Tulisan Lepas Non Fiksi

Pesan-Pesan Hidup di Rantau

Terus terang, saya amat terharu ketika menyadari; tanpa saya sadar, banyak orang mendoakan akan kesuksesan saya. Banyak orang menumpangkan harapannya pada kesuksesan yang hendak dituju itu. Banyak orang yang pastinya akan menaruh kecewa, bila saya mengecewakan mereka. Oh, Tuhan.

GambarSemua bermula ketika saya telah berada di tanah ini, tanah kota Jakarta. Tepat di sebuah kota besar, penjuru selatan kota Jakarta. Depok namanya. Di sini, saya memulai hari mengejar cita. Menjadi seorang mahasiswa di jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Ini kali pertama sepanjang sejarah hidup merantau. Kalau soal tak tinggal bersama orangtua, rasanya saya sudah ‘kenyang’ hidup mandiri dan tak lagi canggung bila hidup tanpa orangtua. Enam tahun lebih lamanya, saya hidup dan tinggal bersama nenek dan Bibi. Tidak bersama ayah dan ibu.

Tapi, di luar itu, keberangkatan saya dari Padang ke kota ini; untuk mengejar cita-cita itu, banyak doa yang teriring. Pesan-pesan dan resep hidup itu dialamatkan pada saya, tentu saja semua beralaskan rasa peduli, rasa telah memiliki, dan rasa yang mungkin tak terdefinisi untuk dituliskan. Karena itu, saya lagi-lagi takut mengecewakan mereka bilamana apa yang mereka harapkan atas semua itu belum mampu saya bingkiskan kepada mereka.

Mereka, tidak hanya keluarga yang merupakan orang-orang sedarah dengan saya. Namun, juga mereka-mereka yang dihadirkan Tuhan di sekitar saya. Tetangga, teman-teman, guru-gutu, pun bahkan orang-orang yang hanya saya kenali di dunia maya. Di luar mereka yang pernah dekat atau saling mengenali, saya sungguh kagum ketika mendapati jendela obrolan jejaring sosial saya, ada pesan-pesan itu.

Pesan-pesan hidup di rantau, begitu saya tuliskan tittle notepad di laptop saya ketika kata demi kata, kalimat demi kalimat itu saya kopi ke notepad; dengan harapan, suatu hari bila saya lumpuh ‘semangat’, bila saya hilang arah, bila saya kehabisan dosis motivasi, catatan-catatan ini akan membakar semangat saya lagi. Catatan-catatan ini akan menjadi obat penawar saya untuk menatap kembali jalan panjang di depan saya. Dua diantara mereka adalah; Sutan Sinaro (saya tak tahu persis, siapa sebenarnya Sutan Sinaro ini? Karena, hanya mengenali beliau lewat dunia maya), dan satu lagi Bang Rizki Sikumbang (kalau satu ini, meski juga belum pernah ketemu langsung, saya sudah merasa dekat karena lumayan intens berkomunikasi). Suatu waktu, mungkin akan saya kutipkan pesan-pesan itu di blog ini. (*)

Iklan
Standar

4 thoughts on “Pesan-Pesan Hidup di Rantau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s