Opini

Racun Itu, Bernama Dunia Maya!

Dunia maya memang tidak mengherankan bila dikagumi banyak orang, khususnya remaja. Hal ini didasari atas faktor kemudahan dalam berkomunikasi tanpa mengharuskan kontak langsung antara dua pihak komunikator. Kecanggihan dan kemudahan itu, juga tidak tertutup untuk dilakukan dengan semua orang yang ada di bumi belahan manapun. Semuanya bisa terjamah dalam sebuah ruang media maya yang belakangan ini trend dengan sebutan situs jejaring sosial.

Adalah kemajuan teknologi yang selalu disebut-sebut sebagai faktor utama kenapa gaya komunikasi maya menjadi kiblat utama belakangan ini. Kemajuan tersebut, khususnya pada sektor komunikasi maya yang berbasis pada perkembangan teknologi mutakhir, sangat memungkinkan setiap orang menggunakannya. Situs-situs pertemanan atau jejaring sosial mulai menjamur di internet. Setiap orang, dimanapun ia berada, dapat dengan mudah mengaksesnya. Selain proses pendaftarannya yang tidak begitu rumit, fitur-fitur dalam jejaring sosial yang beraneka ragam, punya daya tarik sendiri bagi masyarakat konsumennya untuk masuk ke dunia itu.

Untuk saat ini, sebut saja facebook, twitter, skype, plurk punya trend tersendiri bagi kebanyakan remaja. Sehingga, ini mempengaruhi pola dan gaya hidup remaja saat ini. Bila bertemu seseorang, alamat elektronik dunia mayanya tidak alfa diminta. Komunikasi maya seolah jadi primadona tersendiri, punya pasar konsumen yang ramai pada kalangan remaja.

Tanpa disadari atau tidak, inilah madu yang kemudian perlahan-lahan berubah menjadi racun. Remaja yang tidak mengontrol penggunaan komunikasi maya secara berlebihan, menyebabkan ia rentan hidup dalam belenggu dunia maya itu sendiri. Seperti apa belenggu dunia maya? Salah satunya adalah menumbuhkan sikap asosial atau anti sosial bagi pengguna yang secara hiper mengonsumsinya. Berlama-lama duduk di hadapan dunia maya, kerap menjebak orang melupakan kehidupan nyata di sekelilingnya. Seolah, dunia maya begitu asyik rasanya dan punya  candu tersendiri. Tapi, akibatnya, mereka yang terjangkit racun itu, sering lena sendiri dan bersikap cuek pada lingkungan sosial. Betapa dunia maya, telah menjebak banyak penggunanya menjadi manusia yang asosial. Manusia yang menihilkan keberadaan orang-orang di sekelilingnya.

Hal ini begitu nyata kita lihat pada sebuah tayangan video garapan orang Thailand berjudul Disconnect to Connect. Video berdurasai kurang lebih satu menit 32 detik itu bercerita tentang kehidupan maya banyak orang yang ternyata telah menihilkan keberadaan kehidupan nyata di sekelilingnya. Dibuka dengan seorang pria yang berjalan bersama kekasihnya di tepi pantai, dimana sang kekasih dibiarkan sendiri karena sang pria tengah asih dengan dunia maya yang diaksesnya melalui gadget ponselnya.

Digambarkan, sang kekasih menghilang meski jejak kakinya masih terus mengikuti kemana langkah sang pria. Lalu, juga ada seorang pria yang asyik dengan handphonenya dan membiarkan dua buah gitar terbang melayang tanpa ada yang memetiknya. Sementara itu, dalam suasana sebuah rapat, seorang perempuan muda sibuk dengan handphonenya, dan membiarkan kursi di sekelilingnya bergerak-gerak sendiri tanpa tahu siapa yang duduk di sana. Dan sejumlah, manusia-manusia lainnya yang terjebak dalam belenggu dunia maya yang sama. Mereka tenggelam dalam keasyikan dunia maya yang begitu mudah diakses dan menjadi trend yang popular saat ini.

Lantas, bagaimana akhir dari video itu? Ketika handphone itu dimatikan, ketika kehidupan dunia maya dihentikan sementara, barulah manusia-manusia yang telah keracunan dunia maya itu menganggap keberadaan orang di sekelilingnya. Seorang perempuan muda yang padahal punya rekan-rekan kerja dalam suasana rapat yang santai, harmonis dan ada canda tawa di sana. Seorang lelaki muda yang memainkan gitar bersama kedua temannya yang menyatu dalam kekompakkan bersama dirinya. Seorang kekasih yang berjalan begitu di tepi pantai ketika ia baru saja mematikan ponselnya dan mempedulikan bahwa ada seseorang di sampingnya.

Video tersebut adalah potret kehidupan sosial saat ini. Bahwa saat ini, telah begitu banyak remaja yang telah tenggelam terlalu dalam dalam pukau dunia maya. Keracunan dunia maya menjadi indikasi kenapa mulai banyak manusia-manusia yang tidak lagi peka terhadap lingkungan di sekelilingnya. Antara lain adalah pengaruh dari racun dunia maya yang telah berjangkit pada banyak manusia, khususnya remaja. Telah begitu dalamkah kita tenggelam dalam pukau dunia maya, sehingga terkadang bersikap cuek pada sekeliling kita? Bila ingin jawaban, apakah kita bagian dari orang yang telah keracunan itu, Anda bisa unduh videonya di youtube dengan kata kunci, Disconnect to Connect. Itukah kita? (Dodi Prananda, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia)

 

Iklan
Standar

One thought on “Racun Itu, Bernama Dunia Maya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s