Sajak-Sajak

‘Surat Kecil Untuk Bapak Presiden’

(SEDIKIT PENGANTAR)

Teman saya di Komunikasi, Amalia Puspa Khoirunissa, suatu malam minta dituliskan sebuah puisi tentang kemiskinan. Saya menjadi ingat puisi yang dulu pernah saya tulis sewaktu penyeleksian peserta Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), helatan Kementerian Pendidikan Nasional. Puisi berjudul Surat kecil untuk Bapak Presiden ini, mengantarkan saya menjadi Juara II dan tidak berkesempatan mewakili Provinsi Sumatera Barat di ajang tersebut (pada tahun itu diselenggarakan di Surabaya). Seleksinya berlangsung di Rumah Puisi Taufiq Ismail, di wilayah Aie Angek, Bukit Taeh, Padang Panjang.

Oleh dewan juri, Bapak Sulaiman Djuned, puisi saya awalnya dikira nyontek dan plagiat dari karya lain. Ia ingat, ada sebuah karya yang juga memiliki diksi judul yang sama. Saya sendiri pun, ketika menulis puisi ini, khususnya pada bagian judul entah kenapa merasa familiar. Tapi saya tetap pakai judul ini, toh, ini murni karya saya. Lagian, setelah Pak Sulaiman Djuned melakukan klarifikasi dan pengecekan, ia menyatakan tidak ada indikasi plagiasi. Simaklah petikan puisinya:

Pak!
Kemarin sore rakyatmu mandi di sungai luka
Setelah kering kerontang membungkus lagu-lagu wakil rakyat kita
Yang celemok dusta,
Dan ekspresi tawa yang selembut sutra

Pak! Pak!
Tiap malam langit di kota kami pengap
Dan asap-asap dari pabrik atau orang-orang berdasi
Dari gedung-gedung sibuk menyoal suap menyuap
Sementara rakyat-rakyat kecil seperti kami
Dengan mata sayu sambil terkantuk-kantuk
Mendengar pidato dari ruang presiden
Soal harga beras dan cabe yang melambung tinggi
Atau tentang jelata dengan nafas sekarat dan terpenggal melepas suntuk
dan gurat-gurat luka batin

Pak! Pak! Pak!
Adakah hujan akan turun di rumah kardus kami?
Demi menghapus duka lara dan jerit-jerit suara demonstrasi
Yang membahana hingga meluap-luap di radio hingga televisi
Adakah matahari akan singgah menjumpai kami?
Untuk mengucap selamat pagi
dan dengan sangsi berucap
“Apa yang kau tanak pagi ini selain batu atau kerak-kerak lumpur di halaman?”

Sementara itu dari koran-koran
Dikabarkan tentang nostalgia busung lapar dan roman gelandangan
Bersamaan ketika suara ribut dan berisik dari stasiun televisi
Yang memberitakan tentang kasus-kasus korupsi yang tiada henti-henti

Pak! Pak! Pak! Pak!
Kemarin pagi kami sibuk menghitung airmata
Menyaksikan langit kota kami gelap gulita
Dan pagi tak kembali
Karena para gelandangan terlena mencium bau kudis, dan muntah
Di sepanjang rumah kami yang bergelimpangan sampah-sampah
Tapi, Bapak sibuk dengan pidato lima puluh halaman dan urusan politik
Dan tak pernah merasa tergelitik
Untuk membaca surat kecil ini
Sepenggal lagu kesedihan
Dari orang-orang yang berselimut kemiskinan

Pak! Pak! Pak! Pak! Pak!

 

(Padang, 1 Juli 2011)


Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s