Artikel Populer

Waktu-Waktu Produktif yang Diperkosa Kemalasan

Dok.Pribadi

Belakangan, inilah yang kerap menimpa saya; waktu-waktu produktif yang diperkosa kemalasan.

Saya tidak mengerti, entah kenapa tiga bulan belakangan ini saya menjadi manusia yang amat pemalas. Tidak hanya soal malas menulis, tetapi juga untuk aktivitas harian. Dulu, ketika masih di Padang, saya merasa amat sangat mandiri melakukan aktivitas rumahan. Saya jadi babu untuk diri saya sendiri (karena sewaktu SMP hingga tamat SMA, saya tinggal di rumah nenek); saya mencuci baju sendiri, saya menyetrika baju sendiri, saya kadang memasak sendiri bila di rumah menunya tidak saya suka (palingan juga mie rebus atau telor dadar ala Chef.Dodi Hahahaa), dan bila dihari Minggu, saya bantu Tante membersihkan rumah; gorden yang berdebu, jendela yang penuh abu, dan banyak aktivitas yang saya lakukan diluar sekolah, datang saban Minggu ke sanggar sastra saya, rapat ini itu, organisasi di sekolah. Di tengah kesibukan itu, saya masih bisa menulis. Masih bisa berprestasi. Masih bisa mendapat nilai akademik yang baik.

Tapi, sekarang, semenjak bermukim dikosan, aku merasa menjadi Dodi yang serba malas. Kalau dihitung-hitung frekuensi aktivitas, palingan waktu saya hanya habis untuk berkuliah. Selebihnya, saya tidak mengerti kenapa waktu saya menjadi jadi lebih sedikit, sementara ragam kegiatan tidak bervariasi; kuliah, ya hanya kuliah. Sementara, untuk aktivitas domestik ala anak kosan, tidak penuh saya lakukan. Di kosan, sudahlah pakaian kotor memakai jasa binatu, sudahlah juga tidak perlu menyetrika sendiri, tetapi kemana perginya waktu saya? Apakah kemalasan yang telah memperkosanya.

Saya kembali mengevaluasi.  Ternyata, kemasalahan ini tidak hanya menimpa aktivitas demikian, melainkan juga waktu menulis dan membaca.  Saya paham, buku-buku yang bertumpuk di kamar kosan, tidak disentuh bukan karena saya malas membaca (karena membaca adalah pekerjaan yang paling saya cintai), melainkan karena waktu-waktu yang nyaris tidak tersedia untuk itu. Sementara, ide-ide berloncatan dari tempurung kepala saya, minta dituliskan. Ketika ada hasrat untuk menulis, mendadak saya menjadi terdiam di depan monitor laptop dan menganggurkan sebuah halaman Microsoft Word dengan kursor yang hilang timbul tanpa ada satu aksara pun.

Ini kerap menjebak saya, kejadian dimana saya jauh lebih banyak menghabiskan waktu berputar-putar tak karuan di jendela facebook. Tanpa ada yang saya cari, tanpa ada sesuatu yang berarti. Tulisannya tak jadi-jadi.

Di luar itu, saya juga tidak mengerti, betapa kegabutan saya juga telah menjebak saya menjadi manusia yang tidak produktif. Dulu bahkan, saban bulannya saya bisa terima honor dari Singgalang. Beberapa bulan ini saya nyaris tidak terima karena saya mandul menulis. Saya mandul mengirimkan tulisan ke Singgalang, dan tentu saja tidak ada honor yang diterima. Bahkan, kegabutan ini juga telah menjebak saya menjadi manusia yang hedon.

Berkali-kali saya gelap mata dan terpenjara di pesona hedonisme mall untuk sesuatu yang jelas tidak penting, tidak berarti, dan tidak ada juntrungannya. Oh, tidak. Tuhan, kembalikan saya ke masa dulu itu, dimana setiap detik waktu, saya hargai sebagai pemberian-MU dan saya gunakan sebaik mungkin. Sekarang, saya mandul ‘aktivitas’, kemasalahan telah memperkosanya. (*)

Iklan
Standar

4 thoughts on “Waktu-Waktu Produktif yang Diperkosa Kemalasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s