Artikel Populer

Memecahkan Teka-Teki Modus Anomali (Bagian 1)

Saya tahu film ini bagus, tidak semata ketika saya tahu bahwa Joko Anwar yang membesut film ini. Hampir dari semua karya film garapan Joko Anwar telah saya tonton, semisal Kala (2007) dan Pintu Terlarang – dalam versi English The Forbidden Door (2009) membuat saya perlu (dan dirasa patut) memberinya pujian.

Termasuk juga dalam sejumlah peran Joko di beberapa film, memberikan kapasitas yang berarti; seperti dalam film ‘Fiksi‘ (2008) dimana Joko bertindak sebagai penulis, di luar peran lain seperti Asisten Sutradara dalam film Arisan! (2003) dan sejumlah film lainnya. Namun, saya juga percaya, meski hanya mencuri-curi informasi melalui thriler dan teaser sebelum menonton, Senin malam (30/4) di 21 Depok Town Square, antara lain karena garansi seorang aktor utama Rio Dewanto dalam film ini (kendatipun, saya merasa Rio belum maksimal di Film ‘?‘) . Bagi saya, pilihan Joko Anwar untuk mempercayakan Rio untuk bermain di film besutannnya ini, adalah sebuah ‘perjanjian harga mati’ bagi para penggemar film Indonesia bahwa film ini memang layak tonton. Bukan film horor yang mengandalkan sensualitas untuk mendongkrak jumlah angka penonton, juga bukan film-film produksi Indonesia murahan yang akan berakhir dengan ending yang klise. Sebab, dalam Modus Anomali, Anda akan diajak berteka-teki!

Apa yang saya ragukan, khususnya tentang totalitas Rio berakting, salah besar. Saya bisa simpulkan, dalam film ini Rio telah membuktikan tentang totalitas beraktingnya yang mapan, sekaligus mengatakan bahwa Indonesia punya ‘satu stok baru’ aktor yang menjanjikan. Di luar pemilihan pemain (karena saya percaya, Joko Anwar paham benar dan selalu memperhatikan ini), saya juga merindukan bagaimana sineas dan kreator Indonesia kembali bereksperimen.

Gambar

Saya senang melihat, bagaimana dalam setiap filmnya, Riri Riza selalu mencoba yang baru, menawarkan konsep dan ide-ide film yang segar dan membawa nuansa yang fresh kepada penonton. Saya juga melihat potensi dan karakter yang sama dalam diri Joko (melalui pengamatan sederhana dari sejumlah karyanya), bahwa Modus Anomali, dalam skala tertentu, bisa dibilang sebuah bentuk eksperimen karya film yang merambah ladang ‘Thriller Psikologi’. Ini bisa dibilang, angin segar bagi perfilman nasional yang belakangan mulai ramai (sejak Januari 2012, bisa juga ditandai dengan hadirnya sejumlah film ‘Negeri Lima Menara’, ‘Dilema’, ‘Histeria’, ‘The Raid’ dll), juga bisa menandai bahwa menjelang pertengahan tahun ini, sineas tengah gencar berproduksi; semata tentu bertendensi untuk menghasilkan karya-karya layak tonton. Hal ini juga berdampingan dengan bagaimana tampak ada sebuah model film (mungkin bisa dibilang begitu karena saya tak mengerti soal teknik film) yang mulai digemari para produsen film; yaitu film Omnibus (kumpulan film mini yang dibesut sejumlah sutradara berbeda) seperti film ‘Sanubari Jakarta’, ‘Histeria’ dan beberapa tahun silam mungkin juga di film ‘Jakarta Maghrib’ dan ‘Love’. Tapi, itu bukan suatu pembaruan, karena telah banyak digarap oleh sejumlah sutradara terdahulu.

Apa yang ditawarkan Modus Anomali, bisa dibilang suatu eksperimen Joko yang ‘mapan’ dan ‘serius’ sehingga tampak berhasil dengan eksperimennya ini. Meskipun, sepanjang pertunjukkan, saya bagai merasa; diri saya tengah sedang berhadapan dengan kolom teka-teki silang di harian Kompas Minggu yang meski kerap saya isi, namun tidak pernah komplit. Begitu juga dengan film ini, terlalu banyak ‘selipan-selipan’ petunjuk dan kode-kode yang ditempelkan Joko dalam film ini yang belum berhasil saya hubungankan sehingga membentuk sebuah pemahaman makna yang utuh.

Saya pusing, bahkan ketika tengah menulis tulisan ini. Termasuk juga, sekeluarnya dari ruang pertunjukan bioskop, saya dibuat pusing dan bertanya-tanya, kemudian mencoba menecerna apa yang sebenarnya ingin disampaikan Joko dalam Modus Anomali, karena memang sungguh, ini sebuah teka-teki yang tak sederhana! Saya yakin dan percaya, saya bukanlah penonton tunggal yang keluar dari ruang pertunjukkan membawa sekotak pertanyaan. Teka-teki itu juga bahkan tak terpecahkan, pun hingga sepulang dari bioskop.

Akhirnya, saya memutuskan untuk browsing. Mencoba mencerna pelan-pelan, memahami kode demi kode, mencoba mengerti dan memahami scene demi scene yang masih segar di ingatan dengan dibantu sejumlah ulasan (meskipun banyak ulasan di google yang belum sepenuhnya menjawab tanda tanya besar saya). Saya kembali me-refresh ingatan saya, bagaimana Joko membuka film ini dengan menampilkan latar sebuah hutan (yang menjadi latar tunggal film ini; latar kabin hutan secara khusus), muncul binatang-binatang di pepohonan hutan; serangga, kadal dan yang lainnya. Pergerakan kamera yang menelusuri setiap semak belukar hutan, hingga pada akhirnya muncul karakter John (yang diperankan Rio Dewanto), keluar dari sebuah liang lahat hidup-hidup dengan kondisi serba berlumur tanah coklat.

Dari sini, teka-teki itu berawal; bahwa diceritakan John hilang ingatan, dan ia mencoba mengingat kembali apa yang tengah menimpanya dengan cara meraih dompet dan menemukan kartu identitasnya serta sebuah foto ‘keluarga bahagia’; ia dan istri beserta dua orang anak. Ia bahkan juga tidak bisa mengingat apa yang terakhir kali terjadi pada sebuah kabin di hutan (dimana terakhir kali tempat ia berlibur, tertawa canda bersama keluarganya). Kemudian, John kembali menelusuri hutan yang baginya pun terasa asing, sehingga Joko Anwar dalam hal ini tampak ingin menunjukkan; yang saat ini sedang kebingungan tidak hanya penonton (rasa ingin tahu di awal film tentang, apa yang sebenarnya terjadi pada John, siapa dia sesungguhnya?), melainkan juga tokoh utama dalam film ini sendiri yang berusaha mencari tahu misteri apa yang terjadi. Sehingga, ia kembali ke kabin dan menemukan sebuah televisi layar datar merek Sony (Sony bayar berapa ya sebagai sponsor?) dan sebuah handycam yang dipasang di tripot kamera. Lantas, dari sana muncul gambar seorang perempuan yang tak lain adalah istrinya (diperankan oleh Hannah Al Rashid) tengah terancam dibunuh oleh seseorang yang sungguh misterius. Istri John yang tengah hamil anak ketiga mereka akhirnya tewas setelah pisau milik sosok misterius itu menghunjam tepat diperutnya. Ini clue kedua, sekaligus lanjutan teka-teki ke rani yang lebih menyulitkan untuk dijawab.

Gambar

Bila mungkin insting saya kuat untuk menerjemahkan petunjuk-petunjuk Joko dalam film ini, mungkin saya tak perlu melakukan pencarian jawaban ini sendiri. Sejumlah petunjuk yang mungkin membantu memahami adalah; bahwa John sebenarnya tengah berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarganya dari ancaman maut sosok misterius itu. Jam alarm ini banyak muncul dalam beberapa scene, akan tetapi saya luput mencatat waktu-waktu yang ada, sehingga saya hanya bisa mengamati bagaimana perjalanan waktu film ini dengan latar suasana siang dan malam. Ini salah satu petunjuk untuk bisa menerka, sebab dalam sejumlah sinopsis Modus Anomali, tertera tulisan demikian; bahwa John sedang berpacu dengan waktu. Namun, sepanjang film ini dipertunjukkan, saya tak temukan bagaimana kondisi dimana John memang tengah berpacu dengan waktu. Karena saya rasa, penceritaan tentang John tengah berpacu dengan waktu tidak begitu dijelaskan selain, mungkin juga unsur-unsur suara alarm yang kuat karena dalam sejumlah artikel saya membaca, ini antara lain karena kemapanan Yusuf Andi Patawari dalam merekem setiap detail suara, sehingga tak satupun suara dari unsur benda yang menghasilkan bunyi luput olehnya. Salah satunya, suara alarm sebagai penanada waktu. Suara langkah kaki John yang kadang tersaruk-saruk melangkah di hutan dsb. Saya nukilkan dari yahoo, katanya juga, para peracik musik film ini merekam suara-suara dari pendingin ruangan, mesin kopi, atau air pembuangan di toilet yang kemudian di-mix menjadi seperti yang terdengar dalam film Modus Anomali. Oya, selain jam alarm itu, masih terdapat sejumlah petunjuk lain, semisal beberapa tempat, kotak-kotak yang ada diliang (kalau tak salah bertuliskan truth), mayat yang ditubuhnya tertulis tulisan ukiran di kulit tubuh, liang-liang yang ada, dan mungkin beberapa petunjuk yang tak teraba oleh saya. Ketika film dimulai dan hingga dua puluh menit awal berjalan, saya mulai merasa jenuh, karena yang tampil hanyalah bagaimana John tengah mencoba mencari tahu dan hampir sepenuhnya muncul adegan-adegan John berjalan menyusuri hutan, suara napas yang tersengal-sengal, seluruh tubuh John yang kumal dan terus berlari menjamah hutan yang maha asing olehnya. Tapi, ternyata, setelah saya pikir-pikir, apa ini mungkin bagian dari keutuhan cerita (bahkan, di sana juga terselip petunjuk itu).

Saya memang gagal belum bisa berhasil menerjemahkan maksud isi film. Ini juga kali pertama, setelah running text tanda film berakhir muncul dari layar bawah menuju layar atas, dalam menonton film, tapi saya belum berhasil mengerti benar maksud filmnya. Bahkan lebih ekstrem, ketika hendak menonton, masih ada menjanggal di benak; apa sebenarnya maksud judul film yang tak membuahkan sedikit gambaran di benak (kira-kira filmnya akan bercerita tentang apa, sebab biasanya dalam sejumlah judul film yang saya tonton, akan muncul asumsi-asumsi tersendiri dari judul). Dalam penelusuran saya, ternyata Modus Anomali berarti kejiwaan yang tidak biasa (dikutip dari Yahoo). Pendefinisian ini, mengingatkan saya pada sejumlah film Thriller berjudul ‘Psikopat’, yang juga memakai unsur-unsur yang kurang lebih sama, bahwa ada penjagal bernuansa Psikologis. Psikopat mungkin bisa dijelaskan dalam literatur Psikologi, sebagaimana juga film Modus Anomali ini.

Namun, dalam waktu dua jam ini menulis ini, saya tentu tak berhasil temukan literatur Psikologis yang mampu menjelaskan apa sebenarnya sisi kejiwaan yang ‘tidak biasa’ itu, sebagaimana yang ingin dihadirkan oleh Joko melalui karakter John, dimana ditampilkan dalam film, John muncul sebagai karakter penjagal nyawa. Melalui cara pura-pura (setelah diceritakan, secara tak sengaja ia telah membunuh kedua anaknya secara sadis, mungkin juga karena faktor harus berpacu dengan waktu, sehingga waktu yang menjawabnya), ia menyamar sebagai seorang tetangga yang tinggal di kabin hutan sebuah keluarga. Keluarga itu juga tengah menikmati masa liburnya; antara lain diperankan oleh Marsha Timothy, Surya Saputra sebagai suami istri bersama kedua putra mereka. Dari sinilah, saya baru bisa merasakan sisi kejiwaan yang tidak biasa dari John yang ternyata seorang ‘pemain kematian’ karena ia aktor baru terhadap kematian keluarga itu. Secara sadis, John memukul Surya Saputra dengan tongkat baseball sehingga jatuh pingsan. Disusul membekap mulut Marsha dan menempelkan sebuah cairan (nah, ini dia, saya tak mengerti itu cairan apa dan juga yang pernah disuntikkan John ke lengannya, yang dalam asumsi saya, inilah yang menjadikan John menjadi penjagal karena dibagian akhir, ada kalimat “Beri aku monster!” seraya menyuntikkan jarum itu ke tubuhnya). Lalu, John merekam di handycam milik keluarga Surya dan Marsha, setelah ia sebelumnya melihat beberapa video keakraban keluarga itu, bagaimana ia mencoba membangunkan kembali Marsha lantas membunuhnya. Semuanya ia rekam dalam handycam lantas ia tinggalkan di atas meja. Sementara, juga ada sebuah kertas di sisi kedua putra Marsha dan Surya yang agaknya belum mati. Di sana tertulis tulisan John tentang sejumlah ancamannya, dan kalimat bila mereka (kedua putra Marsha dan Surya) ingin menemukan Bapak mereka, carilah kunci yang tersimpan dalam tubuh John yang ia sendiri lantas mengubur dirinya hidup-hidup. Di sinilah, saya mulai kembali dibuat berasumsi; apa cairan berwarna itu semacam cairan untuk melupakan ingatan, sehingga bilaman kedua putra Surya dan Marsha siuman, ia tak ingat apa yang terjadi (sebagaimana yang tengah menimpa John di awal film)? Atau, apa yang telah diperbuat John pada keluarga Marhsa dan Surya, adalah memang sebuah ‘permainan kematian’ yang digemari John karena ia tengah mengidap kejiwaan yang tidak biasa itu? Saya rasa, arahnya akan ke situ. Saya rasa juga, tokoh John, merupakan tokoh misterius yang hobi membunuh demi kepuasaan jiwanya yang tidak biasa itu, karena ada scene dimana ia merekam cara ia membunuh Marsha. Secara sadar, ia merekam semua itu lewat handycam.

Saya sungguh kecewa sebenarnya, tak berkesempatan hadir dalam Screening Film ‘Pintu Terlarang’ dan Bedah Film Modus Anomali yang dihelat BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Senin (30/4) di Pusat Studi Jepang yang menghadirkan Joko Anwar (selaku Director-Produser), Lala Timothy (Produser) dan sejumlah kru serta Cast film ini. Waktu untuk mengikuti Journalist Days di Fakultas Ekonomi yang bertabrakan membuat saya mesti harus memilih salah satu (diluar pilihan untuk absen pada mata kuliah Dasar-dasar Penulisan). Bila mungkin berkesempatan hadir, mungkin saja, sedikit banyak, saya bisa dapat bocoran untuk menjawab kebingungan dan teka-teki. Minimal, saya ada saldo clue dan tidak sebingung ini ketika sepulang menonton.

Saya pikir, ini film cerdas, karena berhasil membuatnya penonton bingung. Saya tak tahu, apa ini ada quotesnya; yang jelas ada kalimat yang menyebutkan, karya besar adalah karya yang membuat orang banyak berpikir. Tidak salah kalau film ini menyabet sejumlah prestasi seperti memenangkan penghargaan Bucheon Award di ajang Network of Asian Fantastic Films (NAFF) yang merupakan bagian dari Puchon International Fantastic Film Festival di Korea Selatan (Juli 2011) dan World Premiere di festival film terbesar kedua di Amerika Serikat, South By Southwest (SXSW) 2012, di Austin, Texas pada 9-17 Maret 2012. Saya pikir lagi, ini kesuksesan besar Joko Anwar untuk karya filmnya yang sangat dinanti-nanti juga dikemudian hari. Semoga ini menjadi PR kita bersama untuk memahami lebih dalam lagi teka-teki itu, sehingga misteri terpecahkan! Kepada Joko Anwar dan Rio Dewanto, saya ucapkan selamat.

*) Dodi Prananda, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UI. Ia merupakan seorang penikmat sekaligus penggemar film.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s