Proses Kreatif Buku Puisi Musim Mengenang Ibu

Ide membukukan puisi-puisi lama ke dalam sebuah buku puisi tunggal, muncul tiba-tiba tanpa ada persiapan. Tanpa saya sadar, mungkin ini berkat dorongan teman-teman yang berharap saya meluncurkan buku. Minimal, mempertemukan puisi-puisi, membuat acara ‘reuni’ bagi naskah puisi yang sempat dimuat di sejumlah media ke dalam sebuah buku.

Cover Buku Puisi Musim Mengenang Ibu

Dorongan ini membuat saya kembali membongkar-bongkar naskah puisi lama. Syukurnya, saya masih menyimpan semua file dengan baik. Baik naskah puisi yang dimuat di media maupun manuskrip yang tertidur pulas dan nyenyak di folder berjudul Naskah Puisi yang Belum Menemukan Takdirnya. Sementara itu, puisi yang telah menemukan takdirnya di Singgalang, Haluan, Majalah Say, Jurnal Bogor, Tabloid Gaul, Tabloid Keren Beken telah saya persatukan dalam sebuah file.

Ini perkara kedua, persoalan yang juga tak saya sadari. Kenapa hampir semua puisi ini punya benang merah yang sama; ibu, ayah, cinta, jakarta. Bila dicermati, kata-kata ini hampir tersebut dalam setiap puisi. Apa ini sebuah repitisi? Tapi, di luar kecemasan saya soal puisi yang hampir membahas tema serupa, saya sebenarnya merasa belum pantas membukukan puisi-puisi ini. Karena selain belum matang (dalam menulis puisi), saya juga masih belum banyak membaca karya-karya puisi penyair besar. Belum juga menerbitkan puisi di media-media kenamaan, media-media yang menjadi barometer bagi sejumlah penulis puisi untuk disebut sebagai seorang penyair. Karena itu, untuk menghormati para penyair yang karyanya sudah wara-wiri namun belum bikin buku, saya tak mau menyebut ini sebagai sebuah Kumpulan Puisi. Saya hanya menamai ini sebagai album puisi, album yang setidaknya boleh berkata; sang empu kata, punya hobi menulis puisi. Tak ada tendensi apa-apa. Hanya benar-benar atas dasar satu alasan; iseng dan coba-coba. Kebetulan, saya menemukan sebuah penerbit Indie yang sekiranya bisa mengabulkan harapan sederhana ini.

Bila boleh berterus terang, saya merasa lebih nyaman menulis cerita pendek. Dalam cerita pendek, imajinasi dan ekspresi saya jauh lebih diwadahi dalam ruang yang luas. Bila menulis cerita pendek, saya seperti diberi kanvas berukuran besar, dan saya dengan leluasa menuangkan gagasan besar ke dalam ruang ini. Saya merasa diberi kebebasan untuk nakal, bermain-main, dan bereksperimen. Dibanding puisi, alih-alih ingin menciptakan karya yang punya gebrakan, saya justru merasa mandek dengan ide. Puisi-puisi yang saya tulis rasanya hampir sewarna, maksudnya, nyaris tidak ada variasi. Tidak ada eksperimen yang bisa dijual. Bila penulis berhak mencaci karyanya sendiri, maka saya akan caci karya itu dengan the flat poem.

Tapi, bila saya periksa lagi satu persatu naskah itu, saya merasa bahagia. Ada beberapa puisi yang saya suka. Merasa berhasil menuliskan rasa. Meski ratusan puisi yang termaktub dalam Musim Mengenang Ibu adalah sebuah buku atau karya coba-coba, saya merasa, beberapa puisi ada yang sekiranya patut dan layak mendapat apresiasinya. Di luar itu, boleh dibilang, puisi-puisi yang gagal.

Sejak saya rilis bulan Februari lalu, Musim Mengenang Ibu syukurlah direspon positif. Banyak teman-teman sejawat, khususnya yang pernah satu sekolah, merasa berbahagia bisa membaca puisi saya dalam suatu buku. Setidaknya, mereka tak perlu repot-repot melacak puisi-puisi saya yang pernah tampil di koran. Tak hanya teman sekolah, rekan-rekan di jurusan Ilmu Komunikasi secara khusus dan FISIP UI secara umum juga ikut mengapresiasi. Mereka merelakan uang mereka sebanyak Rp. 38 ribu, menukar uang itu menjadi sebuah buku puisi (yang dalam kacamata pesimis, saya sebut buku puisi gagal).

Lebih senang lagi, ketika Dosen Teori Komunikasi saya, Mas Firman Kurniawan, menyambut hangat mahasiswanya yang berkarya. Atas nama penulis buku ini, saya mau mengucapkan terima kasih untuk Bapak, yang sudah bersedia membaca, memberi komentar dan menghadiahkan saya dengan sebuah buku puisi ciuman karya Agus Noor. Setidaknya, ini adalah motivasi untuk terus belajar dan belajar menulis puisi yang lebih eksperimentif dan puisi yang menawarkan suatu yang baru.

Suatu hari, teman saya, Setyo Manggala yang juga membeli buku ini membawa buku ini ke kelas Perkembangan Media Massa Indonesia. Bang Ade Armando yang kala itu melihat buku itu, setelah Setyo ‘Uta’ mengeluarkan buku dari tas, bertanya, itu buku apa. Singkat cerita, Bang Ade ikutan mesan buku ini. Saya serahkan langsung kepada beliau dan beliau tak mau uang kembalian diserahkan kepadanya. “Saya senang kamu nulis buku,” katanya. Makasih ya Bang Ade, sudah bersedia membeli.

Loh, kok, ini jadi malah terima kasih-terima kasih. Oya, sebelum masuk soal proses kreatif, pokoknya mau ngucapin kepada seluruh teman yang sudah bersedia membeli buku ini.

Kembali soal proses kreatif, jadi puisi-puisi yang termuat dalam buku Musim Mengenang Ibu ini adalah puisi-puisi saya sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2011. Seperti yang saya bilang di atas, puisi yang ada di buku ini, tak semua puisi baru. Hampir seluruhnya, puisi lama.

Kenapa menulis puisi? Mungkin ini pertanyaan yang tepat diajukan kepada saya yang masih meraba-raba gaya dan warna puisi. Pertama, kalau masih diberi kesempatan menjawab, karena terlalu banyak rasa hidup yang membuat saya bergairah menuliskannya. Kadang, ada rasa hidup yang lebih pantas dipuisikan ketimbang dijadikan cerpen. Coba lihat puisi-puisi yang bertema Ibu, itu adalah nangis cengeng saya sendiri karena merasa menjadi orang yang paling bersedih di muka bumi karena kehilangan ibunya. Tapi, saya salah, karena lupa melihat sekeliling. Ternyata oh ternyata, kesedihan adalah hak dan milik setiap orang. Coba balik-balik lagi puisi yang menyoal Jakarta. Hampir semua puisi-puisi itu ditulis di mall lewat notes di Smart Phone saya, antara lain di Grand Indonesia atau Central Park. Itu adalah hasil membaca manusia.

Seperti para pekerja seni yang lain, khususnya penulis, adalah mereka-mereka yang sangat mencinta hal satu ini; mengamati orang lain. Begitu juga diri saya. Puisi-puisi yang termuat dalam Musim Mengenang Ibu merupakan kerja keras saya setelah membaca manusia dan menjadikan apa yang saya lihat, apa yang saya dengar dan apa yang saya amati menjadi puisi. Jadilah, sejumlah puisi yang terkesan menertawai kehidupan di gemerlapan Jakarta, banyak juga puisi yang memberi banyak imajinasi-imajinasi saya akan kota ini, kota yang dulu sempat saya tulis dalam memori sebagai kota yang penuh dengan milyaran Imajinasi.

Nah, begitulah, akhirnya lahir buku Musim Mengenang Ibu. Sebenarnya saya malu, buku ini muncul. Di dunia kepenulisan puisi (saya enggan menyebut dunia kepenyairan karena merasa tak ada apa-apanya dalam menulis puisi), saya masih sangat awam, sangat buta  puisi dan let’s say anak bawang. Tapi, bila karya anak bawang ini diapresiasi, tentulah, saya akan senang! (*)

Iklan

Inilah Jadwal Penayangan Profilku di DAAI TV

Sedikit Prolog

Huft, syukurlah, semua berjalan dengan indah. Pengambilan gambar tentang kegiatan sehari-hariku sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia pun berlangsung alot. Untungnya, reporter dan camera person yang ditugaskan sangat mengerti diriku. Lebih-lebih Kak Ai,
sang Reporter, ia sudah kuanggap sebagai kakak sendiri dan betapa kami berusaha untuk saling mengerti.

Foto oleh M. Havev Hanada

Hampir tak satupun aktivitas harianku luput dari gambar-gambar yang mesti ada. Gambar sedang belajar di kelas. Gambar sedang beribadah di MUI. Gambar
sedang berorganisasi dan menjalankan tugas sebagai Reporter di FISIPERS, kelakar bersama teman-teman Padang yang juga kuliah di UI dan kebetulan kos berdekatan di Kukusan Teknik, hingga gambar sedang beraktivitas di kosan. Semua berjalan lancar, syukurlah, meski ada kendala yang bisa dipahami sebagai suatu rintangan.

Pertama-tama, aku mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada PT Duta Anugerah Indah (Jakarta), dalam hal ini stasiun DA AI TV Jakarta. Terima kasih untuk
ide melanjutkan story about me yang dulu pernah disiarkan di program Jurnal DA AI (2010), ketika aku masih putih abu-abu di SMA 1 Padang. Terima kasih untuk Kak Ai dan Om Bakti yang kece deh pokoknya.

Terima kasih kepada Mbak Meily Badriati yang memberikan izin pengambilan gambar di kelas Meliput dan Menulis Berita I, kelas Senin, 10 September 2012. Terima kasih juga untuk teman-teman sejawat di program studi Jurnalisme, Ilmu Komunikasi, 2012 atas kerjasama untuk pengambilan gambar di kelas. Terima kasih juga untuk Welan Mauli Angguna, Bang Alfajri Putra dan Irfan Sael Perdana yang pada Minggu 9 September mau menyempatkan diri untuk ikut bantuin aku untuk pengambilan gambar soal aktivitas  aku di kosan bersama teman-teman ‘urang awak’.

Terima kasih juga buat rekan-rekan FISIPERS, dalam hal ini Kak Niken, Kak Rini, Kak Riana, Kak Dita, Kak Jojo, Aninta, Vitha dan Wilson yang saat itu bersedia bantuin. Dan ucapan terima kasih yang sama kepada Bu Kimberly atau Bu Cil yang hari itu bersedia ‘syuting’ bersamaku. Kepada semua yang tersebut di atas dan juga kepada yang luput disebutkan, aku ucapkan terima kasih.

Nah, inilah jadwal penayangan profilku di program Jurnal DAAI, DAAI TV Jakarta. Yuk, nonton dan jangan lewatkan!
Senin, 24 September 2012 pukul 21.00 WIB (Penayangan perdana)
Selasa, 25 September 2012 pukul 08.30 WIB (Penayangan ulang)
Jumat, 28 Septemer 2012 pukul 17.30 WIB (Penayangan ulang)
Sabtu, 29 September 2012 pukul 10.00 WIB (Penayangan ulang)
Minggu, 30 September 2012 pukul 12.00 WIB (Penayangan ulang)

Selamat Menyaksikan 🙂

Kupu-kupu di Dalam Kamar

Cerpen Dodi Prananda, SINGGALANG Minggu, 16 September 2012

Bila mungkin ada alasan kenapa aku menyenangi binatang bernama kupu-kupu, bukanlah semata karena kekasihku juga bernama Kupu. Aku menyenangi kupu-kupu justru karena, kupu-kupulah sumber inspirasiku selama ini. Sejumlah lukisan hasil karyaku yang diminati banyak orang; antara lain karena di dalam lukisan itu, ada objek kupu-kupu. Cantik, indah dan menawan, mungkin juga seperti Kupu yang kini sedang mengetuk pintu.

Perempuan bernama Kupu itu muncul dari balik pintu kamarku. Ia mengenakan gaun selutut yang dipakainya tadi sore ketika ia memintaku untuk melukiskan dirinya. Ia tak lagi indah menggunakan gaun itu.

Ilustrasi foto oleh Denny Chandra

Ia cukup berantakkan ketimbang penampilannya tadi sore. Bedaknya barangkali sudah menyatu dengan keringat yang turun satu-satu dari dahinya. Rambutnya mungkin sudah dipermainkan oleh angin malam sehingga tampak acak-acakkan dan tak rapi. Bagian bawah gaun yang terbuat dari kain satin itu tak lagi meliuk-liuk genit ketika ia berjalan. Bau parfumnya juga tak terlalu jelas lagi di hidungku.  Padahal, ketika tadi sore ia datang ke rumahku, aku mengendus bau parfum aroma melati itu yang menguar begitu kuat di dalam kamarku. Bahkan mungkin bau parfum itu sampai ke langit-langit kamar.

Dengan bola mata yang kaku bercampur tegang, ia menatapku. Ia raih lenganku. Ia ambil kuas lukis dari tanganku dan menyuruhku meletakkan kuas serta cat minyak itu di atas meja. Adakah sesuatu penting yang harus diselesaikan malam ini? Aku bertanya-tanya dalam hati.

Setengah berlari, Kupu menuju beranda rumahku. Tapak sepatu hak tingginya yang bergesekan dengan lantai rumahku terdengar sampai ke telingaku. Langkah kakinya bisa kurasakan. Ada sesuatu yang barangkali harus digegaskan malam ini juga.

“Aku sudah memilih untuk putus darimu…,” katanya.

Aku terkejut bukan main. Seluruh darah yang mengalir di ubun-ubun dan seluruh tubuhku bagai mendadak berhenti sejenak. Apa yang baru ditangkap oleh indera pendengaranku seolah seperti mimpi. Aku cukup merasa sadar atas perkataan itu. Tak ada alasan bagiku untuk mengatakan ini adalah sepotong mimpi buruk.

Wajahnya ada dalam secangkir kopi yang ada di hadapanku. Bahkan mungkin wajahku juga ada dalam secangkir teh yang ada di hadapannya -entahlah. Sambil membuang pandang, ia biarkan dirinya tenggelam dalam musik instrumet Kenny G, Forever In Love, yang begitu membuat malam putusnya cintaku ini menjadi bertambah memilukan. Musik itu kusetel dengan bunyi yang pelan dan lembut, sehingga terdengar mendayu-dayu.

Beranda rumahku memang terlalu lengang. Bertambah lengang ketika mataku dan mata Kupu saling bertautan. Kami saling diam. Saling tidak peduli satu sama lain. Hanya musik instrumen itu yang lebih berkuasa menyanyat-nyayat kesepian yang dingin.

“Aku sudah memilih untuk putus…”

“Kenapa? Ada apa? Bukankah tidak ada masalah dalam percintan kita…”

Kupu hanya diam. Ia tidak punya jawaban atas tanyaku itu. Mungkin ia larut dalam lagu itu. Tapi, sorot matanya yang kaku seolah ingin menyampaikan beberapa potong kalimat yang mungkin masih ia simpan dengan baik di benaknya. Ada apa gerangan, Kupu, kekasihku datang pada malam ini hanya untuk mengatakan kalau ia ingin putus dariku.

Kudekati tubuhnya. Kutatap lekat wajahnya. Mulai dari mata hingga ujung kakinya. Adakah mungkin perempuan yang ada di depanku ini sedang bermimpi sedang mendatangi rumahku? Mungkinkah ia sedang bercanda atas kata-kata yang baru saja mengalir dari bibir yang dipoles dengan lipstik merah pekat itu?

Dengan perasaan gelisah tak menentu yang bercampur aduk dengan ketidakmengertian ini, aku tinggalkan Kupu di beranda seorang diri. Kubuatkan untuknya secangkir teh dan secangkir kopi untukku. Lalu kuhidangkan untuknya.

Ia hanya lebih peduli pada sebuah ketakutan yang mungkin bersembunyi dalam tubuhnya. Sehingga ia terlihat gugup dan barangkali cemas setelah melontarkan kata itu. Kalau-kalau saja, setelah ia menikmati teh buatanku ini, ia akan tenang dan mau diajak untuk bicara. Tapi berjam-jam kutunggu. Ia hanya tercenung. Ia menikmati lagu sunyi dalam kesepian beranda rumahku. Seolah enggan memahami rasa galau yang bersarang dalam diriku. Aku sudah berkali-kali memancingnya untuk mulai bercerita. Tapi tak juga bergerak bibir yang manis itu. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menunggu Kupu berbicara.

Malam semakin larut. Meski tak begitu kugubris, baru saja jam dinding dari dalam rumahku berdentang sebelas kali. Tapi, perempuan di sampingku ini enggan juga mau menggerakkan bibirnya untuk bercerita.

Kepalanya mendongak ke arah langit. Seolah membaca sesuatu. Menghitung bintang. Merasakan dinginnya malam yang kaku. Atau bisa jadi ia sedang merangkai kalimat terakhir untuk perpisahan ini.

Baru saja, ia meraih telinga cangkir yang ada di hadapannya dan menghirup wangi teh panas itu. Perlahan ia nikmati. Ia resapi bersamaan dengan sang bayu yang mengelus lembut rambutnya. Ia dekapkan bibir cangkir bergambar pelangi itu ke bibirnya. Lalu ia teguk cepat. Sesaat ia memandang ke arahku. Agak sedikit ragu, ia raih tanganku. Pikirku, ia akan menjadikan ini sebagai pegangan tangan yang terakhir kali sebelum kami benar-benar berpisah.

Lalu kurasakan sesuatu benda ia letakkan diatas telapak tanganku. Dengan cepat, tanpa ada kalimat perintah yang melesah dari mulutnya, ia bungkus tanganku dengan sebuah isyarat untuk mengenggam. Dalam malam ini, aku mencium bau kegalauan hati yang tidak beralasan. Aku tahu yang ada dalam genggamanku adalah cincin yang pernah kuberi untuknya sewaktu kami berliburan ke pantai Kuta.

Mulutnya mendekat ke telingaku. Barangkali ia akan membisikkan sesuatu. Benar saja, kurasakan napasnya yang seperti memburu di telingaku. Tapi, masih bisa kurasa lewat perfumnya, perempuan yang di sampingku ini adalah perempuan yang sudah kucintai semenjak sepuluh tahun yang lalu.

“Maafkan aku harus mengakiri kisah cinta di sini. Ternyata kau lebih cinta pada kupu-kupu ketimbang aku,” ujarnya.

Aku semakin tak mengerti. Ia meraih tas warna merah jambu miliknya. Lantas bergegas pergi meninggalkan diriku sendirian dibunuh oleh kekecewaan. Kupu menghilang diantara kabut malam yang tipis.  Tak pernah lagi kudengar kabarnya setelah pertemuan terakhir malam itu.

***

Kalau saja tak ada malam itu di dunia ini, pasti aku tidak akan sendirian. Aku yakin, seandainya pada hari itu sore akan langsung berganti menjadi pagi, pasti Kupu tidak akan pernah mengucapkan kata putus. Kata-kata putus itulah yang telah menyelimutiku dalam kesepian.

Tak pernah kurasakan kesepian seperti ini di kamarku. Kesepian setelah ditinggal putus kekasih betul-betul membuatku bertambah sepi. Mulutku bungkam. Aku tak punya banyak bahan obrolan hari ini. Kalaupun ada, aku tak tahu harus kepada siapa membagi bahan obrolan ini. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Selain Kupu dan ibu, tak ada yang pernah menghadirkan kegembiraan di kamar ini. Dulu, hanya ibu yang sering melintasi kamarku. Meskipun tidak masuk ke dalam, aku tahu ibu sedang berada di depan pintu. Tanpa perlu aku berkata, ibu sudah tahu apa yang sedang kukerjakan di dalam kamar. Aku akan membalas senyum ibu ketika ia membuka sedikit celah dan menyembulkan kepalanya pada celah itu.

Tapi, setelah putus dari Kupu, aku hanya menghabiskan hari-hariku di dalam kamar. Tak begitu kuketahui dengan jelas, apakah di luar sana ada pergantian hari. Gorden kututup rapat-rapat tanpa membiarkan sedikitpun celah. Sehingga tak ada sedikitpun bias cahaya masuk ke dalam kamarku. Aku tak lagi mengenali waktu. Aku tak peduli pada almanak yang sudah kucabut dari kamarku dan seluruh mesin penunjuk waktu kutanggalkan. Aku benar-benar tak ingin mengingat hari ini adalah hari keberapa setelah putus dari Kupu.

Cat minyak, kuas dan kanvas terayak sembarangan di dalam kamar. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan melukis sampai aku benar-benar bisa bertemu dengan Kupu.  Lalu, lukisan-lukisanku tak lepas dengan gambar kupu-kupu. Ibu juga heran, betapa perpisahanku dengan Kupu telah menyulap diriku menjadi lelaki yang aneh.

Seluruh dinding kamarku, kutempeli dengan lukisan-lukisan. Hatiku kian berkecamuk. Dimana sekarang perempuan bernama Kupu itu berada? Aku betul ingin berjumpa kembali padanya untuk meminta ia menjadi kekasihku kembali. Tapi, setelah cukup lama tak pernah keluar dari kamar ini, aku tak lagi mengenali dunia luar.

Dan pada suatu hari yang tak kumengerti, aku melukis kupu-kupu. Binatang indah dengan dua belah kepak sayap mungil yang indah. Gambar-gambar itu kerap kali kulukis, dan cukup indah. Kadangkala, ibu masuk kamarku dan melihatku mengerjakan lukisan kupu-kupu yang lain. Dan ibu kerap kali, kembali bertanya singkat saja seperti biasa.

“Apakah yang kau lukis itu kupu-kupu?” tanya Ibu pelan.

“Tentu saja, sudah lama aku ingin bertemu untuk mengecupnya. Sudah lama aku tak bertemu dengan dia untuk mengucapkan kalimat sayang, tapi sungguh sayang Ibu, ia sudah menuduhku berselingkuh dengan kupu-kupu…” balasku

“Tapi, kenapa bentuk kupu-kupu seperti itu?” tanya Ibu lagi.

“Mungkin suatu saat nanti  Ibu akan tahu artinya….”

Setelah hari berganti meski aku tak menghitungnya, enam atau sepuluh lukisan yang sudah kuselesaikan. Gambar-gambarnya tak lepas dari kupu-kupu. Hari ini, aku berhenti melukis. Aku cukup bosan dengan lukisan-lukisan itu. Ingin aku coret-coret gambarnya. Aku benar-benar muak. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang yang seprainya sudah tanggal dan acak-acakkan. Langit-langit kamarku penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Aroma khas cat minyak ini tercium keras dipenciumanku. Kamarku mungkin tepat kusebut sebagai gudang lukisan daripada harus kusebut sebagai kamar. Tapi aku tetap menyukainya.

Terlebih hari ini, aku menemukan keganjilan dalam kamarku. Entah dorongan darimana, dan seperti bukan aku yang menggerakan tubuh ini, aku membuka gorden untuk  memandang dunia luar. Kontan sinar matahari menerebos nakal dan mencuri-curi masuk dari celah itu. Tentu saja sinar itu mengenai lukisan-lukisan yang terpasang di dinding. Aku baru bisa melihat hasil lukisan-lukisan secara jelas setelah kubiarkan sebentar saja sinar matahar itu merembes masuk.

Cepat-cepat kututup kembali. Lantas, betapa terkejutnya aku ketika kupu-kupu dalam lukisan itu menyembul dari dalam lukisan dan kupu-kupu itu berterbangan di atas kepalaku. Kupu-kupu itu keluar dari seluruh lukisan yang kugantungkan di dinding. Tak jarang kupu-kupu itu menukik di atas kepalaku, lantas terbang lagi dengan sayap yang indah.

Untuk beberapa saat kamarku tak ubah seperti sebuah taman kupu-kupu. Sedang aku adalah seorang kekasih kupu-kupu. Tanpa kusadari kupu-kupu itu bertambah banyak, keluar satu persatu dari satu lukisan, begitu juga dengan lukisan yang lain. Tak bisa kuhitung berapa jumlahnya. Bahkan, kupu-kupu memenuhi seisi kamarku.

Lalu, kupu-kupu yang jumlahnya mungkin seribu itu bersatu menjadi satu. Sayap-sayapnya lenyap. Hanya tinggal satu kupu-kupu dengan ukuran yang besar berada tepat di hadapanku. Kaget aku ketika mendapati besarnya seukuran dengan besar tubuhku.

Lalu, kupu-kupu itu menjelma menjadi manusia. Ia tersenyum ke arahku. Sambil melirik manja, ia mengedipkan matanya padaku. Dan aku pun mencoba membalas senyumnya yang terasa sangat hangat. Senyum yang telah lama kurindukan.

Oh, rasanya, sudah lama aku rindu bercinta dengan dia…***

Depok, 25 Oktober 2011

*Memohon kritik dan komentar 🙂

Story Behind (Story) : Profil Dodi Prananda di Jurnal DA AI (DA AI TV Jakarta) (Part.2 – Selesai)

September, 2012

Walau sudah bermukim di Jakarta setahun genap, saya bahkan jarang bertemu Kak Ai langsung. Saya tahu, ia begitu sibuk dengan tugas wartawannya. Tapi, sesekali, saya masih berkirim SMS. Masih bertukar kabar dengan Kak Ai. Hingga pada suatu hari, tim dari DA AI TV kembali ‘tanya-tanya’ tentang saya. Waktu itu, Kak Noli yang bertanya lewat telepon tentang perkembangan aktivitas saya selama setahun menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia.

Saya bersama Kak Ai seusai pengambilan gambar di FISIP

Saya ceritakan semuanya. Di seberang, ia mendengar serius sambil mencatat. Ia bahkan tidak memotong dan membiarkan saya terus bercerita. “Kami ada rencana ingin kembali menayangkan profilmu, tentang bagaimana kamu survive di kuliah,” katanya.

Terang saya bahagia. Tapi, sedikit kecewa karena kemana menghilangnya Kak Ai. Kenapa tak Kak Ai lagi?

Tuhan mendengarnya. Kak Ai mengambil alih tugas yang sebelumnya dipercayakan kepada Kak Noli. Tapi, kali ini, Kak Ai tidak bersama Mas Acul lagi, karena doi sudah resign ke KOMPAS TV. Kali ini, Kak Ai bawa temen baru yang sebelumnya pernah diperkenalkan ke saya ketika Kak Ai ada liputan wawancara dengan Sejarawan UI di Fakultas Ilmu Budaya. Namanya Bakti. “Aku manggilnya OmBak,” kata Kak Ai. Pun aku ikutan-ikutan memanggilnya Ombak.

Minggu, 9 September 2012 pengambilan gambar pun dimulai. Kak Ai bersama tim janji bakal sampai di Fakultas Teknik pukul 9. DA AI TV tepat janji. Saya menemui mereka di Halte Teknik dan lantas menuju Danau UI untuk pengambilan gambar pertama. “Kita bakal full direct, esok akan full ngambil gambar kamu di kampus. Kalo hari ini di outdoor,” kata Ombak. Karena Minggu pagi wilayah danau dan Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia sangat ramai, akhirnya diputuskan ngambil gambar di Taman Rektorat. Udara Minggu pagi sangat sejuk di area teman, walau matahari nyaris tegak lurus dengan bumi .

Di bawah teduhnya pohon-pohon di Taman Rektorat, pengambilan gambar dimulai. Kak Ai mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Saya jadi terkenang, ketika pertanyaan-pertanyaan tentang diri saya diajukan. Saya jawab sebisa saya. Pun pada hari itu. Tapi, saya merasa ada yang berbeda. Jawaban yang keluar dari mulut saya saat itu, hari itu, saya rasakan berbeda. Saya merasa selama dua tahun berlalu, banyak pengalaman hidup yang bertambah. Banyak hal yang berubah.  Pun perasaan.

Tapi, tidak dengan Kak Ai. Suara khasnya masih sama. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan, masih sama semenggelitik yang dulu. Semangatnya pun juga sama.

Sesi pertama selesai pukul sebelas lewat. Saya, Kak Ai, Ombak dan driver menuju Kosan saya di Kukusan Teknik. Karena pake mobil, kami melewati jalan belakang – via Srengseng Sawah – dan kami juga melewati lokasi bom Beji Depok di kawasan Nusantara Depok. Di kosan, beberapa gambar di ambil. Antara lain aktivitas saya di kosan. Gambar tentang pajangan-pajangan piala dan plakat saya di kamar. Buku-buku saya. Poster 100 mimpi saya dan semua yang di ada di kamar. Selain itu, kedatangan Irfan Sael Perdana, Welan Mauli Angguna, dan Bang Alfajri Putra turut membantu pengambilan gambar ini. Ada scene dimana kami semua berkumpul di kosan untuk bercerita bersama. Saling mengobrol. Saling tertawa dan bercanda.

Bersama Om Bakti (Ombak)

Esok harinya, pengambilan gambar dilanjutkan. Pagi, pukul sembilan, pengambilan gambar dilanjutkan. Kali ini pengambilan gambar di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Ada beberapa take ketika saya ‘disetting’ membaca buku (ya, gpp sih, soalnya di realita, saya juga melakukan demikian) dan beraktivitas membaca di sana. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengambilan gambar di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Selesaikah? Belum!

Kali ini, gambar saya sedang belajar di kelas. Hari ini, Senin, 10 September 2012 pukul 11.00 adalah waktunya mata kuliah Meliput dan Menulis Berita 1. Saya pikir, saya bakal berhadapn dengan Bang Mimar. Rupanya tidak. Kali ini bersama Mbak Meily. Kak Ai mohon izin. Mbak Meily memang baik hati, ia mengizinkan. Ombak pun ikut masuk kelas. Mengambil momen saya sedang belajar. Tak lupa hari itu, saya harus berterima kasih kepada seluruh teman-teman Jurnal yang bersedia membantu kealotan pengambilan gambar ini. Bahkan hari itu, masih banyak spot-spot yang dijadikan tempat pengambilan gambar untuk mendukung seluruh full direct demi pembuatan sebuah profil yang oke.

Inilah sedikit cerita dibalik cerita. Cerita yang mengingatkan saya dengan kalimat yang pernah disebut Muhammad Iman Usman; hidup ini seperti buku. Dan bagi mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan, mereka hanya membuka satu halamannya saja…

Depok,14 September 2012