Pesawat Fiksi (1)

Aku hampir lupa, kapan pertama kali pesawat ini aku rakit. Aku juga tidak pernah menyiapkannya avtur, sebagaimana pesawat terbang kebanyakan yang membutuhkan bahan bakar  agar pesawat bisa terbang. Pesawat ini agak berbeda dari pesawat kebanyakan, karena kunamai pesawat ini: pesawat fiksi.

Pesawat Fiksi
by http://liamareza.wordpress.com/2010/09/08/pesawat-kertas/

Ini semua lahir, atas dasar frustasi. Di atas segala kejujuran, aku lelah menulis. Lelah karena hampir putus asa bersaing di tengah medan yang sengit, medan pertempuran. Kini, aku berada di sebuah ketinggian, seperti sebuah pesawat terbang yang masih di atas awang-awang hendak mencari tempat baginya untuk landing. Itulah, asal muasalnya, kenapa aku istilahkan ini sebagai pesawat fiksi. Pesawat yang terbang saban hari Minggu, dan akan mencari tempat persinggahannya. Mencari bandar udaranya. Mencari dimana semestinya ia berhenti.

Hampir, beberapa bulan belakangan, pesawat fiksi ini tidak menemukan tempat berhentinya. Ia masih mencari bandar udaranya. Sang pilot, masih terus berproduksi. Menelurkan fiksi-fiksinya dengan harapan dapat berhenti di Bandar Udara Jakarta (KOMPAS, Seputar Indonesia, Republika atau Jawa POS), atau di Bandar Udara Lampung (Lampung POST), Bandar Udara Semarang (Suara Merdeka) atau di kota-kota lainnya. Sang pilot, agaknya bosan bila terus berhenti dan mendaratkan pesawatnya di Bandar Udara Padang (Padang Ekspres, HALUAN, dan SINGGALANG).

Sejak itulah, hari Minggu, menjadi hari kebahagiaan. Hari yang ditunggu-tunggu. Hari yang aku yakin akan banyak kesenangan. Tapi, ternyata tidak. Aku salah. Aku keliru. Pesawat fiksi itu, masih di awang-awang. Masih berada di ketnggian dan belum jua berhenti di Bandar Udara yang menjadi impiannya untuk berhenti.

Sang pilot pun merasa, pesawat fiksinya perlu berdiam di sebuah tempat, tempat baginya untuk melakukan evaluasi, apa yang salah dengan pesawatnya? Apakah dia yang masih belum mumpuni mengendalikan pesawat itu sehingga masih gamang untuk landing di Bandar Udara impian itu, atau ia tak punya lagi persediaan avtur sehingga takut untuk membuat pesawat fiksi itu terbang tinggi lagi?

Anda perlu tanyakan itu pada sang pilot. Karena, sang pilot itu adalah aku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s