Motivasi

Tanamlah Toge, Berharap Tumbuh Trembesi!

Inilah yang setidaknya menjadi sebuah analogi dalam pemikiran saya, seusai mengikuti sebuah seminar yang mengangkat isu-isu kepemudaan. Sebuah Seminar bertajuk ‘Seminar Kepemudaan: Kontiniutas Peran Pemuda dalam Kepemimpinan, Kepeloporan dan Kewirausahaan yang dihelat oleh BEM FISIP dan Mahalum Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Kamis (15/12) di Auditorium AJB Bumiputera, Gedung F Lantai 2. Bahwa saya punya sebuah kesimpulan yang menarik; Tanamlah Toge, Berharap Tumbuh Trembesi!

Sebagai Mahasiswa Baru (Maba) di FISIP UI, di jurusan Ilmu Komunikasi, kegiatan mengikuti seminar menjadi semacam hobi favorit belakangan ini. Saya selalu mencari tahu kegiatan-kegiatan seminar terbaru, apapun tema yang diangkat dalam seminar itu. Saya juga bahkan tidak memperhatikan (kadang), siapa yang menjadi pembicara di seminar itu, dan siapa pula yang mengadakannya. Yang menjadi perhatian saya hanyalah; apapun seminar yang saya ikuti, sedikit banyak akan menyumbangkan pemikiran dan ilmu pada diri saya. Untuk itu, saya menjadi punya semacam kredo bahwa selagi ada seminar (di lingkungan Universitas Indonesia), khususnya yang free entry, saya akan selalu sempatkan untuk datang.

Sebagaimana kebiasaan ikut pada acara seminar itu, juga berlaku pada hari ini. Dulu, sebelum kami sempat konflik di Asosiasi Mahasiswa Pecinta Seminar (AMPS) Tiga Serangkai . Kami selalu memantau kegiatan seminar terbaru, dan sedikit ‘melototkan’ mata pada flyer dan selebaran di halte bis kuning jurusan apapun, mading fakultas apapun dan memperhatikan setiap nama contact person sebuah event seminar dan buru-buru mendaftarkan diri. Tapi, khusus seminar kali ini, saya nyaris tidak punya persiapan. Saya tipikal orang yang prepare untuk suatu hal, selalu siap sebelum masuk pada suatu dan kondisional keadaan tertentu. Pun berlaku bila saya mengikutkan diri untuk kegiatan berupa seminar; dimana saya selalu mencari bahan sebelum datang ke acara seminar tersebut. Seolah ada prinsip yang tertanam dalam diri saya bahwa saya tidak ingin menjadi asing bila bersentuhan dengan suatu hal, dengan kata lain, hanya tidak ingin terlihat ‘tidak tahu’ dan buta pada bahasan yang menjadi isu seminar dan diskusinya.

Seminar kali ini saya ikut sporadis. Tapi, berkesan. Amat meninggalkan banyak buah-buah pemikiran yang perlu follow up pembahasannya dan rasanya waktu lima jam sangat kurang untuk mengkover bahasan yang amat menarik. Pada dasarnya, saya selalu membuka diri untuk bersentuhan dengan cabang ilmu manapun dengan aneka topik apapun, karena bagi saya bila ada seseorang yang ‘masturbasi ilmu’ adalah mereka-mereka yang bagai sebuah ember kecil, yang merasa bahagia sudah terisi penuh, sementara banyak di luar sana, ember-ember besar yang masih terus mengisi, tiada lelah menampung apa saja yang bisa ditampungnya. Kali ini, seminar membahas ikhwal isu kepemudaaan dan bagaimana peran pemuda mampu melakukan upaya akeselarasi dalam perubahan.

Saya tidak ingin berbagai tentang apa yang menjadi bahasan penyaji seminar pada kesempatan ini, tapi saya hanya mengemas suatu hal yang bagi saya menarik untuk ditulis. Saya menyenangi para penyaji yang terlihat berapi-api di depan forum ketika saya mencoba melempar sebuah kasus ke floor, dan sontak sang penyaji mencoba mengupas apa yang menjadi buah pemikiran saya tersebut. Pada kesempatan itu, saya bertanya ikhwal kiblat pragmatis kapitalistik yang terlalu menggerus jaman sehingga menihilkan keberadaan prinsip nasional yang dianut, membuat pemuda kehilangan jati diri karena kuatnya desakan pengaruh kapitalisme dalam mempengaruhi cara pandang, pola perilaku, mindsheet dan sebagainya. Pada tataran teoritis, saya senang pemateri mampu menjawab ini dan terasa sangat mengenyangkan saya dengan aneka referensi teorotisinya.

Akan tetapi, sepanjang diskusi yang alot itu berlangsung, saya menyimpulkan suatu hal yang amat penting; bahwa tanamlah toge, siapa tahu, suatu saat akan tumbuh trembesi.

Dalam rangka memanifestasikan spirit-spirit perubahan, seorang pemuda tidak semestinya pula harus muluk-muluk memimpikan perubahan dari suatu aksi yang besar. Banyak pemuda sekarang terjebak pada keinginan ingin mewujudkan perubahan yang besar tapi merujuk pada sesuatu yang terlampau tinggi dan pada skala tertentu, justru terasa nihil dan tidak mungkin untuk diwujudkan. Untuk itu, dalam persepsi dan pemahaman (pun pada tataran saya menginterprestasikannya), saya menjadi terdorong untuk selalu berkata ‘go a change‘ tapi mulai pada hal-hal kecil di sekitar saya. Banyak hal kecil di sekitar kita yang semestinya bisa kita lakukan dalam rangka perubahan itu sendiri, tapi sayang, mata kita yang lamur dan pikiran yang ngawang, kerap membuat kita terkurung pada pemikiran perubahan yang harus pada taraf yang besar. Oh, tidak, itu salah kaprah. Sebagaimanapula kebanyakan orang (dan juga mungkin saya) selalu bermimpi ingin menembus KOMPAS, tapi tidak memulainya pada media-media kecil (semisal media lokal di daerah) dan aneka media terbitan Jakarta. Ayo, dari sekarang, tanamlah toge, suatu saat, siapa tahu trembesi yang akan menggantikan pertumbuhan toge itu.

Depok, 15 Desember 2011.

Iklan
Standar

2 thoughts on “Tanamlah Toge, Berharap Tumbuh Trembesi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s