Cerita Manis di Pelangi dan Semangat dari Kota Hujan

David Pratama, begitu nama lengkapnya. Saya mengenalnya ketika kami sama-sama belajar menulis fiksi di Sanggar Sastra Remaja Pelangi asuhan Om KW.

Saya memang lebih awal bergabung di Pelangi, persis ketika usai bergabung sebagai Reporter P’Mails (setelah bertanya banyak ke kru redaksi P’Mails, dan Kak Yulisa ‘Icha’ Farma yang menjadi jembatan untuk semua ini). Suatu Minggu siang, bertemu dengan Kak Icha di Perpustakaan Daerah (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar), saya diperkenalkan dengan Kak Amelia Asmi (waktu itu ia masih sangat lucu sekali, memakai seragam sekolah SMA 6 Padang), Kak Nilna Rahmi Isna, dan Kak Maghriza ‘Opie’ Novita Syahti (Waktu itu masih jadi Mahasiswi Jurusan Psikologi UNP) – dan juga Kak Ria Febrina, yang bertemu langsung di Sanggar karena semasa itu, Kak Ria diantar jemput kekasih (mungkin tak) setia (karena beberapa tahun setelah itu, Kak Ria move on). Dari perpustakaan daerah, kami menumpang mobil Kak Opie, dan kami sampai di Lapai, untuk yang pertama kalinya bagi saya. Inilah sanggar itu ternyata; Sanggar Pelangi, sanggar yang telah melahirkan saya.

David gabung dengan rombongan baru, ketika itu, sejumlah murid dari beberapa Sekolah Menengah Atas di Padang diajak untuk ikut gabung di Pelangi. Tepatnya lagi, usai acara Creative Writing Workhsop in Short Story yang digelar PT Rohto Laboratories Indonesia, sekitar tahun 2009 kalau tidak salah, dimana peserta CWW yang berminat gabung di Pelangi. David salah satunya, dan beberapa murid baru sanggar lainnya. Wajah mereka, persis wajah saya untuk pertama kalinya bergabung di Pelangi; kaku dan tegang. Maklum, untuk pertama kali. Setelah itu, kami di sini jadi terbiasa, menjadi saling akrab, menjadi saling berpacu untuk menuliskan karya fiksi terbaik setiap minggu. Minggu ini kami membawa cerpen, Minggu depan Om KW akan memberi kritikannya. Minggu di hari pemberian evaluasi atas cerpen yang telah diserahkan minggu sebelumnya, barangkali menjadi hari yang kami tunggu-tunggu. Sebab, Om KW telah menuliskan banyak masukan, kritikan dan komentar di bagian belakang naskah. Ada pujian, ada kritikan pedas, dan mungkin juga masukan berarti, semisal saran untuk memperbaiki naskah lalu mengirimkannya ke media.

Di Pelangi, hari Minggu kami menjadi berarti. Meski hari Minggu mestinya digunakan untuk rehat di rumah untuk menyegarkan diri setelah jenuh dengan aktivitas harian, kami tak ragu menggunakan hari itu untuk datang ke Sanggar. Datang ke Sanggar saban Minggu membawa semangat yang berarti; bahwa nanti kami akan menjadi penulis besar, apapun kelak profesi yang akan kami sandang. Menulis akan tetap menjadi suatu kecintaan.

Meski anak-anak sebaya kami lebih menggunakan hari Minggunya untuk berkumpul keluarga, rehat di kamar, membuat tugas ketimbang beraktivitas di luar, tapi bagi kami justru dengan datang ke Sanggar, pikiran menjadi jauh lebih segar. Om KW tak lelah mengawali kelas sanggar dengan inspirasinya terlebih dahulu. Banyak cerita yang ia lontarkan, dan konon katanya, cerita-cerita itu disampaikan kepada kami semata untuk membawa imajinasi kami berkeliaran.Disanalah, Om KW akan memulai belajarnya, cara belajar fiksi ala dia sendiri, yang mungkin tidak pernah ada di seminar, workshop atau pelatihan manapun.

Gambar
Paling suka foto Kak Opie yang ini. Seolah-olah, dari foto ini, dia berkata “Eh, gue penulis!”

Sehingga, hari Minggu, bagi saya sendiri khususnya, menjadi hari yang selalu warna-warni. Hari Minggu yang selalu dinanti. Sebab, Pelangi telah membuat kami menjadi sangat berarti. Maghriza Novita Syahti, ia mungkin salah satu murid yang rasa amat berhasil dididik oleh Om KW. Cerpen-cerpennya, tak jarang mendapat pujian Om, diluar prestasi dalam sejumlah kompetisi fiksi. Kak Opie, begitu saya memanggilnya, memang telah lebih dulu mengawali pembelajaran fiksinya dengan Om, ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (tepatnya di SMA Negeri 3 Padang). Saya lupa persis atas semua prestasi yang telah diraihnya (karena terlalu banyak), tapi yang paling berkesan tentu saja menjadi Juara I Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) tahun 2008, mengalahkan ribuan peserta untuk Kategori C lewat cerpen ‘Lukisan Hujan’. Kak Opie mengaggumkan! Ia tidak hanya lincah menulis, tetapi juga mapan dalam menulis jurnalistik.

Murid lain yang tak kalah mengaggumkan adalah Kak Nilna Rahmi Isna. Panggilannya Kak Nilna. Kami (Kak Ria, Kak Icha, Kak Opie, Kak Amel) sama-sama bekerja dalam sebuah tim di P’Mails, sehingga waktu-waktu kami banyak dihabiskan bersama. Kak Nilna murid yang juga ‘digadang-gadangkan- alias diharapkan- oleh Om. Tapi, Kak Nilna punya banyak dilema, seperti orangtuanya yang kerap menyuruhnya pulang sebelum pukul lima, tuntutan di kampus dan harapan orangtuanya yang menginginkan kesuksesan Kak Nilna di luar jalur ‘menulis’. Saya punya banyak cerita dengan Kak Nilna yang beragam; ada manis dan ada yang asam. Tapi, beberapa tahun terakhir, Kak Nilna telah memilih jalannya. Ia tak lagi menulis karena sejumlah beban organisasi yang mesti ia pikul untuk pertanggungjawabkan. Dan, mungkin Kak Nilna jauh lebih bahagia dengan jalur ini (saya berharap kemampuan menulisnya tak tumpul, meski sibuk berorganisasi).

Gambar
Kak Ria Febrina. Sosok Ibu bagi para Laskar Pelangi.

Sementara itu, David, ia laki-laki selain saya di Pelangi yang mampu bertahan untuk waktu yang panjang. Satu persatu murid pelangi berguguran. Terlebih ketika, Kak Opie dinyatakan telah selesai mengikuti Kak Ria yang telah lebih dulu selesai, menyusul Kak Nilna dan terakhir Kak Amel. Menyusul pula saya, meski belajar di Pelangi berakhir ketika saat-saat saya masih belum mampu menulis baik secara stabil. Kata Om, tinggal menstabilkan kualitas, menggali dan mengeksplore tema-tema yang lebih baru. Jangan sampai terjebak pada bahasan cerita yang sama. Dan, setelah itu, Sanggar berakhir. Tidak ada hari-hari Minggu yang produktif. Tidak ada lagi motivasi dari Om. Kami semua, para Laskar Pelangi, bagai di lepas ke hutan oleh Om. Tinggal, bagaimana seterusnya, apakah kami bisa survive di hutan rimba ini? ‘Menjadi’ atau hilang sama sekali. Bertahan, atau perlahan di gerus zaman. Berkarya atau kemampuan itu akan tumpul dengan sendirinya..

***

Meski sekarang, kami semua berbeda kota (Saya di Depok, David di Bogor, Kak Ria, Kak Opie dan Kak Amel di Padang), tentu saja setiap kami merindukan kenangan semangat itu. Kami tahu dan bahkan sadar, untuk ke depan, dalam waktu yang panjang, kami hanya akan bersapa lewat karya. Ingin tahu, Minggu ini, karya siapa yang dimuat dimana. Pun, Om akan terus senantiasa memantau perkembangan kami, persis seperti caranya ‘mengawasi’ kami agar tak lengah dan mencermati peluang setiap waktu.

Gambar
Ini David lagi perpisahan SMA 10. Sekarang, ia menetap di Kota Hujan, Bogoe. Menimba ilmu sehari-harinya di IPB

David, setelah hampir cukup lama vakum menulis, semangatnya tiba-tiba kembali menyembul. Ia seakan mendapat petunujuk dan wahyu untuk mengumpulkan semua semangat yang tercecer menjadi satu. Ia berhasil. Dalam pelbagai kompetisi menulis cerpen di Bogor, ia bilang di facebook, jadi juara. Saya senang, dan tentu saja yang lain. Kemajan setiap anggota di Pelangi, turut menjadi penanda alias alarm pengingat untuk kemajuan yang lain. Kebahagian satu anggota ketika karyanya masuk atau dimuat di sebuah media, menjadi kebahagian anggota yang lainnya. Dulu, saya boleh punya cara tersendiri untuk memotivasi sesama, semisal Kak Opie yang saya beri ‘sindir peleceut’ agar ia menulis produktif dengan kemampuannya menulis fiksinya yang sangat mumpuni dengan kalimat; “Kak Opie ini apalah yang ndak ia punya. Produktif aja yang ndak!”, kini, saya diberi pula pelecut oleh yang lain. David yang memberinya. Begini cara ia ‘melecut’ saya!

“Yaah.. tentu hal itu akan saya lakukan. Saya tengah berupaya membangun nama mulai dari bangku perkuliahan ini, meskipun telat jika dibandingkan kau yang telah membangun nama semenjak kita “putih abu-abu” dulu. Ini hanya masalah “ku-bangun menara-ku”, Dodi, (jika kita sedikit beranalogi). Kau sudah membangun menara yang cukup kokoh dan beranjak tinggi. Sedangkan saya baru sebatas mendirikan pondasi. Akankah kau biarkan menara yang sudah kau bangun itu berhenti begitu saja? Bukankah kau yang lebih dekat dengan puncak dalam hal ini sebut saja langit ?! Ayolah, Dodi. Jangan biarkan menara yang sudah susah payah kau bangun ini merenggas. Kau lihat, jika kau terlalu lama tidur, satu persatu tiangnya akan keropos dan lambat-lambat bisa saja runtuh.. Saat ini banyak para pendiri menara-menara lain tengah mempersiapkan menaranya. Akankah kau biarkan begitu saja menara-menara lain tegak di tengah menaramu yang sebenarnya tinggal sedikit lagi saja menuju puncak..?!

Ini yang kutakutkan sejak dulu. Semoga ketakutan ini akan terbakar dengan semangat ini, semangat yang telah kau sulut apinya.

Oke, mari menata kembali menara kita masing-masing kawan-kawan Pelangi.

 

 

Iklan

2 comments

  1. Bang , sanggar pelangi lokasinya dimana ya bang? Soalnya aku tertarik juga buat belajar nulis
    Ngomong ngomong aku juga di padang kok , mohon infonya ya bang , trimakasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s