Esai Sastra

Baju Baru Sang Raja; Cara Lain ‘Menertawakan’ Hipokrit Politik

Baju Baru Sang Raja; Sebuah Pementasan Teater Sastra Universitas Indonesia karya I Yudhi Soenarto (Dok.Khusus)


(Catatan atas Pementasan Teater ‘Baju Baru Sang Raja’ karya/sutradara I.Yudhi Soenarto)

 Oleh: Dodi Prananda

Menyaksikan pementasan teater Baju Baru Sang Raja karya/sutradara I.Yudhi Soenarto yang diangkat dari The Emperor’s New Clothes karya H.C. Andersen seperti menyaksikan potret imajinasi yang sangat nyata kita rasakan saat ini. Boleh jadi, pementasan ini semacam gambaran betapa miris dan ironinya keadaan dan kondisi politik yang ada saat ini.

 Pementasan ini bercerita mengenai gambaran akan kompleksnya keadaan sebuah kerajaan pasca Indonesia pecah pada tahun 2020, dimana intrik politik, hawa nafsu, kebohongan dan ‘pembohongan’, kebodohan dan termasuk ‘pembodohan’ maupun sekelumit pengabaian terhadap nilai dan normal diangkat secara gamblang. Pun diceritakan, pada tahun ini, pasca mengalami keruntuhan sehingga wilayah-wilayahnya memisahkan diri dan menjadi negara-negara baru. Salah satu negaranya, yang menganut sistem pemerintahan monarki konstitusional, dipimpin oleh raja yang bersikap serba mewah. Ia dibantu oleh lima orang menteri yang dijadikan sebagai alat propaganda, pencitraan, sekaligus kemewahan. Hal ini sekaligus mengakomodosi pementasan Baju Baru Sang Raja ini sebagai upaya (untuk) hendak menunjukkan betapa kekuasaan (politik), tidak berarti apa-apa selain menjadi alat yang ‘mapan’ untuk melakukan penakhlukan sekaligus penghancuran logika dan nilai.

 Adalah hal yang patut diapresiasi atas kelincahan I.Yudhi Soenarto dalam mengemas dongeng kanak-kanak The Emperor’s New Clothes karya H.C. Andersen dengan menyuguhkan sesuatu yang terasa segar di dalamnya, yaitu iklim yang buruk terhadap betapa politik telah menjadikan logika dan nilai sebagai sesuatu yang begitu gampang untuk dihancurkan.

Baju Baru Sang Raja tidak lagi sekadar menjadi suatu tontonan fantasi dan dongeng klasik yang semata menampilkan ikhwal kisah raja dan jubah barunya (yang katanya hanya bisa dilihat oleh orang tertentu, dan memaksa diri ia sendiri untuk berbohong). Melainkan, ini menjadi sebuah cara lain untuk menampilkan hipokrit-hipokrit yang busuk dalam ranah politik yang selalu berkiblat pada kekuasan, keagungan, dan kewibawaan.

I. Yudhi Soenarto menghadirkan ini sebagai suatu tontonan bergizi, sebab, pada konteks kekinian, moral values yang diangkat dalam pementasan ini menjadikan kita sangat sensitif dan berupaya untuk meraba-raba pesan-pesan yang diselipkan di dalamnya, lalu mencoba mengorelasikannya dengan wajah perpolitikan Indonesia saat ini.

Pementasan ini kaya dengan beraneka sindiran-sindiran yang dihadirkan melalui karakter raja yang fanatik terhadap kekuasaan, dan punya kecendrungan birokrasi inertia yang tinggi, sehingga kedudukannya yang agung sebagai raja disimbolkan sebagai sesuatu yang mutlak dapat melumpuhkan kekuatan dan pakem logika dan nilai yang dianut.

Selain itu, pementasan ini terasa sangat berhasil mendongengkan betapa telah bobroknya moral yang didengung-dengungkan sebagai hal yang agung, yang justru pada  kenyataannya hal ini telah menjadi semacam ‘sampah’. Hal lain yang membuat pementasan ini menjadi bernilai adalah cara penyampaian yang dihadirkan melalui unsur komedik yang kentara, sehingga, ranah politik yang dijadikan bahan satiran, tampak implisit. Hanya saja, dalam penilaian saya secara subjektif, durasi pementasan yang relatif lama, membuat saya menilai rasanya ada beberapa babak yang terkesan memanjang-manjangkan cerita. Sehingga, tanpa babak itupun tidak akan mengurangi keutuhan dan subtansi utama cerita. Untuk Bapak I.Yudhi Soenarto (dan para pemain) saya ucapkan selamat atas keberhasilan pementasan yang luar biasa ini. (*)

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s