. Rambutnya mungkin sudah dipermainkan oleh angin malam sehingga tampak acak-acakkan dan tak rapi. Bagian bawah gaun yang terbuat dari kain satin itu tak lagi meliuk-liuk genit ketika ia berjalan. Bau parfumnya juga tak terlalu jelas lagi di hidungku.  Padahal, ketika tadi sore ia datang ke rumahku, aku mengendus bau parfum aroma melati itu yang menguar begitu kuat di dalam kamarku. Bahkan mungkin bau parfum itu sampai ke langit-langit kamar.

Dengan bola mata yang kaku bercampur tegang, ia menatapku. Ia raih lenganku. Ia ambil kuas lukis dari tanganku dan menyuruhku meletakkan kuas serta cat minyak itu di atas meja. Adakah sesuatu penting yang harus diselesaikan malam ini? Aku bertanya-tanya dalam hati.

Setengah berlari, Kupu menuju beranda rumahku. Tapak sepatu hak tingginya yang bergesekan dengan lantai rumahku terdengar sampai ke telingaku. Langkah kakinya bisa kurasakan. Ada sesuatu yang barangkali harus digegaskan malam ini juga.

“Aku sudah memilih untuk putus darimu…,” katanya.

Aku terkejut bukan main. Seluruh darah yang mengalir di ubun-ubun dan seluruh tubuhku bagai mendadak berhenti sejenak. Apa yang baru ditangkap oleh indera pendengaranku seolah seperti mimpi. Aku cukup merasa sadar atas perkataan itu. Tak ada alasan bagiku untuk mengatakan ini adalah sepotong mimpi buruk.

Wajahnya ada dalam secangkir kopi yang ada di hadapanku. Bahkan mungkin wajahku juga ada dalam secangkir teh yang ada di hadapannya -entahlah. Sambil membuang pandang, ia biarkan dirinya tenggelam dalam musik instrumet Kenny G, Forever In Love, yang begitu membuat malam putusnya cintaku ini menjadi bertambah memilukan. Musik itu kusetel dengan bunyi yang pelan dan lembut, sehingga terdengar mendayu-dayu.

Beranda rumahku memang terlalu lengang. Bertambah lengang ketika mataku dan mata Kupu saling bertautan. Kami saling diam. Saling tidak peduli satu sama lain. Hanya musik instrumen itu yang lebih berkuasa menyanyat-nyayat kesepian yang dingin.

“Aku sudah memilih untuk putus…”

“Kenapa? Ada apa? Bukankah tidak ada masalah dalam percintan kita…”

Kupu hanya diam. Ia tidak punya jawaban atas tanyaku itu. Mungkin ia larut dalam lagu itu. Tapi, sorot matanya yang kaku seolah ingin menyampaikan beberapa potong kalimat yang mungkin masih ia simpan dengan baik di benaknya. Ada apa gerangan, Kupu, kekasihku datang pada malam ini hanya untuk mengatakan kalau ia ingin putus dariku.

Kudekati tubuhnya. Kutatap lekat wajahnya. Mulai dari mata hingga ujung kakinya. Adakah mungkin perempuan yang ada di depanku ini sedang bermimpi sedang mendatangi rumahku? Mungkinkah ia sedang bercanda atas kata-kata yang baru saja mengalir dari bibir yang dipoles dengan lipstik merah pekat itu?

Dengan perasaan gelisah tak menentu yang bercampur aduk dengan ketidakmengertian ini, aku tinggalkan Kupu di beranda seorang diri. Kubuatkan untuknya secangkir teh dan secangkir kopi untukku. Lalu kuhidangkan untuknya.

Ia hanya lebih peduli pada sebuah ketakutan yang mungkin bersembunyi dalam tubuhnya. Sehingga ia terlihat gugup dan barangkali cemas setelah melontarkan kata itu. Kalau-kalau saja, setelah ia menikmati teh buatanku ini, ia akan tenang dan mau diajak untuk bicara. Tapi berjam-jam kutunggu. Ia hanya tercenung. Ia menikmati lagu sunyi dalam kesepian beranda rumahku. Seolah enggan memahami rasa galau yang bersarang dalam diriku. Aku sudah berkali-kali memancingnya untuk mulai bercerita. Tapi tak juga bergerak bibir yang manis itu. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menunggu Kupu berbicara.

Malam semakin larut. Meski tak begitu kugubris, baru saja jam dinding dari dalam rumahku berdentang sebelas kali. Tapi, perempuan di sampingku ini enggan juga mau menggerakkan bibirnya untuk bercerita.

Kepalanya mendongak ke arah langit. Seolah membaca sesuatu. Menghitung bintang. Merasakan dinginnya malam yang kaku. Atau bisa jadi ia sedang merangkai kalimat terakhir untuk perpisahan ini.

Baru saja, ia meraih telinga cangkir yang ada di hadapannya dan menghirup wangi teh panas itu. Perlahan ia nikmati. Ia resapi bersamaan dengan sang bayu yang mengelus lembut rambutnya. Ia dekapkan bibir cangkir bergambar pelangi itu ke bibirnya. Lalu ia teguk cepat. Sesaat ia memandang ke arahku. Agak sedikit ragu, ia raih tanganku. Pikirku, ia akan menjadikan ini sebagai pegangan tangan yang terakhir kali sebelum kami benar-benar berpisah.

Lalu kurasakan sesuatu benda ia letakkan diatas telapak tanganku. Dengan cepat, tanpa ada kalimat perintah yang melesah dari mulutnya, ia bungkus tanganku dengan sebuah isyarat untuk mengenggam. Dalam malam ini, aku mencium bau kegalauan hati yang tidak beralasan. Aku tahu yang ada dalam genggamanku adalah cincin yang pernah kuberi untuknya sewaktu kami berliburan ke pantai Kuta.

Mulutnya mendekat ke telingaku. Barangkali ia akan membisikkan sesuatu. Benar saja, kurasakan napasnya yang seperti memburu di telingaku. Tapi, masih bisa kurasa lewat perfumnya, perempuan yang di sampingku ini adalah perempuan yang sudah kucintai semenjak sepuluh tahun yang lalu.

“Maafkan aku harus mengakiri kisah cinta di sini. Ternyata kau lebih cinta pada kupu-kupu ketimbang aku,” ujarnya.

Aku semakin tak mengerti. Ia meraih tas warna merah jambu miliknya. Lantas bergegas pergi meninggalkan diriku sendirian dibunuh oleh kekecewaan. Kupu menghilang diantara kabut malam yang tipis.  Tak pernah lagi kudengar kabarnya setelah pertemuan terakhir malam itu.

***

Kalau saja tak ada malam itu di dunia ini, pasti aku tidak akan sendirian. Aku yakin, seandainya pada hari itu sore akan langsung berganti menjadi pagi, pasti Kupu tidak akan pernah mengucapkan kata putus. Kata-kata putus itulah yang telah menyelimutiku dalam kesepian.

Tak pernah kurasakan kesepian seperti ini di kamarku. Kesepian setelah ditinggal putus kekasih betul-betul membuatku bertambah sepi. Mulutku bungkam. Aku tak punya banyak bahan obrolan hari ini. Kalaupun ada, aku tak tahu harus kepada siapa membagi bahan obrolan ini. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Selain Kupu dan ibu, tak ada yang pernah menghadirkan kegembiraan di kamar ini. Dulu, hanya ibu yang sering melintasi kamarku. Meskipun tidak masuk ke dalam, aku tahu ibu sedang berada di depan pintu. Tanpa perlu aku berkata, ibu sudah tahu apa yang sedang kukerjakan di dalam kamar. Aku akan membalas senyum ibu ketika ia membuka sedikit celah dan menyembulkan kepalanya pada celah itu.

Tapi, setelah putus dari Kupu, aku hanya menghabiskan hari-hariku di dalam kamar. Tak begitu kuketahui dengan jelas, apakah di luar sana ada pergantian hari. Gorden kututup rapat-rapat tanpa membiarkan sedikitpun celah. Sehingga tak ada sedikitpun bias cahaya masuk ke dalam kamarku. Aku tak lagi mengenali waktu. Aku tak peduli pada almanak yang sudah kucabut dari kamarku dan seluruh mesin penunjuk waktu kutanggalkan. Aku benar-benar tak ingin mengingat hari ini adalah hari keberapa setelah putus dari Kupu.

Cat minyak, kuas dan kanvas terayak sembarangan di dalam kamar. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan melukis sampai aku benar-benar bisa bertemu dengan Kupu.  Lalu, lukisan-lukisanku tak lepas dengan gambar kupu-kupu. Ibu juga heran, betapa perpisahanku dengan Kupu telah menyulap diriku menjadi lelaki yang aneh.

Seluruh dinding kamarku, kutempeli dengan lukisan-lukisan. Hatiku kian berkecamuk. Dimana sekarang perempuan bernama Kupu itu berada? Aku betul ingin berjumpa kembali padanya untuk meminta ia menjadi kekasihku kembali. Tapi, setelah cukup lama tak pernah keluar dari kamar ini, aku tak lagi mengenali dunia luar.

Dan pada suatu hari yang tak kumengerti, aku melukis kupu-kupu. Binatang indah dengan dua belah kepak sayap mungil yang indah. Gambar-gambar itu kerap kali kulukis, dan cukup indah. Kadangkala, ibu masuk kamarku dan melihatku mengerjakan lukisan kupu-kupu yang lain. Dan ibu kerap kali, kembali bertanya singkat saja seperti biasa.

“Apakah yang kau lukis itu kupu-kupu?” tanya Ibu pelan.

“Tentu saja, sudah lama aku ingin bertemu untuk mengecupnya. Sudah lama aku tak bertemu dengan dia untuk mengucapkan kalimat sayang, tapi sungguh sayang Ibu, ia sudah menuduhku berselingkuh dengan kupu-kupu…” balasku

“Tapi, kenapa bentuk kupu-kupu seperti itu?” tanya Ibu lagi.

“Mungkin suatu saat nanti  Ibu akan tahu artinya….”

Setelah hari berganti meski aku tak menghitungnya, enam atau sepuluh lukisan yang sudah kuselesaikan. Gambar-gambarnya tak lepas dari kupu-kupu. Hari ini, aku berhenti melukis. Aku cukup bosan dengan lukisan-lukisan itu. Ingin aku coret-coret gambarnya. Aku benar-benar muak. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang yang seprainya sudah tanggal dan acak-acakkan. Langit-langit kamarku penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Aroma khas cat minyak ini tercium keras dipenciumanku. Kamarku mungkin tepat kusebut sebagai gudang lukisan daripada harus kusebut sebagai kamar. Tapi aku tetap menyukainya.

Terlebih hari ini, aku menemukan keganjilan dalam kamarku. Entah dorongan darimana, dan seperti bukan aku yang menggerakan tubuh ini, aku membuka gorden untuk  memandang dunia luar. Kontan sinar matahari menerebos nakal dan mencuri-curi masuk dari celah itu. Tentu saja sinar itu mengenai lukisan-lukisan yang terpasang di dinding. Aku baru bisa melihat hasil lukisan-lukisan secara jelas setelah kubiarkan sebentar saja sinar matahar itu merembes masuk.

Cepat-cepat kututup kembali. Lantas, betapa terkejutnya aku ketika kupu-kupu dalam lukisan itu menyembul dari dalam lukisan dan kupu-kupu itu berterbangan di atas kepalaku. Kupu-kupu itu keluar dari seluruh lukisan yang kugantungkan di dinding. Tak jarang kupu-kupu itu menukik di atas kepalaku, lantas terbang lagi dengan sayap yang indah.

Untuk beberapa saat kamarku tak ubah seperti sebuah taman kupu-kupu. Sedang aku adalah seorang kekasih kupu-kupu. Tanpa kusadari kupu-kupu itu bertambah banyak, keluar satu persatu dari satu lukisan, begitu juga dengan lukisan yang lain. Tak bisa kuhitung berapa jumlahnya. Bahkan, kupu-kupu memenuhi seisi kamarku.

Lalu, kupu-kupu yang jumlahnya mungkin seribu itu bersatu menjadi satu. Sayap-sayapnya lenyap. Hanya tinggal satu kupu-kupu dengan ukuran yang besar berada tepat di hadapanku. Kaget aku ketika mendapati besarnya seukuran dengan besar tubuhku.

Lalu, kupu-kupu itu menjelma menjadi manusia. Ia tersenyum ke arahku. Sambil melirik manja, ia mengedipkan matanya padaku. Dan aku pun mencoba membalas senyumnya yang terasa sangat hangat. Senyum yang telah lama kurindukan.

Oh, rasanya, sudah lama aku rindu bercinta dengan dia…***

Depok, 25 Oktober 2011

*Memohon kritik dan komentar 🙂

Iklan

5 comments

  1. […] Inilah 5 Manfaat Tersembunyi dari Tidur SiangRohis bukan sarang pembentukan terorisSekilas tentang Sterilisasi dan DisinfeksiA Sociologist’s Adventures in Social Media LandRawi WahyudionoPaceklik means time to think.CNBLUE Lee Jonghyun Tak Bisa Lepas Dari Naskah Drama ‘A Gentleman’s Dignity’Pasar Turi Ludes Dilalap Si Jago MerahKupu-kupu di Dalam Kamar […]

  2. […] A Sociologist’s Adventures in Social Media LandWalks AwayHidup Dengan, Dalam dan Untuk KemuliaanKarno Tanding 3/7 – Ketidakmampuan Mengendalikan Diri dan Emosi, Mengantarkan Dursasana Kepada Kematiannya Yang Tragis » Adi Tri BlogBerbisnis Di Usia Muda***Suratul Fatehah*** BEKERJA DALAM TIM HARUS DENGAN VISI YANG SAMATasawuf: Mazhab CintaKupu-kupu di Dalam Kamar […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s