Story Behind (Story) : Profil Dodi Prananda di Jurnal DA AI (DA AI TV Jakarta) (Part.2 – Selesai)

September, 2012

Walau sudah bermukim di Jakarta setahun genap, saya bahkan jarang bertemu Kak Ai langsung. Saya tahu, ia begitu sibuk dengan tugas wartawannya. Tapi, sesekali, saya masih berkirim SMS. Masih bertukar kabar dengan Kak Ai. Hingga pada suatu hari, tim dari DA AI TV kembali ‘tanya-tanya’ tentang saya. Waktu itu, Kak Noli yang bertanya lewat telepon tentang perkembangan aktivitas saya selama setahun menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia.

Saya bersama Kak Ai seusai pengambilan gambar di FISIP

Saya ceritakan semuanya. Di seberang, ia mendengar serius sambil mencatat. Ia bahkan tidak memotong dan membiarkan saya terus bercerita. “Kami ada rencana ingin kembali menayangkan profilmu, tentang bagaimana kamu survive di kuliah,” katanya.

Terang saya bahagia. Tapi, sedikit kecewa karena kemana menghilangnya Kak Ai. Kenapa tak Kak Ai lagi?

Tuhan mendengarnya. Kak Ai mengambil alih tugas yang sebelumnya dipercayakan kepada Kak Noli. Tapi, kali ini, Kak Ai tidak bersama Mas Acul lagi, karena doi sudah resign ke KOMPAS TV. Kali ini, Kak Ai bawa temen baru yang sebelumnya pernah diperkenalkan ke saya ketika Kak Ai ada liputan wawancara dengan Sejarawan UI di Fakultas Ilmu Budaya. Namanya Bakti. “Aku manggilnya OmBak,” kata Kak Ai. Pun aku ikutan-ikutan memanggilnya Ombak.

Minggu, 9 September 2012 pengambilan gambar pun dimulai. Kak Ai bersama tim janji bakal sampai di Fakultas Teknik pukul 9. DA AI TV tepat janji. Saya menemui mereka di Halte Teknik dan lantas menuju Danau UI untuk pengambilan gambar pertama. “Kita bakal full direct, esok akan full ngambil gambar kamu di kampus. Kalo hari ini di outdoor,” kata Ombak. Karena Minggu pagi wilayah danau dan Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia sangat ramai, akhirnya diputuskan ngambil gambar di Taman Rektorat. Udara Minggu pagi sangat sejuk di area teman, walau matahari nyaris tegak lurus dengan bumi .

Di bawah teduhnya pohon-pohon di Taman Rektorat, pengambilan gambar dimulai. Kak Ai mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Saya jadi terkenang, ketika pertanyaan-pertanyaan tentang diri saya diajukan. Saya jawab sebisa saya. Pun pada hari itu. Tapi, saya merasa ada yang berbeda. Jawaban yang keluar dari mulut saya saat itu, hari itu, saya rasakan berbeda. Saya merasa selama dua tahun berlalu, banyak pengalaman hidup yang bertambah. Banyak hal yang berubah.  Pun perasaan.

Tapi, tidak dengan Kak Ai. Suara khasnya masih sama. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan, masih sama semenggelitik yang dulu. Semangatnya pun juga sama.

Sesi pertama selesai pukul sebelas lewat. Saya, Kak Ai, Ombak dan driver menuju Kosan saya di Kukusan Teknik. Karena pake mobil, kami melewati jalan belakang – via Srengseng Sawah – dan kami juga melewati lokasi bom Beji Depok di kawasan Nusantara Depok. Di kosan, beberapa gambar di ambil. Antara lain aktivitas saya di kosan. Gambar tentang pajangan-pajangan piala dan plakat saya di kamar. Buku-buku saya. Poster 100 mimpi saya dan semua yang di ada di kamar. Selain itu, kedatangan Irfan Sael Perdana, Welan Mauli Angguna, dan Bang Alfajri Putra turut membantu pengambilan gambar ini. Ada scene dimana kami semua berkumpul di kosan untuk bercerita bersama. Saling mengobrol. Saling tertawa dan bercanda.

Bersama Om Bakti (Ombak)

Esok harinya, pengambilan gambar dilanjutkan. Pagi, pukul sembilan, pengambilan gambar dilanjutkan. Kali ini pengambilan gambar di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Ada beberapa take ketika saya ‘disetting’ membaca buku (ya, gpp sih, soalnya di realita, saya juga melakukan demikian) dan beraktivitas membaca di sana. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengambilan gambar di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Selesaikah? Belum!

Kali ini, gambar saya sedang belajar di kelas. Hari ini, Senin, 10 September 2012 pukul 11.00 adalah waktunya mata kuliah Meliput dan Menulis Berita 1. Saya pikir, saya bakal berhadapn dengan Bang Mimar. Rupanya tidak. Kali ini bersama Mbak Meily. Kak Ai mohon izin. Mbak Meily memang baik hati, ia mengizinkan. Ombak pun ikut masuk kelas. Mengambil momen saya sedang belajar. Tak lupa hari itu, saya harus berterima kasih kepada seluruh teman-teman Jurnal yang bersedia membantu kealotan pengambilan gambar ini. Bahkan hari itu, masih banyak spot-spot yang dijadikan tempat pengambilan gambar untuk mendukung seluruh full direct demi pembuatan sebuah profil yang oke.

Inilah sedikit cerita dibalik cerita. Cerita yang mengingatkan saya dengan kalimat yang pernah disebut Muhammad Iman Usman; hidup ini seperti buku. Dan bagi mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan, mereka hanya membuka satu halamannya saja…

Depok,14 September 2012

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s