True Story

Story Behind (Story) : Profil Dodi Prananda di Jurnal DA AI (DA AI TV Jakarta) (Part.1)

Tahun 2010

Saya hanya ingin sedikit membagi cerita. Membagi cerita dibalik cerita…

Mungkin, ada di antara kalian yang masih mengingat, tahun 2010 silam, profil saya dimuat di Jurnal DA AI, sebuah program berita human interest di DA AI TV Jakarta dan Internasional. Saat itu saya masih SMA. Saya masih duduk di kelas dua SMA 1 Padang. Tepat beberapa bulan pasca Gempa 30 September 2009 yang mengguncang Sumatera Barat.

News Presenter: Sumboko (Dok.Pribadi)

Seorang Reporter bernama Endang Wulandari dan seorang Camera Person bernama Syamsul datang bertugas ke Padang. Ingin merekam keseharian warga Padang setelah luka bekas lindu itu tak lagi menghantui. Anak-anak sekolah sudah kembali ke sekolah masing-masing walau tak sedikit sekolah mereka hanya bersisa puing-puing. Mereka belajar di bawah naungan tenda. Semangat mereka masih berapi.

Dok.pribadi

Saat itupula, dua orang awak DA AI Jakarta itu meminta Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 1 Padang, Bapak Ramadansyah, mencarikan siswa SMA 1 yang patut ditampilkan media. Ini tidak hanya soal prestasi, konon katanya begitu, tapi yang inspiratif. Lebih-lebih DA AI TV bukan  seperti TV swasta kebanyakan yang sarat dengan muatan hardnews, namun lebih kepada sisi softnews dan feature yang menyentuh hati dan kalbu manusia. Pun, tagline TV satu ini adalah Televisi Cinta Kasih.

Anehnya, saya tak tahu, cerita bagaimana akhirnya bisa saya yang dipilih.

Singkat, Kak Ai, begitu ia memperkenalkan dirinya pada saya. Satu lagi rekannya, disapa akrab Mas Acul. Mereka menjelaskan niat baik bahwa mereka tengah menyiapkan sebuah konsep liputan untuk seorang siswa SMA 1 yang tidak hanya berprestasi, namun juga menjadi teladan bagi pelajar yang lain. Mereka tak katakan alasan memilih saya. Namun, mereka hanya minta saya untuk ikut pulang bersama ke rumah saya. Minta saya untuk bertemu keluarga saya di rumah. Dan saya mengabulkannya. Memperkenalkan mereka pada keluarga.

“Klop!”

Semua tiba-tiba dimulai. Saya mendadak menjadi ‘artis’ yang hari-harinya diikuti oleh kamera. Pagi hari sekitar pukul lima subuh, Kak Ai dan Mas Acul sudah menunggu di depan pintu. Menunggu saya memasang baju dan merapikan buku. “Dod, permisi mau mengambil gambar di kamar,” kata Mas Acul setelah saya mengenakan seragam batik hari Rabu, seragam batik khas SMA 1. Saya pun pasrah. Mengikuti permintaan kamereman jebolan BSI Jakarta tersebut.

Ia mengambil gambar saya merapikan buku pelajaran hari itu sebelum berangkat. Gambar berikutnya, saya memasang sepatu di saat jam dinding saya menunjukkan pukul enam lewat lima. Saya harus segera berangkat sekolah. Lokasi sekolah saya amat jauh, di Jalan Sudirman (ini sebelum relokasi ke Belanti). Mereka pun tak luput kehilangan momen saya berangkat sekolah. Berjalan kaki menuju simpang untuk menyetop bus kota. Bahkan, juga ketika saya berada di dalam bus kota dan sampai di Sudirman.

Di sekolah pun, cukup banyak gambar yang diambil. Gambar saat saya sedang belajar di kelas – saya masih ingat, untuk take bagian ini, saat itu mata pelajaran Agama Islam dengan Pak Roem – dan seluruh teman IPS saya membantu. Mereka ikut disorot. Ikut ‘bercerita’ dalam video ini. Pun juga saya sangat terharu ketika profil saya selesai diedit, wali kelas saya saat itu, Bu Dayu Wiratni juga memberikan penilaiannya terhadap diri saya. Ia menjadi salah satu narasumber dalam profil tersebut.

Bu Dayu Wiratni saat diwawancara oleh DA AI TV

Menjadi seleb dadakan, itulah yang saya rasakan saat itu. Selama lebih dari 3 hari, Kak Ai, Mas Acul beserta drivernya mengikuti kegiatan saya. Termasuk juga mengikuti saya hingga ke Kantor Harian Umum Singgalang di Jalan Veteran Padang. Kali ini, pengambilan gambar tentang bagaimana aktivitas saya sebagai Reporter di SMS dan juga di Singgalang Minggu. Juga tak lupa gambar bagaimana saya mengambil honor, bertemu Bang Boy dan Kak Desi dan Ibu Kasir Keuangan. Kak Gusliyanti, Editor saya, juga dimintai komentarnya tentang pribadi saya. Oalah, ini kali pertama mungkin, seorang wartawan diwawancarai wartawan…

Dan ketika profil itu ditayangkan di DA AI TV, saya merasa mata saya berkaca-kaca. Saya terharu, dengan apa yang tampil di situ. Saya bahkan seperti merasa tidak percaya, bahwa itu adalah saya. Itu adalah Dodi Prananda, seorang remaja berusia 17 tahun (saat itu), yang lahir dari sebuah keluarga kecil. Keluarga kecil di daerah pinggiran kota.

(Bersambung…)

Iklan
Standar

2 thoughts on “Story Behind (Story) : Profil Dodi Prananda di Jurnal DA AI (DA AI TV Jakarta) (Part.1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s