Tulisan Lepas Non Fiksi

Ibu; Makhluk Paling Istimewa di Muka Bumi

Ibu; Sosok yang Luar Biasa (Foto:Dok.google)

Oleh Dodi Prananda

Dua bola mata melirik almanak penghujung tahun di meja; 22 desember. Ibu, tunggu aku sedang merangkai aksara itu untukmu. Hari ini aku akan menjelangmu, pada daun-daun gemerisik di atas nisan; hanya untuk melunasi rindu kita berdua. Seperti mereka, aku ingin langit bercinta, di bangku taman aku menyalakan lampu merkuri kebahagian untukmu dan aku lihat ibu, aksara-aksara itu berloncatan ke matamu, menghapus bening yang belum jua mengering di sana..

Itulah petikan puisi ‘Mengenang Kecupan Ibu’ yang saya tulis untuk menyambut peringatan hari Ibu, Kamis (22/12). Sosok makhluk Tuhan bernama Ibu menjadi sesuatu yang amat berharga bagi setiap orang, pun termasuk saya.

Untuk itulah, kenapa ada yang namanya peringatan Hari Ibu, dimana ada penanggalan khusus untuk memberikan previledge dan semacam penghormatan tertentu pada sosok Ibu. Di setiap momen hari Ibu, saya menjadi disadarkan betapa beruntungnya memiliki Ibu. Ibu dimata saya adalah sesuatu yang amat berharga, jauh dari harga sebuah materi. Ibu tidak hanya menjadi tempat bersandar di kala hati terasa lelah.

Ibu juga tidak sekadar sosok yang ada di setiap kita merasa kesusahan, gundah hati, bahkan di saat sakit sekalipun. Ibu yang ada disaat kita mungkin dimarahi ayah, atau Ibu juga yang selalu siap (dan ada) disaat kita menemui kondisi terjepit apapun; ketika misalnya kita mesti dipanggil guru BK ke sekolah, ketika kemalangan, ketika butuh duit buat beli ini itu, ketika kedukaan menghampiri. Sementara di luar sana, justru tidak sedikit pula, anak sebaya saya (pun mungkin saya sendiri) yang kadang dengan ringan melukai hati dan perasaan Ibu.

Disinilah saya merasa; bahwa sosok Ibu akan menjadi terasa sangat berharga dan penting dalam hidup kita, justru ketika kita dihadapkan pada kondisi kehilangan dirinya. Ketika Ibu telah tiada, terasa (klise) baru muncul rasa kehilangan akan dirinya. Persis, sebagaimana yang saya rasakan hingga saat ini.

Bahkan, kadangkala kita justru tidak menyadari betapa kita telah berlaku tidak adil dalam menempatkan rasa menghormati Ibu; semisal lupa bahwa hari Minggu ada karena menjadi waktu yang tepat untuk berada di rumah bersamanya; mencicipi makanan dan menu di kala libur bersama keluarga, menemani ia di rumah, membantu ia memasak, ke pasar, ke supermarket, dan menonton televisi bersama. Tapi, kadang kita merasa abai dan merasa aktivitas di luar sana (pada Hari Minggu) tetap jauh lebih penting ketimbang berada di rumah.

Untuk itulah, di momen paling spesial ini, 22 Desember 2011 ini, saya telah menyiapkan sepotong puisi berjudul ‘Mengenang Kecupan Ibu’ sebagaimana petikannnya saya terakan di awal. Terselip pesan saya kepada seluruh anak di muka bumi ini, agar; mulai dari sekarang sayangilah Ibu kalian, bahagiakan ia. Hadirkan pada hidupnya kebahagian-kebahagian yang telah purba ia rindukan. Ia selalu ingin kita bahagia dan kadang ia meluputkan kebahagian untuk dirinya sendiri.

Ibu selalu tidak sampai hati melihat kita (anaknya-red) susah, sehingga kadangkala ia mengabaikan kesusahan bagi dirinya sendiri. Bila sangat mungkin seorang Ibu berkorban demi anaknya, maka rasanya sudah pantas pula balasan pengorbanan itu dibayarkan. Siapkan untuknya kejutan-kejutan yang sederhana semisal kesuksesan yang kita raih mendapat nilai tinggi di sekolah, menang pada lomba atau kompetisi, lulus kuliah dan bekerja, hidup yang mapan. Hanya itulah yang mungkin bisa menghadirkan senyum paling indah di wajah ibu kita.

Hal lain yang menjadi alarm bagi kita semua; jangan sampai tertoreh di hatinya luka dan kekecewaan. Di pundak setiap anak, Ibu manapun di muka bumi ini, selalu menitipkan dan menompangkan harapan-harapan agar anaknya sukses kelak. Bila misalnya kita tidak bisa memberikan kebahagian, cukup untuk tidak membuat ia kecewa. Berikan rasa sayang itu, seadil mungkin, dan jangan memonopoli porsi rasa sayang dalam diri hanya untuk kekasih, karena kekasih yang perlu dapat porsi lebih adalah perempuan bernama Ibu. Untuk yang masih memiliki ibu, di hari ibu ini, saya selipkan salam hormat saya pada seluruh Ibu di muka bumi.

Dalam kamus kehidupan saya, Ibu adalah makhluk paling istimewa di muka bumi ini. Untuk ibu saya, yang sejak delapan tahun silam sudah di menikmati kehidupan di sana; telah ribuan puisi saya ciptakan untukmu Ibu, telah ribuan pula kasih sayang itu tersimpan di kotak kenangan yang berdebu, telah ribuan pula kenangan itu semakin ranum di hatiku, sebagaimana di dalam setiap tidurku, aku memimpikan kecupanmu, kecupan hangat yang sudah purba tidak lagi kurasakan. Selamat Hari Ibu. (*)

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s