Koran

Sejak memulai kehidupan sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia, koran adalah salah satu hal yang semakin dekat dengan saya. Untuk bisa akses membaca koran, saya tidak perlu cari kios-kios atau lapak koran yang jauh seperti ketika saya ingin beli koran di Padang. Di Padang, selain akses lapak jauh dari tempat tinggal ataupun sekolah saya dulu, harga koran juga relatif lebih mahal. Tentu saja ongkos kirim membuat harga koran jauh sedikit lebih mahal.

Gambar
Foto Dok.Pribadi, Lokasi: Perpustakaan Bung Hatta, Bukitinggi

Hal ini saya temui berbeda ketika mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Koran, sahabat saya paling dekat ketika masih di Padang dulu, menjadi semakin dekat dengan saya. Bermula ketika saya mengetahui harga untuk sebuah Kompas hanya dua ribu rupiah. Di Padang, saya mesti berpikir dua kali untuk beli Kompas. Ada pertimbangan sebelum beli, seperti, apakah koran Kompas yang saya beli ini menyuguhkan isu dan topik yang menarik. Bila tidak, saya memutuskan untuk tidak beli koran. Selain merasa kemahalan karena harga koran yang didirikan P.K Ojong dan Jacoeb Oetama itu relatif mahal karena ongkos kirim (harganya yaitu tiga ribu lima ratus rupiah), saya juga mesti berpikir: tumpukan koran di rumah sudah menggunung. Lambat-laun, rumah saya bisa penuh dengan koran. Karena itu, untuk koran harian, saya mesti selektif membelinya.

Hal ini tidak berlaku untuk koran mingguan. Terus terang, sebagai penyuka sastra, saya (bahkan) hanya lebih mengenal koran mingguan ketimbang koran harian. Kondisi seperti ini, tidak hanya mutlak pada Kompas sebab saya juga menyenangi koran minggu lainnya. Apapun itu korannya (tentu saja termasuk Singgalang Minggu), sebut saja Tempo, Seputar Indonesia, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos. Ditambah lagi koran-koran baru yang saya temui disini seperti Koran Jakarta, Indopos, Warta Kota, Suara Karya, Suara Pembaharuan, dan sejumlah surat kabar lainnya. Selain lebih menarik karena menyuguhkan hal-hal yang berbau softnews, koran Minggu juga menghadirkan rubrik cerita pendek dan puisi yang menjadi rubrik primadona saya.

Tetapi, semenjak di sini, mengingat harga koran yang jauh lebih murah, membuat saya ingin semakin berdekatan dengan koran. Selain Kompas yang dijual dengan harga murah, saya juga bisa mengakses baca koran Tempo lebih irit. Harganya cuma seribu lima ratus rupiah. Media Indonesia, apalagi. Harganya hanya seribu rupiah. Harga yang sama untuk koran yang dijual di barak (sebutan untuk kantin) di Universitas Andalas. Harga lain yang tak kalah terjangkau adalah koran lokal Jakarta, yang khusus harga kereta, hanya seribu rupiah. Murahnya harga koran, faktor lainnya, disebabkan karena salah satu stasiun di Depok terletak tepat di lokasi Universitas Indonesia. Sehingga, tarif koran pun ada yang disebut dengan harga kereta. Harga kereta, hampir semua koran di banderol dengan harga seribu rupiah.

Murahnya harga koran, pada satu sisi yang subjektif, memang menguntungkan saya. Dulu, bila ingin beli koran, setidaknya saya harus keluarkan sepuluh ribu rupiah untuk tiga koran. Sekarang, dengan nominal yang sama, saya bisa beli sekitar tujuh bahkan delapan koran. Ini jelas membuat saya lebih hemat, demi kebutuhan akses membaca koran. Kini, memungkinkan saya untuk akses koran harian secara hemat di samping, kebutuhan suplemen membaca koran Minggu apapun yang dijual di sini.

Tetapi, murahnya harga koran, dalam kacamata saya, ternyata tidak berpengaruh terhadap peningkatan minat baca remaja terhadap koran. Padahal dulu, ketika mengetahui harga koran yang jauh relatif lebih murah di sini, saya membayangkan, para remaja di sini menjadikan koran sebagai konsumsi harian. Ternyata tidak pula ini menjadi hal yang mutlak. Murahnya harga koran tidak berbanding lurus dengan meningkatnya minat baca. Di lain sisi, saya pun menyadari, remaja ternyata juga melihat sebuah media massa dari sisi isu headline yang diangkat oleh koran itu. Bila koran itu menyuguhkan bahasan yang menarik, saya bisa memastikan, remaja pasti akan baca koran. Terlepas dari itu, koran dibiarkan sendiri. Menunggu tangan-tangan remaja, membukanya, membacanya lalu mengambil hal-hal positif dari tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. (Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s