Muhammad Iman Usman Itu Dimata Saya, Seperti…

Muhammad Iman Usman, Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. (Foto; Dok.Pribadi)

Oleh: Dodi Prananda

Sebelum saya memulai cerita ini, saya hendak memperkenalkan diri terlebih dahulu melalui bahasa tulis. Saya Dodi Prananda, berusia 18 tahun dan saat ini sedang menempuh studi di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia. Tulisan ini semata, memberikan gambaran, penilaian serta apresiasi terhadap pribadi Sdr.Muhammad Iman Usman, senior saya di SMA Negeri 1 Padang sekaligus senior juga di FISIP UI. Tulisan ini adalah semacam testimonanial untuk mengulas bagaimana influe karakter Sdr.Iman Usman yang ditularkan secara tidak langsung dan memiliki pengaruh besar terhadap diri saya.

Saya mengenal sosok Iman Usman ketika saya menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas di Padang. Ketika itu, saya masih kelas X SMA, di SMA 1 Padang, ketika itu sekolah masih berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman. Meski siswa baru kala itu, saya sudah mengenal nama Iman Usman ketika masih duduk di bangku SMP (saat itu saya menempuh pendidikan di SMPN 7 Padang). Saya kerap kali menemukan artikel yang mengulas tentang Iman, berikut berita-berita seputar prestasi terbaru Sdr.Iman yang diwartakan media lokal Sumatera Barat. Masih segar dalam ingatan saya, profil Iman dalam sejumlah perlombaan yang ditampilkan bersamaan dengan berita tentang kemenangannya dalam sebuah even.

Dari cerita teman sejawat, saya mendengar pula, prestasi yang diraih Iman sewaktu ia masih SMP (seingat saya, saya mengenali Iman sebagai siswa teladan yang aktif di lingkungan organisasi sekolah). Ketika tercatat sebagai siswa SMAN 1 Padang, darisinilah saya bisa melihat langsung sosok dan pribadi siswa yang selama ini saya baca dan temukan di media massa. Saat itu pula, saya masih mengingat Iman merupakan siswa teladan di sekolah, selain karena sederat prestasinya yang ikut bersumbangsih dalam mendongkrak reputasi dan kredibilitas sekolah, ia juga dikenal sebagai sosok yang kutu buku, gemar berkecimpung dalam organisasi dan kerap melibatkan diri dalam sejumlah aktivitas kemanusiaan.

Darisinilah saya mencoba menumbuhkembangkan setiap stimulus, spirit, dan energi positif yang secara tidak langsung saya serap melalui keseharian Iman di sekolah. Saya acap kagum, bilamana melihat Iman di jam istirahat sekolah, duduk diantara kursi panjang koridor sekolah sambil membuka buku. Buku barangkalai bisa dikonotasikan sebagai pacar setia Iman. Bilamana jam istirahat datang, saya akan selalu mendapati Iman sibuk dengan bacaannya.

Meski hobi membaca telah saya miliki sejak SD, saya tetap berani mengklaim dan mengakui bahwa, ada spirit terselubung yang sangat saya sadari yang ditangkap oleh diri saya. Disaat siswa-siswa lain (khususnya siswa ‘kebanyakan’ menghabiskan jam istirahat dengan kelompok sebaya, dengan kekasih, dengan makanan di kantin), Iman cenderung dan memang lebih menyukai mengisi jam istirahat untuk aktivitas membaca. Inilah yang kemudian mendasari, sejak di bangku SMA, saya lebih menyenangi pustaka sebagai destinasi kunjungan kala jam istirahat.

Ini mungkin hanya bagian dari stimulus paling sederhana, bila perlu saya menjabarkan semangat lain (yang dengan sadar tertangkap oleh diri saya), maka itu adalah semangat berjunalistik Sdr. Iman. Kecintaan pada dunia kepenulisan, khususnya jurnalistik dan sastra adalah dunia yang telah saya geluti pada bangku SMP. Tetapi, saya semakin merasa terarah dan mendapatkan panah dan petunjuk yang cerah tentang betapa asyik ikut melibatkan diri dalam dunia ini. Di bangku SMA, Iman ikut terlibat secara aktif di media jurnalistik sekolah yaitu MEDIA SMANSA dan menempati posisi sebagai Redaktur Pelaksana. Tugas yang cukup berat di emban, dibuktikan dengan semangat etos kerja yang tinggi oleh ia, sehingga menghasilkan buah karya jurnalistik yang maksimal. Setahu saya, dan sepengamatan saya pula, di Padang, selain SMAN 1 Padang, baru sekolah kami yang mampu menerbitkan majalah selain SMA Don Bosco Padang dan SMAN 2 Padang. Kendatipun begitu, Media SMANSA, ditangan Iman Usman, mampu bermetamorfosis dari format publikasi yang awalnya berupa tabloid menjadi majalah. Spirit begitu cepat lahir dalam tubuh saya, sehingga pada tahun 2008, saya dipercaya menjadi Koordinator Berita, berikut setahun setelah itu diangkat menjadi Pejabat Sementara menggantikan posisi Pimpinan Redaksi yang mendapat surat pemberhentian. Semangat itu, meski kadang tidak tersadari, telah melahirkan buah manis yaitu saya secara resmi dilantik pada tahun 2010 menjadi Pimpinan Redaksi, menaungi penerbitan majalah selama kurang lebih tujuh kali penerbitan. Inilah, dampak positif yang terasa begitu nyata bila saya menunaskan spirit dan energi positif yang diberikan Iman melalui aktivitas dan kesehariannya di sekolah.

Meskipun demikian, saya lebih senang menyatakan ini sebagai suatu semangat yang dilahirkan kembali ke dalam diri saya. Bukan berarti, saya adalah seorang pembajak, apalagi mesti dikatakan followers, terlebih fanatik sosok seorang Iman.

Tetapi, saya lebih senang menyebut ini sebagai, apresiasi tersendiri dari saya atas pribadi Iman yang mesti saya ekspresikan dengan cara saya sendiri. Dalam kalimat lain, energi positif yang disebarkan Iman secara tidak langsung, telah saya tangkap dan saya eksplorasi sesuai versi diri saya, berprestasi dan berkreasi dengan cara dan ‘gaya’saya sendiri.

Hal lain yang terasa sama pada diri Iman, dan juga ada pada diri saya, adalah kegemaran berorganisasi. Di sekolah, pada masa bhakti 2008 hingga 2009 (bila saya tak salah mengingat tahun), Iman adalah Ketua Bidang 4 OSIS SMA Negeri 1 Padang sekaligus dipercaya menjadi Ketua penyelenggaraan iven sains akbar di Sumatera Barat garapan SMAN 1 Padang. Iman terkenal dengan pesona dan kharismatik organisasinya di kalangan pelajar Sumbar, terlebih ia kerap kali melibatkan diri dalam organisasi eksternal sekolah. Iman tercatat pernah menjadi Sekretaris Forum Anak Daerah Sumbar (yang menjadi salah satu indikator dan cikal bakal terpilihnya Iman menjadi Pemimpin Muda Indonesia 2008 karena aktivitasnya pada bidang itu).

Jam terbangnya yang sangat banyak dengan organisasi membuat Iman ikut melibatkan diri dan dilibatkan banyak pihak. Saya tidak hapal persis apa saja organisasi eksternal sekolah yang digelutinya selain beberapa organisasi yang sempat terekam oleh jejak pengamatan saya. Meskipun demikian, seolah tak ingin kalah, saya di SMA pun lebih berkontribusi melalui kapasitas dan kapabilitas diri yang bisa saya sumbangkan demi kemajuan sekolah, seperti layaknya Iman berkontribusi. Meski menguasai bidang yang berbeda pada OSIS (Saya Bidang 6 OSIS), saya tetap menyatakan ini sebagai usaha saya untuk ingin menjadi siswa yang kontributif dan tidak terjebak pada stereotype dan ‘gaya’ hidup siswa kebanyakan di sekolah yang cenderung menghabiskan waktu untuk hal-hal tidak sarat guna dan jauh dari mutu.

Muhammad Iman Usman. (Dok.Pribadi)

 

Akan tetapi, meski sebetulnya banyak spirit yang ada di sekitar keseharian Iman, tidak berhasil tertangkap dengan baik oleh diri saya. Tentu saja ini, atas dasar perbedaan kesempatan, perbedaan faktor keburuntungan dan perbedaan kapasitas diri, membuat saya, kadang tidak berhasil mewujudkan apa yang telah menginspirasi dalam diri saya. Misalnya, ketika Iman punya riwayat pertukaran pelajar ke Jepang melalui program JENESYS, saya belum berhasil untuk itu. Faktor tadi yang kadang menghambat keinginan saya untuk melakukan hal yang sama, karena saya menilai itu adalah hal baik dan positif yang mesti saya contoh, saya tiru dan diimitasi bila perlu.

Hal lain adalah, menjadi Pemimpin Muda Indonesia, sebuah penghargaan tertinggi UNICEF yang diberikan kepada anak-anak dan remaja yang berkontribusi terhadap upaya advokasi dan pemenuhan hak anak. Sangat sayang rasanya, keterlembatan menjadi faktor ketidakmampuan saya mengikuti jejak positif itu. Iman telah melibatkan dirinya dalam kegiatan kemanusian (yang peta aktivitas Iman untuk hal ini tidak begitu saya ketahui), serta keterlibatan Iman dalam sejumlah lembaga indenpenden dan nirlaba di kawasan Padang secara khusus, dan Sumbar secara umum. Hal terbesar yang pernah ditorehkan Iman yang hingga kini belum dapat saya wujudkan adalah bertemu langsung dengan Presiden RI, karena dalam riwayat usia saya hingga kini, baru di usia 17 tahun saya baru berhasil mencapai segelintir porsi dari apa yang telah saya mimpi; yaitu bertemu langsung dan bersalaman dengan Bapak Boediono, Wakil Presiden RI, meski dalam kacamata di sisi lain, bertemu Wakil Presiden mungkin bagian dari terkecil dari catatan perjalanan prestasi Iman. Akan tetapi saya sadar satu hal, Iman yang kerap bertemu tokoh-tokoh penting nasional dan dunia telah membakar semangat saya untuk melakukan hal serupa. Iman dengan caranya, telah berupaya menunjukan aksi-aksi revolusi yang nyata, dan saya dengan cara saya pula, telah berusaha pula menampilkannya di permukaan meski secara objektif disadari banyak hal-hal besar yang telah dilakukan Iman, tetapi masih menjadi bagian dari mimpi, cita dan target saya.

Saya sangat menyadari, membaca tulisan-tulisan Iman tentang catatan perjalanannya ke luar negeri, dan bertemu tokoh-tokoh hebat Indonesia adalah bagian dari cara saya menginspirasi diri. Tulisan-tulisan itulah yang pada akhirnya, menjadi salah satu pembakar semangat saya untuk tetap berprestasi dan menunjukan eksistensi diri yang saya miliki. Karena saya menyadari potensi dalam dunia kepenulisan, saya mengarahkannya pada koridor sejenis yaitu dunia tulis menulis. Alhasil, sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2011 (bulan September), saya telah mengantongi sebanyak 50 butir prestasi yang didominasi prestasi dibidang kepenulisan sastra dan nonsastra.

Satu hal terbesar yang saya catat dalam kamus perjalanan hidup saya adalah saya telah berhasil mewujudkan mimpi untuk bisa mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Secara ekonomi dan finansial keluarga, saya bahkan mungkin jauh di bawah Iman Usman. Saya memang kurang bahkan jarang punya motivator internal seperti orangtua, terlebih ketika duduk dibangku kela VI sekolah dasar, saya kehilangan sosok seorang Ibu. Kendatipun begitu, saya justru merasa sangat bahagia memiliki motivator sejati yang tidak pernah lelah menginspirasil; seorang manusia biasa yang ‘tak biasa’ bernama Muhammad Iman Usman. Sukses selalu untukmu Bang…

Depok, 8 September 2011

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s