Saya Bangga Menjadi Mahasiswa Komunikasi UI

Komunikasi Universitas Indonesia 2011. (Foto:Adel)


Saya menyadari, ketika masa kenaikan kelas XI di bangku Sekolah Menengah Atas saya baru menyusun target untuk bisa berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia. Ketika masih awam dulu, sewaktu masih buta tentang jurusan di perkuliahan, saya hanya tahu Universitas Indonesia didengung-dengungkan sebagai universitas terbaik di Indonesia tanpa tahu jurusan apa saja yang popular di sana. Baru di bangku pertama SMA, saya mulai membiasakan diri bertanya pada senior, mulai menyempatkan diri duduk di depan monitor komputer jinjing saya, membiarkan jendela pencarian google memberikan informasi seputar jurusan di perguruan tinggi.

Saya yang kala itu telah memetakan rencana perjalanan akademik saya di rumpun sosial, hanya melirik jurusan Hubungan Internasional yang kemudian saya ketahui sebagai jurusan terbaik di rumpun sosial (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) setelah Akuntansi (di Fakultas Ekonomi). Ketika itulah, semasa kepala sekolah saya di SMA meminta setiap murid menuliskan cita-citanya di dinding kelas, saya menuliskan target kuliah di Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Hubungan Internasional, tentu saja dengan memasang ekspektasi profesi sebagai Diplomat. Meski dalam kepala saya saat itu, gambaran tentang jurusan itu hanya sebatas belajar tata cara diplomasi di ranah Internasional (membayangkan seorang tetangga saya yang jadi Duta Negara di Arab Saudi).

Ah, harapan itu tidak bertahan lama. Persis seperti yang saya duga. Ketika saya duduk di kelas X 7 Internasional di SMA Negeri 1 Padang, di mana ketika itu hampir semua teman-teman saya memasang target untuk mengambil jurusan IPA karena hendak melanjutkan di tataran perkuliahan yang tak lepas dengan ilmu eksakta (semisal Institut Teknologi Bandung atau Institut Pertanian Bogor).

Ketika itulah, saya telah memainkan stir peta kehidupan saya, dan membanting stir ke jalur sosial (seperti yang telah saya rancang sebelumnya). Kendati saat itu target saya memang hanya bulat di ranah sosial, kali ini, saya beralih ke Fakultas Ekonomi, bercita-cita ingin kuliah di Jurusan Ilmu Ekonomi di Universitas Indonesia. Saya menjadi ingat sosok bankir yang kerap menginspirasi saya, dan saya mengingat persis ia lulusan sana. Saya mencoba realistis, mengukur-ukur abilitas matematis dan pendidikan teoritis seputar ilmu ekonomi saya yang tidak begitu mapan dan cukup mumpuni untuk survive selama perkuliahan di sana, semisal saya diterima.

Saya tidak mampu membayangkan, mendadak saya berhenti kuliah di tengah jalan, karena muak dengan numerik, hitung-hitungan, angka-angka, dan teori baku yang membuat kepala saya berasap. Oh, tidak! That’s not my choice, that’s not my world. Saya mencoba realistis saja!

Saya sangat menyadari, semenjak duduk di bangku pertama SMA, tidak satu atau dua teman yang mengatakan bahwa nantinya saya akan berkuliah di jurusan Sastra, tepatnya di Sastra Indonesia. Persis seperti penilaian mereka ketika mengapresiasi tulisan-tulisan prosa saya yang dimuat di media massa ketika masih di SMP, menulis cerpen-cerpen dan tulisan-tulisan lepas yang dimuat di media lokal di Sumatera Barat. Itu bagai suatu pernyataan yang seolah mendoktrin mereka bahwa nantinya saya memang akan melanjutkan studi di jurusan Sastra Indonesia.

Saya akui, memang iya, bahkan, saya bermimpi ingin bertemu Pak Sapardi Djoko Damono (yang saat itu tercatat sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, setelah sebelumnya menjadi Dekan di sana). Meski sadar ada keinginan kesana, tapi, saya berusaha menguburnya dengan berbagai pertimbangan.  Tapi, di balik semua itu, saya merasa bahagia karena tidak ada sama sekali tekanan dari orangtua. Orangtua saya tak pernah sama sekali intervensi saya dalam memilih. Dalam pemikiran ayah saya, pilihan adalah sesuatu yang patut dihargai dari seorang anak, dan untuk itu tugas orangtua hanyalah mendukungnya. Bukan mengintervensi, apalagi mencoba menggariskan alur pilihan dan hidup anaknya.  Hal ini pun sama berlakunya ketika dulu saya memilih jurusan IPS ketika penjurusan di SMA, ayah hanya memberikan senyum dan mengatakan “Bukan jurusannya, tapi berhasilkah kamu dengan jurusannya itu. Kalau itu terbaik buat kamu, dengan sendirinya itu akan menjadi terbaik pula untuk ayah!”

Karena itulah, tiga tahun masanya di SMA, saya bebas menentukan pilihan. Saya ingat kata Andrea Hirata ketika suatu kesempatan diskusi dengannya. Bahwa, ikhwal keberuntungan kita ada pada kemampuan kita dalam memilih. “We are lucky person, cause we have the choice..”

Pilihan saya hanya 2; Jurusan Sastra Indonesia dan Ilmu Komunikasi. Itu saja. Sungguh.

Maka, saya mulai menimbang-nimbang. Bila saya memilih Sastra Indonesia misalnya, saya tidak bisa membayangkan apakah hidup saya nanti akan terus berkutat dengan dunia tulis menulis sastra. Ada pula bayangan, di tengah jalan saya sekonyong-konyong tidak bisa lagi menulis sastra akibat terkungkung dengan teori-teori (sebagaimana cerita para sahabat dan senior-senior di beberapa perguruan tinggi), atau takut membayangkan suatu waktu ketika dewasa saya tidak bisa hidup sejahtera di tengah ‘kemiskinan’ apresiasi sastra dan hidup di Indonesia yang menomorsekiankan sastra (tidak seperti cara orang Indonesia berpandangan bahwa;  (seolah-olah) hanya Kedokteran yang mampu menyejahterakan! Dengan sadar lagi, saya merasa ini hanya sebuah ketakutan yang tidak begitu mutlak.

Sebenarnya, memilih jurusan Ilmu Komunikasi, telah ternanam dalam diri saya ketika saya dulu aktif sebagai reporter di sebuah Tabloid Pelajar Grup Padang Ekspres bernama P’Mails. Di sanalah, saya ditempa belajar jurnalistik praktis bersama rekan-rekan pelajar SMA lainnya di kota Padang dan sejumlah area di Sumbar. Di sana, saya bertemu orang-orang hebat. Jurnalis hebat dari Sumbar. Di sana pula, saya bisa bisa bertemu orang-orang penting yang tidak mungkin bisa bertemu dengan anak-anak sekolah pada umumnya. Tambah lagi, di SMA, saya pernah menjadi Pemimpin Redaksi untuk media sekolah.

Darisana muncul keinginan untuk belajar jurnalistik teoritis di bangku mahasiswa, dan di samping menginginkan HI, saya diam-diam jatuh cinta pada Ilmu Komunikasi. Saya ingat ucapan seorang teman, memilih jurusan Ilmu Komunikasi bagi saya, sama artinya dengan memilih menu makanan favorit harian saya; yaitu ayam goreng. Saya memilih jurusan yang menu-nya saya cintai; antara lain jurnalisme. Dulu sekali, jam terbang yang minim dan taraf informasi yang kurang memadai, membuat saya buta dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Di luar informasi yang saya terima dari guru, senior, hasil searching di jendela google, nyaris tidak ada informasi yang bisa menguatkan saya untuk memilih jurusan Ilmu Komunikasi. Tapi, selalu saja ada rasanya yang menguatkan dan meneguhkan pendirian saya untuk memilih jurusan itu tatkala saya diingatkan dengan sosok Effendi Gazali yang kerap muncul di media televisi saat itu, ketika saya selalu menyimak ia hadir membawakan sejumlah acara di televisi swasta nasional.

Hal lain, saya merasa ada dorongan yang kuat ketika punya prinsip seperti ini; saya tahu saya punya kemampuan dalam menulis sastra (pun menulis kreatif lainnya). Ketika misalnya saya memilih sastra, tentulah saya tidak punya background akademis komunikasi. Tapi, saya membalikan semua ini; kalau saya memilih komunikasi, maka saya punya dua tataran ilmu, komunikasi dan sastra. Saya bisa jadi nomor 1 di komunikasi karena belum tentu anak komunikasi bisa menguasai sastra, pun berlaku sebaliknya. Anak jurusan sastra pun, belum tentu bisa menguasai ilmu komunikasi. Oke bukan, dengan demikian saya bisa kuasai dua ilmu. Persis seperti saya mengingat Pak Taufiq Ismail yang selain oke di Sastra tapi juga punya background akademis di jurusan Kedokteran Hewan, atau seperti Cerpenis favorit saya, Om Gus tf Sakai yang juga lulusan Peternakan Universitas Andalas, tapi sangat mumpuni di sastra, dan masih banyak sejumlah figur yang menjadi contoh.

Inilah pilihan saya yang sesungguhnya. Maka saya memilih!

Saya masuk di jurusan Ilmu Komunikasi lewat jalur SNMPTN Undangan. Sebelumnya, saya sempat ikut PPKB Universitas Indonesia (jalur PMDK yang dihelat rumah tangga Universitas Indonesia). Tapi, karena ada remodifikasi sistem dari Kemendiknas (sekarang Kemendikbudnas), alhasil saya mesti pindah jalur ke jalur SNMPTN Undangan (untuk tulisan tentang SNMPTN Undangan ditulis menyusul). Ahamdulillah, setelah terkatung-katung menunggu hasil PPKB UI yang berbuah pahit penundaan berbulan-bulan, SNMPTN Undangan membuahkan sesuatu yang manis, saya lulus tanpa perlu ada tes. Saat itulah, saya bangga menjadi Mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Banyak hal sebenarnya yang membuat saya berbesar hati menjadi keluarga besar civitas akademika Universitas Indonesia, khususnya di Komunikasi. Tidak sedikit mereka-mereka yang hebat ada di sini, sebagaimana ketika saya merasa bangga diajar oleh Dosen Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi; Mbak Nina Armando, yang tak lain adalah Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang kerap menghadirkan isu-isu media terbaru dikala kelas Pengantar Ilmu Komunikasi, kerap menampilkan iklan-iklan yang dicekal KPI atau tontonan yang mendapat layangan surat pemberhentian tayang dari KPI. Rasanya, bersama Mbak Nina, belajar Komunikasi terasa amat menyenangkan, waktu dua jam di kelas tidak terasa bergulir cepat karena terlena dengan kualitas komunikasi dan cara ia mengajar di depan kelas yang menyita perhatian mahasiswa.

Kelas Pengantar Ilmu Komunikasi memang tidak satu dan saya lupa jumlahnya ada berapa. Dulu, ketika saya di depan monitor dan di screen tertera SIAK NG. (situs akademis mahasiswa UI) saya bingung menentukan pilihan untuk kelas PIK. Beberapa nama yang asing ada disana, tak terkecuali nama Mbak Nina Armando yang di situs resmi tertulis Nina Mutmainah, baru kemudian setelah itu saya tahu nama belakang beliau diambil dari nama suaminya yaitu Bang Ade Armando yang juga akademisi komunikasi.Tapi, pilihan dengan  Mbak Nina rasanya pilihan yang tepat mengingat ia bisa mengimbangkan pembelajaran teori dengan menyuguhkan materi-materi dan subtansi pembelajaran yang praktis (seperti rekomendasi film yang harus ditonton pasca belajar PIK, potongan-potongan reklame televisi yang menarik disimak, hasil liputan media baru, youtube dan beraneka studi media literasi yang selalu dihadirkan Mbak Nina di setiap kelas). Tapi sayangnya, kesibukan beliau di luar kampus, khususnya atas tanggungjawab sebagai Wakil Ketua KPI membuat beliau acapkali keluar kota dan kelas yang tiba-tiba kosong dan dipindahkan saban hari Jumat.

Mbak Nina Armando (Dok.google.com)

Dulu sekali, ketika baru pertemuan perdana kelas PIK, saya masih gugup di depan beliau karena di kelas beliau saya satu-satunya cowok dan saya adalah lelaki tertampan.  Di awal, Mbak Nina pernah cerita bahwa ia adalah Asisten dari Pak Prof.Alwi Dahlan, yang merupakan Doktor Komunikasi pertama di Indonesia. Sebelumnya saya pernah tahu bahwa Prof.Alwi Dahlan (kelahiran Padang Sumatera Barat) adalah tokoh komunikasi termansyur di Indonesia karena ia merupakan orang yang pertama meraih gelar Doktor Komunikasi dari  Universitas Ilinois, Urbana, USA. Di Universitas Illinois, Pak Alwi adalah murid dari Bapak Komunikasi Dunia yaitu Wilbur Schramm. Bisa dibayangkan, betapa ranji itu membuat saya merasa bangga dan saya adalah (berada di lini) generasi mutakhir yang meneruskan ranji para tokoh itu.

Oke, Wilbur Schramm sebagai Bapak Komunikasi Dunia (penyandang Doktor Pertama di dunia) pernah mengajar Prof.Alwi Dahlan yang tercatat sebagai Tokoh Komunikasi Indonesia dan peraih Doktor pertama bidang Komunikasi di Indonesia pernah mengajar Dra.Nina Armando yang saat ini mengajar Dodi Prananda (dkk) yang belum tahu nantinya akan mengajar siapa? Hahahaa…

Prof. Alwi Dahlan, Doktor Bidang Komunikasi pertama di Indonesia asal Sumatera barat. (Dok.google)

Sebenarnya, tidak hanya  Mbak Nina atau Prof.Alwi yang membuat Komunikasi menjadi glow , prestisius, dan berkualitas. Sejumlah tokoh praktisi pengajar ataupun dosen lainnya juga menjadi hal yang membuat saya bangga menjadi Mahasiswa Komunikasi. Misalnya Pak Effendi Gazali yang selalu fasih berkomunikasi di ranah politik, atau Ade Armando yang juga sering muncul di TV. Selain Mbak Nina di KPI juga ada Bapak Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja, MA, Ph.D, mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia beberapa tahun silam. Perlu nama lebih? Sebutlah Arbain Rambey, Redaktur Foto Senior KOMPAS yang saat ini mengajar saya untuk mata kuliah Foto Jurnalistik atau Bang Masmimar Mangiang, seorang Mantan Jurnalis, Wartawan Senior Tempo, yang bila bicara soal jurnalistik, dibuat terpukaulah kita.

Oke, sekarang, kalian tidak punya alasan untuk tidak memilih Komunikasi UI lagi kan? Saya tunggu kalian menjadi keluarga besar di sini.

Depok, 13 Desember 2011

Iklan

201 Comments

  1. “Oke, Wilbur Schramm sebagai Bapak Komunikasi Dunia (penyandang Doktor Pertama di dunia) pernah mengajar Prof.Alwi Dahlan yang tercatat sebagai Tokoh Komunikasi Indonesia dan peraih Doktor pertama bidang Komunikasi di Indonesia pernah mengajar Dra.Nina Armando yang saat ini mengajar Dodi Prananda (dkk) yang belum tahu nantinya akan mengajar siapa?”

    Insyaallah mengajar saya bang, tunggu saya di sana 🙂
    abang salah satu inspirasi saya, terus berjuang brother…

    1. Tentu, Anda harus bangga pada jurusan Anda sendiri. Kalau tidak, bersiaplah, jurusan akan menikam Anda dari belakang. Hahahaaa.. Semester berapa Bung?

  2. Keren ! 🙂
    Ka mau tanya, saya sudah daftar jalur undangan ilmu komunikasi UI tapi dari jurusan IPA, gimana peluangnya?
    Terimakasih 🙂

    1. Thanks Geby. Oh, keren, pilihan kamu mantap! Tentu berpeluang. Tahun saya, banyak kok yang lulus Komunikasi via jalur Undangan dari jurusan IPA. Asal, nilai kamu bisa bersaing dengan IPS dan punya prestasi yang mendukung, biasanya akan dilirik. Salam sukses ya, ketemu di Komunikasi.

      1. tapi mending yg SMA IPS ya ngambil prodi IPS dan IPA ya ngambil prodi IPA. Aku jadi trtarik komunikasi min

      2. Hmm.. Menurutku ini persoalan klise. Kamuu benar Ramdan, harusnya memang begitu agar jurusan yang kita pilih di SMA harus ditekuni, menjadi gerbong yang mengantarkan kita ke jurusan di bangku perkuliahan. Tapi, ya, pikiran anak SMA dan kadang masalah ini itu bikin orang jadi nggak konsisten. Apa yang dipelajari di SMA, ilmunya jadi terbuang sia-sia karena nggak terpakai. Mulailah dari dirimu sendiri..

  3. Meskipun tulisan ini menginspirasi saya menjadi mahasiswa Kom UI 2012, ternyata saya masuk Fikom Unpad ya.. beda sedikit lah ya 😀 Kapan-kapan boleh lah ngobrol sesama komunikasi 😉

    1. Selamat ya Adinda. Syukur kalau tulisan ini menginspirasi. Iya, sesama anak komunikasi, kita harus tingkatkan kualitas komunikasi kita 🙂

  4. waahh saya sangat ingin masuk ke jurusan komunikasi UI,sekarang saya masih kelas 3 SMA dan saya dari IPS. saya sedang mencari informasi tentang jurusan kom di UI. dan mas dodi sangat menginspirasi saya untk terus berusaha agar bisa mnjadi mahasiswa UI jurusan komunikasi. AMIN 🙂

    1. Senang kalau ada yang berminat untuk jurusan Ilmu Komunikasi. Kalau butuh info apa saja tentang KOM UI, bisa kabari saya d blog ini. Atau, kamu juga bisa email saya di dodiprananda@gmail.com. Add facebook saya sekalian juga boleh di Dodi Prananda. Salam

  5. Hai Kak Dodi. Cool tulisannya. Memotivasi. Aku anak IPA yang ntah kenapa tetep bersikeras pengen masuk Kom UI. Padahal tahunku ini, hanya akan ada SNMPTN Jalur Undangan *katanya*. Dan nilaiku juga gak ‘bagus banget’. Aku punya beberapa sertifikat bidang ips, tapi kebanyakan bisnis plan, economic contest, debat bahasa inggris, apa itu mendukung? sertifikat yang mendukung itu macam apa ya? makasih infonyaa

    1. Hai Rika Oktania. Anyway, kamu sekolah di mana? Terima kasih ya udah baca tulisanku. Sikapmu yang bersikeras sangat aku pahami, karena banyak kok, anak IPA yang dalam istilah saya ‘murtad’ ke IPS karena berbagai alasan. Apapun alasanmu, sangat aku hargai. Iya, benar, itu isu yang sejauh ini masih berhembus, soal SNMPTN Undangan sebagai pintu utama masuk perguruan tinggi. Tapi kita lihat dan kita tunggu saja apa selera pemerintah (dalam hal ini Kemdikbudnas di bawah Dirjen Dikti). Kini a, besok bisa jadi b. Yang penting, kamu susun strategi aja ya. Nah, soal sertifikat yang mendukung itu, sebenarnya masih diperdebatkan, karena hampir tidak ada informasi soal apa dan bagaimana cara panitia memberikan penilaian terhadap poin sertifikat penghargaan. Nah, ini asumsi yang mungkin bisa dipercaya dalam skala tertentu, karena aku sudah analisis selama 3 tahun penyelenggaraan SNMPTN Undangan. Sertifikat yang mendukung itu menurutku, yang dalam posisi atau situasi tertentu akan menyelamatkan kamu dari rival adalah sertifikat dengan jenis/cabang/disiplin ilmu yang relevan dengan jurusan yang kamu pilih. Tujuannya, biar kamu punya ‘nilai jual’ lebih dibanding peserta undangan yang lain. Let’s say nanti terjadi nilai yang sama dengan peserta lain, namun ada satu di antara mereka yang punya supported sertificate, may be it will be save her.

      Yang aku maksud mendukung, sesuai dengan jurusan yang ia hendaki. Misal, kalau untuk jurusan Komunikasi seperti Sertifikat Juara lomba debat, lomba pidato, lomba karya tulis ilmiah, lomba penulisan populer, contest speaking apalah itu, dan banyak lagi. Kalau aku lihat, ada di antara sertfikat kamu yang relevan kok. Tinggal tentukan saja, 3 terbaik, karena hanya 3 bukan yang dapat dilampirkan. Nah, memilih 3 sertifikat terbaik itupun butuh strategi. Mumpung waktu masih panjang, saatnya kamu melanjutkan tabungan prestasi, biar nanti tinggal seleksi mana the best of-nya. Salam. Semoga membantu.

  6. kak dengan grade komunikasi-ui yang cukup tinggi, apakah di SMA kakak juga termasuk anak yang diunggulkan, aktif dan berprestasi? karena selama ini yang digembar gemborkan, untuk lolos komunikasi-ui apalagi lewat undangan cukup ketat persaingannya.. boleh saya minta tips and tricknya? 🙂

    1. Halo Mia Ainun. Iya, bisa dibilang begitu, salah satu murid yang cukup diunggulkan di sekolah. Saya kebetulan juga memimpin media sekolah, jadi Pemimpin Redaksi Mia. Tapi, prestasi saya lebih banyak yang non akademisnya dibanding akademis (lomba sains, olimpiade dll), walaupun pencapaian akademis saya (rapor) juga tidak jelek-jelek banget. Tips aku, kamu pertahankan pencapaian prestasi akademis, usahakan grafik nilai selalu naik (dan tidak fluktatif, tapi kalau rangking tidak apa-apa) dan perbanyak tabungan prestasi yang relevan dengan disiplin ilmu komunikasi seperti lomba debat, lomba menulis, lomba pidato. Ini akan menjadi nilai lebih bagi kamu nantinya…

    1. Terima kasih Putri. Kesempatanmu masih terbuka lebar, selagi kamu mampu mengawinkan: doa dan usaha 🙂
      Iya, sukses ya. Kamu sekolah di mana emang?
      Iya mungkin saja kok, walau kamu dari jurusan IPA 🙂

  7. kak,mau nanya.aku sekarang jurusan IPA dr sma 28 di jakarta,aku pengen bgt keterima jurusan komunikasi UI lewat undangan..
    nilai rapor yg dilihat,nilai semester berapa aja ya?soalnya grafik semester 1 dan semester 2 aku turun.sekarang semester 3 nilaiku juga ya lumayan lah.apa ada kesempatan kalau grafik nilai aku dr semester 3 ke 4 ke 5 naik? soalnya kt guru2 sih yg dilihat cuma nilai rapor semester 3,4,5..makasih kak infonya 🙂

    1. Halo Tari. Iya, yang dilihat nilai rapor semester 3,4,5. Grafiknya harus naik itu mutlak kayaknya, sementara soal rangking bisa dikesampingkan. Prestasi non akademis gimana? Ada yang relevan dengan dunia komunikasi?

  8. Salam Bang dodi, dan selamat siang. 🙂
    Sangat menginspirasi saya loh tulisannya. Saya juga sangat sangat berkeinginan masuk Kominikasi UI. Saya mau tanya bang, untuk sertifikat (agar mendukung snmptn undangan), apa ada dibatasi tahun penerimaan sertifikatnya? Soalnya, di tahun 2011 saya meraih banyak juara di bidang menulis di banding tahun 2012. Apa bisa diterima? Terima kasih bang dodi..

    1. Salam juga Maulidza.
      Terima kasih, syukur alhamdulillah. Padahal, tadinya cuma bermaksud share pengalaman. Senang kalau ternyata menginspirasimu. Untuk sertifkat, saya menyarankan, kirimkanlah yang tahun terakhir dan jenjang prestasinya paling tinggi (level nasional, kalau ada Internasional walaupun partisipan lebih baik lagi). Kalau boleh menyarankan, dari sekian banyak prestasi di bidang menulis, lihatlah penyelenggaranya juga. Misal, kalau yang memberikan penghargaan itu Kementerian atau lembaga yang bonafid, terkenal dan kapabel, pasti lebih bagus lagi. Begitu kira-kira.

  9. ya Allah, ini kasusnya mirip sama saya.
    saya skrg kelas 12 IPA dan nggak tau kenapa “nyantol” ke ilkom UI sama sastra jepang UI. Ini juga lagi bimbang2nya nentuin mana yang ditaro pilihan pertama. T.T

    1. Halo Zahra, Assalamualaikum. Kamu terbentur masalah ‘nyebrang’. Nggak apa-apa, justru bagus baru nyadar sekarang kalau dalam diri kamu ada keinginan menggeluti bidang sosial (Komunikasi), daripada nanti sudah bergabung dalam disiplin ilmu alam atau ekstaka, namun merasa tidak nyaman. Iya nggak?
      Nah, aku sarankan untuk meletakkan pilihan itu, Komunikasi dulu. Karena nggak logis kalau naruh jurusan yang passinggradenya lebih rendah di atas. Secara passing grade, Komunikasi jauh lebih tinggi dari Sastra Jepang. Oya, dulu aku milih Sastra Indonesia loh di pilihan kedua aku waktu ikut SNMPTN Undangan…

      Oya, untuk ngobrol lebih lanjut, ketemu ya kita di twitter: @pranandadodi

  10. wah..menarik! aku jg slh satu yg menginginkn msk ilmu komunikasi. Sedikit pesimis sih melihat peminatnya yg bnyk&kuat. tp smoga aja deh bisa keterima di ilmu komunikasi UI 2013!!

    1. Makasih Herlien. Senang sekali kalo ada anak SMA yang mau masuk Komunikasi, soalnya nggak akan nyesel memilih disiplin ini menuju masa depan yang cerah #hazek
      Ketemu ya kita di Komunikasi UI 🙂 Jangan lupa juga follow-followan kita ditwitter: @pranandadodi

    1. Salam juga Darra. Yang dipelajari? Kalau angkatan saya, sejak semester 2, kita sudah peminatan (memilih satu dari lima peminatan yang ada: humas, jurnalisme, ikp, iklan dan komunikasi media), Jadinya belajar sesuai peminatan kita. Tapi kurikulum KBK yang diterapkan untuk angkatan 2012 sekarang, peminatan ditunda menjadi semester 5, sehingga di semester 1-4 mereka belajar yang dasar bahkan jugha harus mencicipi mata kuliah pengantar seluruh peminatan yang ada…
      Untuk ngobrol panjang, senggol saja saya di twitter: @pranandadodi ya Salam

  11. Sangat inspiratif bang, dulu saya juga pernah jadi wartawan sekolah. Tapi karena satu dan lain hal, ekskul saya tenggelam. Semoga Ilmu Komunikasi UI bisa menjadi destinasi terbaik buat saya, terlepas dari segala kekurangan saya dalam berkomunikasi juga. Dan semoga saya juga dapat SNMPTN seperti abang, dan semoga bertemu abang disana, dan bisa bikin proyek sana sini disana. dan semoga semoga lain yang rasanya tidak cukup untuk diketik dikolom komentar ini 🙂

  12. Bang keren banget tulisannya sangan memotivasi,fildzah murid sma 1 jg bg,kelas XI ips ,rencana pengen masuk komunikasi juga.doain bisa bergabung di kel besar ilkom UI ya bg 😀

    1. Hai Fildzah, wah junior aku… Gimana ‘kehidupan’ di sekolah sekarang? Really mau masuk Komunikasi? Iya, ditunggu ya Fildzah. Kalau mau nanya-nanya seputar Kom boleh banget 🙂

  13. Selamat Sore Bang Dodi,tulisannya sangat inspirstif. Maaf bang jika saya tidak ad background dan prestasi non akademis tdk ada yg relevan dengan komunikasi apakah msh bisa mengikuti dunia perkuliahan komunikasi ?

    1. Selamat sore Febri. Tentu bisa. Rata-rata teman saya di Jurnalisme, juga belum berkenalan dengan dunia jurnalisme itu sebelumnya. Di Kom UI justru mereka mengasah itu dari nol. Nggak ada salahnya menjadi gelas kosong untuk kemudian diisi penuh di sini. Ditunggu 🙂

  14. Jurusan komunikasi terdengar menyenangkan sekali. Tapi kalau punya sifat pemalu, apakah akan menjadi masalah nanti di jurusan ini? Karena jurusan komunikasi melibatkan komunikasi dengan banyak orang kan, Kak?
    Aku masih kelas 2 SMA, jurusan IPA, dan sudah kebingungan akan mengambil jurusan apa nantinya. Tapi tulisan Kakak membuatku tertarik, mohon pertanyaanku dijawab ya, Kak. 🙂

    1. Halo, Ananda Farinda Wulandari 🙂 (Panggilanmu siapa ya? Aku panggil Wulan ya :). Pemalu masuk jurusan Komunikasi?

      Hmmm.. Sebenarnya, jurusan apapun di Universitas menuntut mahasiswa harus banyak bicara dan jauh dari sikap pemalu. Banyak mata kuliah di perguruan tinggi yang mengharuskan siapa saja bicara (khususnya presentasi). Jurusan non-komunikasi saja butuh mahasiswanya bicara di depan orang banyak, apalagi Komunikasi. Hampir semua peminatan di Komunikasi, menggerakan mahasiswanya untuk melatih kemampuan bicara di depan umum. Kalau kamu merasa sulit di sini, justru kamu tantang kesulitan atau kelemahan kamu itu dengan belajar maksimal di peminatan HUMAS misalnya. Di Humas, justru banyak mata kuliahnya membantu mahasiswanya untuk belajar berkomunikasi dengan baik di depan umum. Misalnya ada mata kuliah public speaking atau komunikasi organisasi dst, mungkin itu bisa menjadi tempat belajar. Lebih-lebih di peminatan saya, jurnalisme. Jurnalisme benar-benar tidak disarankan bagi mereka yang pemalu, apalagi antisosial. Dari semester ke semester, kita makin ditantang untuk mampu menghasilkan produk jurnalistik yang oke, termasuk tantangan bertemu dengan narasumber, berwawancara, dst. Kalau yang tidak terlalu butuh mengeksplorasi kemampuan komunikasi, mungkin dengan derajat yang relatif kecil porsi ngomongnya, mungkin Industri Kreatif Penyiaran. Di IKP, mahasiswanya banyak bekerja dengan kamera, relatif sedikit bicara. Anak-anak IKP biasanya lebih banyak habis waktunya di lapangan, bikin film, ini dan itu. Kalau kamu suka dunia ini, mungkin bisa ngambil IKP nantinya, atau iklan. Iklan juga akan sulit dimasuki orang yang pemalu, soalnya akan banyak kerja presentasi misalnya ketika bertemu klien (pengiklan), menyajikan iklan, dst.

      Kalau kamu merasa tertantang untuk menghilangka sikap pemalu, justru break the limit. Langgar ketakutanmu itu, misalnya secara ekstrem selami dunia yang menuntut tampil di depan umum, berkomunikasi dengan banyak orang. Banyak pilihan untuk ini. Tapi, kalau merasa sulit akan itu, mungkin ada baiknya kamu ‘taat’ dengan disiplin ilmu yang sudah kamu pilih. Jurusan di rumpun alam yang tidak begitu menuntut bicara, saya kira ada banyak. Orang-orang labor misalnya di jurusan Farmasi.

      Itu aja sih Dik. Semoga membantu. Salam kenal ya, dan kita juga bisa saling sapa di twitter: @pranandadodi

  15. sangat menginspirasi saya. saya dari jurusan IPS, menurut teman teman saya pintar berbicara di depan orang banyak. tapi nilai saya juga tidak terlalu bagus bagus. prestasi atau sertifikat jg tidak ada. apakah ada trick khusus? terimakasih jawabannya.

    1. Terima kasih Niken, kalau SNMPTN Undangan yang dapat kamu ‘jual’ adalah pencapain akademik di sekolah, artinya untuk bersaing perolehan nilai-nilainya harus bagus dan layak saing nasional. Kalau kamu mau kerja keras, coba belajar sungguh-sungguh (nggak harus bimbel, otodidak juga bisa) untuk berperang di jalur tes tertulis, apa boleh buat. Kepuasan tembus Komunikasi via jalur ini tersendiri….

  16. Kak tulisannya menginspirasi sekali, keren! Kak saya masih kelas 2 SMA IPA, saya sedikit bingung untuk menentukan jurusan apa yang akan saya ambil saat kuliah, saya senang dengan fotografi, sinematografi dan jurnalisme, saya juga aktif dalam majalah sekolah, mungkin ada saran kak? Terima kasih. 😀

    1. Terima kasih Nadiya. Nah, jawabannya sudah pas: Ilmu Komunikasi, nanti kamu bisa pilih peminatan Industri Kreatif Penyiaran (Ini tempat belajarnya orang yang mau kerja di teve, karena bikin produk penyiaran non-berita seperti film, acara teve dll) atau Jurnalsime (akan belajar banyak tentang ilmu jurnalistik, plus ada fotografinya juga)

  17. Halo kak Dodi, perkenalkan saya Arief.
    Alhamdulillah kak saya baru saja diterima Komunikasi UI jalur undangan. Bersyukur sekali kak saya bisa bergabung dengan orang-orang hebat seperti kakak. Lagi iseng-iseng googling eh nemu blog kakak. Tulisannya diatas inspiratif sekali. Sama seperti mimpi saya pas SMA hehe. Oh iya kak, kebetulan saya masih mengalami kebingungan nih kak, buat milih yang bener-bener jadi konsentrasi saya di Ilkom nanti. Hampir semua konsentrasi saya minati kak hehe. Mohon bimbingannya ya kak. Makasih. 🙂

    1. Halo juga Arief. Wah, selamat 🙂 Oh, baguslah bingung dari sekarang, daripada nanti udah peminatan tapi gak sesuai minat. Tapi tenang, Departemen Ilmu Komunikasi punya formula untuk mengatasi itu. Peminatan dilakukan di semester 5, jadi ada waktu panjang untuk mikir-mikir mana yang sesuai bakat dan minat. Kalau angkatan saya di semester 2, memang lebih terarah sejak awal, tapi risikonya, ada yang pindah-pindah begitu merasa tidak senang. Salam kenal deh ya, nanti bisa ngobrol lebih banyak…

    2. Ka, untuk bs masuk ui ilkom, buat anak ipa bsa gk lwt jlur undangan? Dulu kaka msuk lwt jlur apa? Kalo undangan brp nilai rata2kaka? Mksh

      1. Saya masuk lewat jalur SNMPTN Undangan. Tahun ini saya belum tahu kepastian apa masih dibolehkan lintas studi dari yang IPA ke IPS. Saya lupa angka persisnya, tapi di atas 8,5 seingat saya dibantu sejumlah piagam penghargaan.

  18. Kaka , Saya siswa SMK bahkan bisa dibilang STM .
    Saya dr kelas 6SD sudah bercita2 jadi reporter TV . Tapi karna byk pertimbangan , akhirnya sy msuk STM .
    Yg saya mau tanyakan , bagaimana kiat2 sy utk bsa masuk di Komunikasi UI dan Bagaimana cara mendapat SNMPTN jalur undangan ? utk piagam alhamdulillah dr lomba puisi indonesia atau inggris , pidato b.ind , ceramah , speech contest , dll sudah ada ka bekal piagamnya tapi belum pernah tingkat nasional pling2 se jabodetabek atau kota/kab , apa bisa lewat jalur undangan ?
    makasih ka^^

    1. Untuk sistem saat ini, SNMPTN sistemnya tidak lagi diundang, karena memang setiap orang punya kesempatan. Nah, tinggal memainkan strategi agar kesempatan itu tidak terbuang sia-sia.

  19. kak. nilai biologi saya kelas 10 semester ganjil kecil bgt 72 tapi semster selanjut nya rapot nilai ekasak saya meningkat lumayan lah eksak nya 8 keatas semua bahkan matematika tembus 91di semster 4 tinggal menunggu rapot semester 5 .
    bagaimana menurut kaka peluang di terima untuk ikut PPKB UI jurusan teknik metalurgi ??
    mohon bantuan nya ,, makasih kak

    1. Sandy, kamu ada hal lain yang bisa menguatkan posisimu nggak, semisal prestasi akademik lain di jalur kompetisi olimpiade yang relevan dengan dunia teknik? Atau, mungkin juga non akademik yang sama sekali tak berhubungan. Kemungkinan tergeser dan kejar-kejaran dengan calon peserta lain sangat tinggi, tetapi untuk PPKB UI (karena ini program Paralel), saya kira kesempatannya lebih luas, dan tingkat kesengitannya relatif longgar.

  20. Selamat siang ka Dodi 🙂 aku Kiki di Jakarta. sekarang aku duduk di kelas XII SMA Negeri jurusan IPS. Setelah membaca sekilas cerita diatas aku semakin mantap buat milih jurusan ilmu komunikasi tepatnya di universitas yang aku inginkan yaitu Universitas Indonesia. Aku juga suka nulis ,public speaking dsb. cerita diatas sama sekali denganku, aku yang saat ini masih memiliki banyak pilihan untuk memilih PTN, seperti sastra bahasa, psikologi, dan hal-hal yang berbau public relation. Nah kak, aku pengen suatu saat nanti kerja atau jadi crew disalah satu stasiun televisi atau menjadi seorang reporter / wartawan. Program studi apa yang cocok untuk aku di jurusan ilmu komunikasi?
    Terimakasih 🙂

    1. Selamat siang juga Kiki (walaupun ini sore) 🙂 Terima kasih ya sudah baca. Aku salut dengan kemantapanmu dalam memilih, harus pasti, dan jangan sampai ketika duduk di ruang ujian seleksi baru menentukan pilihan. Kalau kepengin di media, ada 3 prodi yang dekat dengan dunia ini: Jurnalisme, Industri Kreatif Penyiaran dan Kajian Media. Ketiganya, ada di pusaran dunia yang sama, yaitu media. Bedanya, terletak di produknya, jurnalisme lebih ke produksi berita serius (profesinya reporter, wartawan, pembaca berita, penulis naskah berita, editor, dsb), Industri kreatif penyiaran (IKP) fokus ke yang non-news seperti yang dipelajari mahasiswa yang mengambil peminatan Jurnalisme. IKP antara lain belajar segala hal yang berhubungan dengan produksinya, seperti tata kamera, tata cahaya, produksi program/sinema tv dan sejenisnya. Sementara yang terakhir, Kajian Media, mengkaji produk yang dihasilkan oleh dua bidang yang sebelumnya aku sebutkan: Jurnal dan IKP. Dia yang mengkritik, menganalisis isi/konten media. Aku lihat, kamu kayaknya bisa ke Jurnal/IKP ya… Semoga menjawab [Dodi, @lautankata)

      1. Hallo ka Dodi, apa kabar?

        Aku senang sekali membaca balasan dari Kak Dodi, namun maaf aku baru sempat membacanya pada hari ini 16/9/2016. Setelah sekian lama aku tidak membuka blogku, mungkn ada dua tahun lebih. Sekarang, baru sempat melihat blog ini semacam tak terurus dan baru membuka ada ‘notifikasi’ dari Kak Dodi yang tertanggal pada Agustus 2013. Kaget sekali rasanya, aku kira tidak akan dibalas karena waktu itu aku hanya komentar seolah mencurahkan perasaan ketika ingin menempuh perguruan tinggi sebelum lulus SMA. Juga karena saking sibuknya mengurus persiapan masuk perguruan tinggi, jadi aku tidak sempat melihat ataupun sekadar mengunjungi site-ku.

        Aku membuka blog ini karena mendapat tugas dari dosen untuk membuat tulisan bertema “Andai Saya Pemilik Media”

        Ya, sekarang aku tengah menempuh semester 5 di Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Program Studi D-3 Jurnalistik. Tahun depan Insya Allah aku lulus. (doakan yaa) Aku telah menemukan passion-ku di sini Kak 🙂 di semester 3 kemarin, aku telah menjadi wartawan muda walaupun berlabel magang di salah satu media bergengsi di Jakarta selama 3 bulan, tapi ini cukup memberikan aku pengalaman yang cukup besar. Entah kenapa, setiap turun ke lapangan, aku merasa selalu senang. Mungkin aku sekarang benar-benar ada di passion-ku. Entah bagaimana aku harus mengekspresikannya, aku sangat excited sekali.

        Walaupun aku bukan di UI, tapi kebahagiaan dan passion bisa ditemukan di mana pun 🙂 dan mungkin PTN ini adalah salah satu jodohku 🙂 jodoh yang membawa passion-ku sesungguhnya.

        Ohya, kalau punya Instagram, mungkin kita bisa berteman
        IG: nikmahrizkia

        Sekali lagi, terima kasih Kak 🙂

    1. Kalau kamu punya cukup amunisi, kenapa masih gentar tempur ke medan perang? Pahlawan dulu aja mau membela negara cuma pake bambu runcing gak takut mati, masak kamu melihat peminatn UI yang super banyak, udah kalah duluan? (Hehehe… cuma sekadar menyamangati)

      Kamu mau ngambil jurusan apa?

  21. Kak dodi, saya Putrika salah satu alumni FOR 4. Saya sekarang kelas XII IPS dan sudah menargetkan untuk masuk komunikasi UI semenjak kelas 1 SMA. Tapi belakangan ini pikiran saya terusik dengan isu “kalau satu jurusan kemungkinan lolosnya kecil” apalagi di kelas saya banyak yang mencari UI (meskipun bukan komunikasi). Untuk ranking, selama 4 semester terakhir rata rata rapor saya (syukur) meningkat sehingga bisa tetap dalam posisi sepuluh besar di kelas. Kalau untuk prestasi, saya lebih banyak prestasi di jurnalistik seperti lomba mading kak. Apakah hal tersebut diatas bisa jadi pertimbangan agar saya bisa jadi maba Kom UI tahun depan kak? Mohon doa dan sarannya ya kak, terima kasih 🙂

    1. Hai Putrika, apa kita saling berkenalan waktu FOR 4? Isu ‘kalau satu jurusan kemungkinan lolosnya kecil’ boleh jadi perlu dipikirkan bila kamu tidak cermat memperhatikan saingan. Kalau satu kelas nggak ada yang ngambil Komunikasi, berarti lihat level berikutnya: adakah teman satu jurusan yang mengambil Komunikasi, teman satu sekolah? satu kota? satu provinsi? Kalau gak ada, berarti jalanmu mulus dan boleh-boleh aja milih 1 jurusan, karena itu akan menguntungkan kamu: hanya memilih 1 artinya teguh pendirian, tercermin keseriusan dan kebulatan tekad, risikonya: ada kesan buang-buang peluru, karena kalau tidak lolos, berarti benar-benar gak ada harapan. Bagaimana pun, setiap piliham selalu ada risikonya. Mengenai prestasi, aku rasa itu cocok!

      Aku mendukung pilihan kamu, dan tentu, aku doakan.

  22. Hallo Bang Dodi, meskipun saya telat masuk Komunikasi ( saya lulusan 2012, dan SNMPTN Undangan 2012 saya ga lolos, SBMPTN 2012 saya ga lolos, dan SIMAK UI saya ga lolos, SBMPTN 2013 ga lolos ), saya akhirnya bisa mecicipi rasanya menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi UI 2013 (yang katanya menjadi Prodi Komunikasi terbaik se-Indonesia) 🙂 Saya akhirnya bisa jadi adik tingkat Bang Dodi..hehehe 😀 Saya lolos lewat SIMAK UI 2013..Tulisan ini sungguh inspiratif, semoga bermanfaat bagi adik-adik yang ingin masuk UI..

    1. Halo juga. Wah, selamat, akhirnya kamu meraih apa yang kamu impikan. Setahu saya sih, nggak ada kata telat dalam kamus mereka yang tahu kemana arah dan kaki mereka dilangkahkan. Semangat ya menggapai mimpi-mimpimu, aku yakin, mimpi-mimpimu yang lain belum selesai.

  23. Saya rasa kita belum saling kenalan selama FOR 4, tapi saya tau kakak terutama dari ceritanya kak ghina:)
    Di sekolah saya kelas IPS selalu satu kelas aja kak dari tahun ke tahun. Untuk tahun kemarin hanya dua orang kakak kelas yang lolos snmptn di UI, yang lainnya lewat jalur sbmptn kak. Untuk masalah saingan, di kelas saya sudah ada yang cari komunikasi, kalau di angkatan saya masih belum tahu kak karena belum rekap nilai dan pilihan snmptnnya.

    Terima kasih banyak kak.

  24. Kak saya sekarang kelas 12 IPA dan mimpi saya menjadi salah satu mahasiswi di ilmu komunikasi ui kak, tapi saya minder dengan nilai saya kak, kalau boleh tau nilai kakak waktu snmptn undangan kemarin sekitar berapa kak?

    1. Jangan minder dulu dong Din. Nilaiku dulu juga gak begit menonjol banget, beberapa di angka 8,5 dan satu dua ada yang 9. Kebanyakan sih di angka 8. Tapi, kan modal gak satu, masih bisa lampirkan 3 sertifikat waktu itu. Perkuat saja senjata yang mungkin kamu punyai, selain nilai di rapor.

  25. Oke, Wilbur Schramm sebagai Bapak Komunikasi Dunia (penyandang Doktor Pertama di dunia) pernah mengajar Prof.Alwi Dahlan yang tercatat sebagai Tokoh Komunikasi Indonesia dan peraih Doktor pertama bidang Komunikasi di Indonesia pernah mengajar Dra.Nina Armando yang saat ini mengajar Dodi Prananda (dkk) yang belum tahu nantinya akan mengajar siapa? Hahahaa…

    1,5 tahun lagi saya bang…
    tunggu saya bang di fisipers ui dan komunikasi ui bang
    berjuang bersama sebagai perantau dari ranah minang bg.
    terimakasih tulisannya bang.. inspiratif sekali bang

  26. assalamualaikum kak, sebelumnya makasih atas tulisannya, inspirasional sekali. saya jadi semakin bersemangat masuk Kom UI.

    mau nanya kak, kalo mau masuk Komunikasi itu kira2 mapel yg harus dikuatkan apa aja ya? Trus kalo misal saya punya Sertifikat juara lomba baca berita, teater, dan OSN, kira2 mendukung nggak ya?
    dan katanya kalo di Komunikasi UI itu pergaulannya borju banget ya kak, benar nggak sih? oh iya, nilai rata2 saya diatas 85 tapi tidak pernah menyentuh 90 kira2 bagaimana peluangnya kak?

    trima kasih kak, mudah2 an saya bisa jadi junior kakak tahun ini. amiin

  27. Assalamualaikum mas, sebelumnya terima kasih atas tulisannya, inspiratif sekali. Saya jadi semakin terpacu buat memperjuangkan Komunikasi UI. hehe..

    Mau nanya mas, kalo buat masuk Kom itu nilai dari mapel apa saja yg harus diperhatikan?Kalo rata2 nilai saya diatas 85 tpi tidak pernah nyampe 90 gimana?
    Trus, kalo misal saya punya sertifikat juara lomba baca berita, teater, dan OSN Kab. kira2 mendukung nggak ya?
    Oh iya mas, apa benar di Kom UI itu pergaulannya borju banget?
    trima kasih mas, mudah2 an saya bisa jadi juniornya mas Dodi tahun ini. amin.
    wasalam.

    1. Waalaikumsalam Apriza. Makasih ya udah baca tulisan ini. Yang diperhatikan, tentu saja nilai mata pelajaran IPS dan mapel dasar seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika. Sepertinya, nilai rata-rata kamu cukup baik, kamu ikuti saja flow persaingannya, karena yang mengolah data nantinya sistem. Persaingan di SNMPTN itu nasional, dan akan banyak pesaing, karena itu saya pikir sertifikat kamu cukup menunjang… apalagi itu relevan dgn dunia komunikasi.

      Mengenai pergaulan, lebih menarik kamu rasakan sendiri. Mahasiswa Komunikasi itu datang dari berbagai daerah di Indonesia, jadi gak bisa dibilang borju banget. Saya yang datang Sumbar, tadinya juga sempat gamang bagaimana nantinya dengan pergaulan di jurusan ini. Tapi, asal tahu jurusnya, tahu dengan siapa mesti bergaul dan pergaulan seperti apa yang ‘sehat’, lagi-lagi kembali ke pilihan kita. Toh, di dunia kampus, semua ada di tangan kita, termasuk urusan menentukan pergaulan. Hahahaa…

      Iya, saya doakan ya, semoga kita jadi bagian dari keluarga besar Komunikasi UI 🙂
      Good luck Apriza

    1. Di UI, Komunikasi itu Departemen Sarah, belum fakultas.Komunikasi ada di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Kalau mata kuliah, untuk semester awal pengantar, mata kuliah dasar (beberapa di antaranya ada mata kuliah wajib universitas, wajib fakultas) sampai nanti kamu memilih peminatan di Komunikasi (ada jurnalisme, iklan, humas, kajian media dan industri kreatif penyiaran), baru mata kuliahnya lebih spesifik lagi (kurikulum ini baru diterapkan di tahun 2012, namanya KBK, sementara saya yang angkatan 2011 masih pakai kurikulum lama).

  28. Ka, untuk bs masuk ui ilkom, buat anak ipa bsa gk lwt jlur undangan? Dulu kaka msuk lwt jlur apa? Kalo undangan brp nilai rata2kaka? Mksh

  29. Hallo, saya senang bisa tersasar ke blog kamu. Blognya asik! Saya juga anak komunikasi tapi bukan di UI sih memang 😀

    Salut sama kamu yang sudah berkecimpung di Dunia jurnalistik sejak SMA. Salam kenal ya 😀

  30. Bisa komentar ternyata,
    assalamualaikum… wahh smpe nangis bacanya.. aku ingin kali msuk ILkom Ui.. Bg dodi saya masih kelas X. bntar lg naik klas XI, tp sya itu niatnya pengen masuk IPA. tapi stelah membaca blog ini saya bingung ambil ipa atau ips… sebaiknya saya ambil ipa atau ips bg…
    saya cuma ingin masuk ilkom aja.. saya ingin jadi pembaca berita.. ya Allah semoga bisa dan ada jalan.. sy juga ingin dpat bidikmisi bg ke ilkom UI bisa gak ya… gmna crany… saya orang kinali,kab.pasaman barat.sumatera barat. ditunggu jawabannya bg..

    1. Saranku simpel saja, kalau tahu mau ke tempat A dengan cara lurus, kenapa harus berbelok-belok? So, ambil yang satu koridor, biar semakin jelas. Selamat belajar dan mengumpulkan modal ya, supaya bisa masuk lewat SNMPTN

      1. Iya sih bg….
        tapi saya mau tanya lagi bg…
        ada gak mahasiswa ilmu komunikasi yang lulus SNMPTN UI dari kelas IPA ?

  31. Suka banget sama tulisannya. Trus suka juga liat Kak Dodi balesin komentar-komentarnya. Aku sekarang kelas 12 nih kak. Besok (27 Mei 2014) adalah hari pengumuman SNMPTN. Dan prodi pertama aku Ilmu Komunikasi UI. Sebenernya waktu itu gak pernah terfikir akan ngambil komunikasi sebagai prodi, waktu itu aku berencana ngambil sastra inggris karena itu pelajaran favorit tapi pas tau temen yang pinter di sekolah aku ngmabil jurusan yang sama akhirnya aku mikir ulang dan keputusan aku jatuh di ilmu komunikasi. Doain ya kak semoga besok aku bisa diterima di KOM UI. Karena kuliah di UI benar-benar mimpi aku dari kecil 🙂

  32. Assalamu’alaikum…
    🙂 tulisannya sangat menginspirasi kak, mengingat saat ini saya sedang berusaha agar bisa masuk jurusan ilkom walaupun bukan di UI. Dan saya tau itu nggak mudah, apalagi saya harus berjuang di jalur tes tulis, lantaran saya angkatan tahun lalu, yg “kabur” dari kuliahan saya, demi komunikasi. tapi senang membaca tulisan ini seolah olah saya disemangati dari jauh. sukses buat anda. Semoga bisa mengenal anda lebih jauh. 🙂 Terima kasih.

  33. Assalamu’alaikum… tulisannya sangat menginspirasi kak,
    mengingat saat ini saya sedang berusaha agar bisa masuk jurusan
    ilkom walaupun bukan di UI. Dan saya tau itu nggak mudah, apalagi
    saya harus berjuang di jalur tes tulis, lantaran saya angkatan tahun
    lalu, yg “kabur” dari kuliahan saya, demi komunikasi. tapi senang
    membaca tulisan ini seolah olah saya disemangati dari jauh. sukses
    buat anda. Semoga bisa mengenal anda lebih jauh. Terima kasih.

    1. Terima kasih, dan selamat, karena menyadari passion kamu yang sesungguhnya. Selamat berjuang ya. Saya harap, kamu mendapatkan yang terbaik. Silakan sapa saya di @lautankata untuk komunikasi via twitter

  34. Assalamu’alaikum bang Dodi, saya merupakan seorang dari 29 murid XI IPS SMANSa Padang yang InsyaAllah akan melanjutkan studi ke dunia perkuliahan th 2015 mendatang.
    Wah sama bang! Awalnya saya juga menargetkan HI sedari smp (yang terinspirasi bang Iman Usman). Lalu di SMA alhamdulillah juga bisa mendapat amanah mengetuai bidang ‘Kom. dlm Bahasa Asing), saya semakin yakin dengan HI, namun, selain ketatnya persaingan untuk memperebutkan kursi di HI, pada beberapa pekan terakhir saya sadar, saya bukanlah orang yang senang duduk lama “merayu” lawan bicara saya agar berada di alur skenario politik yang saya inginkan, ini saya rasakan setelah mengikuti Parlemen Remaja dan sebuah MUN di negeri serumpun. Saya merasa, saya lebih enjoy dan capable dalam menghibur dan ya, saya mencintai bahasa dan sastra. Lalu saya menetapkan hati untuk meminang ILKOM UI pada SNMPTN 2015 mendatang.
    Namun, lagi-lagi.
    Saya takut bang, yah, abang tentutahu alassannya…
    Sepatah dua patah saran sangat saya harapkan bang.
    Terimakasih abangda alumni yang saya kagumi! 🙂

    1. Waalaikumsalam Mersia. Hai, adik juniorku. Hihihi.. Aku tak ingin memberikan saran apa-apa, karena sepertinya, kamu tahu apa yang kamu inginkan. Kali ini, pasang kacamata kuda, aja, supaya nggak digoyahkan suara kanan-kiri. Manfaatkan waktu tersisa untuk melakukan yang terbaik (tabungan nilai dan prestasi). Coba kirimkan kontakmu Mersia ke emailku ya di dodiprananda@gmail.com supaya kita bisa cakap-cakap lebih lanjut.

      Aku sangat senang menerima pesanmu.

  35. Kak ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan tentang fikom di ui. Kalo boleh tau kak dodi komunikasi ambil apa? Terus skg udah sem brp? Biaya masuk dan biaya per sem brp? Apakah harus menguasai bahasa inggris? Pelajarannya susah ga?

    1. Saya ambil peminatan Jurnalisme. Baru saja menyelesaikan semester 6, hendak ke 7.
      Biaya masuk tergantung program yang kamu ambil; jika 1). Program Sarjan Reguler, maka berlaku skema beasiswa dan juga berhak mengajukan BOP-Berkeadilan, yaitu sistem di mana besaran biaya pendidikan disesuaikan dengan kemampuan penanggung biaya, plus tidak dikenakan uang pangkal 2). Program Sarjana Paralel, dikenakan uang pangkal dan biaya kuliah sekitar 8,5 – 9 juta per semester 3). Program Kelas Khusus Internasional Komunikasi (satu-satunya Internasional di FISIP), pasti lebih mahal lagi.

  36. Kak dodi bedanya SNMPTN sama SBMPTN apa ya? Trus kita dapet jalur undangan itu dari mana? Emang pasti dapet kak atau sekarang udh ga ada jalur undangan lg?
    trus kalo mau masuk ui gak diliat ranking ya?diliat dr sem 3-5?itu dr kls brp aja kak?
    Terima Kasih

    1. SNMPTN masuk perguruan tinggi berdasarkan perolehan nilai akademik selama SMA, tanpa tes. SBMPTN ujian masuk dengan tes. Undangan itu sekolah mendaftarkan siswanya ke panitia pusat. Undangan sekarang namanya menjadi SNMPTN (sebelumnya SNMPTN dibagi dua, SNMPTN Undangan dan SNMPTN Tertulis, sekarang SNMPTN tertulis namanya menjadi SBMPTN).

  37. sangat meng-inspirasi. saya Muhammad Hafidh. mahasiswa baru jurusan ilmu komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU).
    saya ingin bertanya lebih luas prospek kerja bagian “JURNALISTIK atau PR” ?
    mohon batuannya kak 🙂

    1. Sertifikat peserta atau piagam penghargaan pemenang Ryga? Kalau misalkan pernah juara, itu bisa nambah poin karena FLS2N kompetisi bergengsi, soal relevansi itu urusan panitia yang menilai sih sebenarnya.

  38. Selamat pagi menjelang siang Kak Dodi. Salam kenal! 🙂
    Terima kasih banyak atas tulisannya yang sangat inspiratif dan memotivasi 😀 Keren!
    Saya mau nanya kak, sekarang saya bersekolah di salah satu SMA Favorit di kota karena ex-SBI, , sudah naik ke kelas XII. Saya alhamdulillah ranking 1 parallel di jurusan IPS, menjabat sebagai ketua English Club dan menggeluti dunia jurnalisme, perfilman, dsb, namun kiblatnya lebih ke barat. Saya punya banyak sekali sertifikat, tapi 2 sertifikat terbaik yang akan saya ajukan antara lain : Juara 2 Olimpiade Pasar Modal Tingkat Provinsi (Penyelenggara Bursa Efek Indonesia), Peserta English Debate Tingkat Provinsi (Penyelenggara Dinas Pendidikan), dan satu lagi masih menimbang-nimbang. Rata-rata raport saya naik terus, dan terakhir rata-ratanya sekitar 88an. Yang jadi masalah adalah nilai Sosiologi saya turun drastis, serta mapel Matematika, Wirausaha, dan Sejarah juga turun, walaupun cuman 1 poin. Apakah peluang saya masuk Komunikasi UI cukup lebar? Dan urutan SNMPTN nanti yaitu 1. Ilmu Ekonomi 2. Ilmu Komunikasi UI. Apakah urutanya sudah benar? Maaf ya kak bertanya terlalu panjang. Terima kasih banyak kakak. Sukses selalu! 😀

    1. Terima kasih juga sudah berkenan membaca, Erlangga.
      Prestasimu boleh juga. Maju aja, kalo memang berminat. Apalagi kamu mengambil jurusan IPS. Klop.
      Kusarankan, pilihanmu di balik ya. Soalnya, secara urutan, Ilmu Komunikasi jauh lebih tinggi peringkatnya di rumpun ilmu sosial humaniora ketimbang Ilmu Ekonomi. Yang perlu diingat, pilihan pertama saat SNMPTN adalah pilihan yang jadi prioritas.

      1. Bisa kok. Bisa masuk Ilmu Komunikasi dari pintu-pintu berikut ini: SNMPPTN/Undangan (Reguler), SBMPTN (Reguler), SIMAK UI (Reguler, Paralel dan Internasional), PPKB UI (Paralel)

    1. Jalur Undangan: kalau bisa lampirkan piagam penghargaan yang relate dengan dunia Komunikasi. Pastikan nilai-nilai bahasa Inggris, Bahasa Indonesianya bagus. Kalau tes, ya, belajarlah sungguh-sungguh karena persaingan bebas itu ada di tes tertulis.

  39. Hi kak dodi…
    Ceritanya bagus banget. Bener2 bikin motivasi
    aku masih bingung sm jurusan , mengingat aku kelas 12.
    mama sih support aku kemana aja. Cuman beliau pengen aku ambil jurusan yang menurut dia ‘realistis’ kaya akuntansi , manajemen , pajak.
    Jujur , aku termasuk fast learner tapi aku masih nimbang2 karena aku gamau kuliah tapi gak menikmati jurusan tersebut. Bahkan aku juga mikir sama kaya kak dodi , kalo aku ambil akuntansi atau pajak apakah kedepannya aku bisa itu yang jadi problemnya.
    aku suka baca novel2 berbahasa inggris , suka juga nulis2 cerpen , aku juga pengen jd kru2 di tv gt.
    kak , di komunikasi itu ada ngedesign visual ga?
    Menurut kak dodi aku harus gimana ?
    dan nilai apa aja sih kak yang harus aku pertahanin untuk ke komunikasi?
    makasih kak sebelumnya^^

    1. Hai, senang membaca komentarmu. Terima kasih sudah membaca tulisanku. Coba kasih Mamamu alasan yang logis, kalau Komunikasi itu dunia yang menjanjikan, dan niscaya akan selalu dibutuhkan lulusannya. Kalau mau visual banget, tinggal pilih peminatan Industri Kreatif Penyiaran. Dijamin kamu bakal berkutat dengan syuting dann syuting (produksi) non-news tv kayak drama tv, film, variety show dll

  40. bang,saya mau nanya sedikit boleh? saya sebelumnya sama sekali gak tertarik dengan ilmu komunikasi,sama kayak abang awalnya. saya justru sangat tertarik dgn fakultas ilmu komputer UI yang sangat termasyhur itu dan terkenal sangat susah masuknya. kebetulan,saya pernah juara 1 lomba jurnalistik yang pernah diadakan oleh politeknik negeri jakarta. tetapi saya tetap ga minat sama komunikasi. hingga baru baru ini saya ikut tes potensi akademik,dan saya disarankan untuk masuk ke fakultas ilmu komunikasi. kira-kira kalau saya pilih fakultas ini lewat jalur SNMPTN undangan dengan melampirkan sertifikat juara itu bisa tidak ya bang? dan peluang kerja apa yang bisa didapatkan dari studi di ilmu komunikasi ini? terimakasih bang,mohon jawabannya 🙂

    1. Halo, Rahmat. Selamat untuk prestasinya. Coba pikir matang-matang lagi deh sebelum ambil keputusan. Bisa aja kan tes potensi akademik tidak akurat. Mengenai prestasinya, itu bisa sekali. Hanya itu saja kah? Kalau bisa, tunjukkan prestasi yang lain yang relevan ya.

      Peluang kerja, ya, tergantung nanti peminatan yang kamu ambil. Kalau Public Relation, kamu bisa kerja di korporat. Kalau ambil periklanan, bisa kerja di biro atau agensi iklan. kalau jurnalisme kerja di media massa, kemudian kalau IKP bisa kerja di televisi atau PH. Dan terakhir kajian media, bisa kerja jadi analis data misalnya di Nielsen, litbang media, atau peneliti di pusat atau biro penelitian, bisa juga di Lembaga yang menaungi industri media kayak KPI, Lembaga Sensor Film atau lembaga penyiaran lainnya. Itu pekerjaan yang satu koridor, tidak tertutup kemungkinan juga alumni Komunikasi kerja di luar bidang itu, seperti kerja di BUMN atau swasta. Good luck ya

  41. Permisi kak, saya siswa kelas XII di SMA Negeri di Sidoarjo yang sudah lama sekali mengincar ilmu komunikasi UI. Setelah googling sekian lama, puji tuhan akhirnya menemukan blog ini.

    Yang mau saya tanyakan, nilai rapor saya standar (tidak terlalu bagus, tidak terlalu jelek) tapi saya sudah sering berkecimpung di dunia jurnalistik. Ada puluhan penghargaan di bidang jurnalistik yg tersebar di tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional. Yang terbaru saya baru saya memenangkan penghargaan national best writer journalist competition Honda DBL yang digelar oleh jawapos tingkat nasional. Bulan depan saya akan mewakili indonesia di konferensi jurnalis muda se asia pasifik di spore.

    Namun masalahnya :
    1. IQ saya tinggi dan mampu menguasai pelajaran sebenarnya, hanya saja nilai rapor saya biasa biasa saja karena terlalu aktif di luar sekolah.
    2. Belum pernah ada siswa sma saya yang masuk universitas indonesia, artinya saya adalah siswa pertama dari sma saya yang memilih masuk UI

    Apakah masih ada peluang bagi saya untuk masuk UI kak ?
    Terimakasih atas jawabannya 🙂

    1. Hai, namamu siapa? Dimas kah? Prestasimu hebat sekali, kupikir itu modal besar. Aku melihat peluang diterima yang besar pada dirimu, jadi coba saja daftar ya. Jangan takut-takut. Kamu harus mendobrak kalau siswa dari sekolahmu pun layak diterima di UI. Jadilah yang pertama ya. Sukses. (Lebih lanjut kita bisa ngobrol di email: dodiprananda@gmail.com ya, atau twitter @lautankata)

  42. Kak mau tanya, setelah lulus nanti profesi yang cocok untuk lulusan ilmu komunikasi apa ya, kak? Mohon infonya supaya saya bisa meyakinkan kedua orangtua saya. Saya ini sebenarnya sangat tertarik di bidang seni lukis, namun orangtua saya tidak mengijinkan. Kemudian saya beralih untuk mengambil jurusan ilmu komunikasi karena sejak SMP saya sudah tertarik jurnalistik dan sering mengikuti lomba. Mudah-mudahan orangtua saya bisa mengijinkan saya masuk di ilmu komunikasi. Terima kasih

    1. Profesi yang cocok, tergantung peminatan yang kamu ambil nanti Rani. Misalnya kalau mengambil peminatan Humas atau Public Relations kerja yang cocok misalnya kerja sebagai PR korporat atau biro humas di lembaga pemerintah atau swasta, bisa juga kerja di agensi humas dll. Kalau peminatan jurnalisme, kerja di media (bisa cetak, radio ataupun televisi). Kalau punya talenta, bisa jadi reporter dulu di stasiun televisi swasta lantas nanti bisa kejar jadi pembaca berita atau anchor.

      Masih ada 3 peminatan lainnya yang juga gak kalah bagus prospeknya. Bahkan, lulusan Komunikasi juga bisa bekerja menjadi Pakar public speaking misalnya di sekolah-sekolah komunikasi kayak LSPR dll, atau menjadi Dosen sebagai akademisi, lumayan menjanjikan. Dunia kerja seperti perbankan atau perusahaan berbagai sektor, juga menerima Mahasiswa Komunikasi. Sangat fleksibel kok. Tergantung kita ingin berkarier sebagai apa dan menjadi apa… (mengejar apa)…

      Good luck ya.

  43. Wah,keren kak… Oh iya,tadi kakak2 UI datang loh kesekolah aku. Ngasih sosialisasi gitu kak. Jadi tambah semangat nih kak :D. Biasa awal2 tahun ajaran baru. Cakep2 lagi kakak2 UI nya…hahaha. Rencananya aku mau ngambil Ilmu Komunikasi USU kak. Tapi aku benar2 ga tau apa2 ttg ilmu komunikasi. Aku suka jurusan ini karna ada peminatan IKP nya kak. Keren… Suka sama hal2 yg berhubungan dengan kamera,wkwkwk 😀 Mohon doa nya ya kak… Biar aku lulus UN dengan bagus dan masuk ke Ilmu Komunikasi USU. Kalau ke UI kayaknya aku ga sanggup deh kak,banyak diluar sana nilainya yg selangit. Hehe ^^ Salam Komunikasi… ^^

  44. Hai kak, tulisannya sangat bermanfaat dan memotivasi 🙂
    Saya sangat berminat sama komunikasi UI kak, sekarang saya masih kelas 11 jurusan IPA di SMA. Kira-kira saya bisa ga ya masuk fakultas ini dengan snmptn undangan? Lalu jika masuk melalui jalur snmptn dengan tes tertulis, sbmptn, dan simak UI apa saja yg harus saya pelajari untuk masuk Komunikasi UI kak? Terimakasih sebelumnya:)

    1. Di SNMPTN, hanya anak IPA yang boleh mendaftar pindah ladang, alias ke rumpun IPS/Sosial Humaniora. Tidak berlaku sebaliknya. Tapi ada konsekuensinya, IPS akan tetap menjadi prioritas bagi UI bagi para pendaftar Komunikasi di SNMPTN. Walaupun tidak mengurangi kesempatan anak IPA. Kalau di ujian tertulis, yang kamu persiapkan adalah materi IPC ya. Belajar yang rajin ya supaya masuk UI.

  45. Assalamualaikum kak,
    Saya mau nanya saya dari smk jurusan multimedia, untuk jalur undangan ilmu komunikasi itu gimana kak biar bisa masuk? Alhamdulillah nilai dirapot ku selalu meningkat, alhamdulillah dari kelas 1 rangking 1 mulu, hihi
    Aku mau tanya juga, bahasa inggris nya harus menguasai gak sih kalo di ilmu komunikasi?
    Thanks kakk
    Mohon dijawab yaa, aku suka banget sama tulisan kakakk:)

    1. Waalaikumsalam Riswinda. Silakan dicoba saja ya dengan segala modal akademik yang kamu punya. Tapi menurutku sebaiknya kamu bertarung masuk Komunikasi lewat jalur tulis saja seperti SBMPTN atau SIMAK UI, karena sesungguhnya di situlah pertarungan bebas antara anak SMA IPA/IPS atau SMK memperebutkan kursi Komunikasi (dan juga jurusan lainnya).

      Untuk skill bahasa Inggris, sebenarnya, mau jurusan apapun, skill itu tetap dibutuhkan kok. Lebih-lebih Komunikasi.

    1. Wah, makasih juga Annisa sudah baca tulisan ini. Oh ya, aku sudah wisuda 7 Februari kemarin, jadi kalau kamu diterima di Komunikasi, panggilah aku “Alumni” ya hehehe.. Tapi kita tetap bisa jumpa di kampus kalau aku main ke sana ya. Sukses.

  46. bang Dodi Prananda kisahnya inspiratif…mantap
    bang kalo anak smk yang jurusanya broadcasting udah punya sertifikat maggang di radio n juara photography apa itu udah bisa meyakinkan ??

  47. kak mau tanya dong. dulu pas keterima di snmptn rata2 nilai rapotnya dr semester 1 – 5 brp? karna aku jg pengen bgt masuk komunikasi ui hehe makasih sebelumnya 🙂

    1. Hai Nadia, maaf ya aku baru balas. Rata-rataku dulu 8,5 lebih dikit, ditunjang sama sejumlah prestasiku. Kamu harus mantapkan pilihanmu ya. Pokoknya, begitu kamu diterima, aku orang yang harus kamu kabari ya setelah orangtua, keluarga dan guru. Okay?

      Berjuang ya, karena hampir semua urusan dalam hidup butuh perjuangan. Apalagi cita-cita dan pendidikan, ya kan, setuju?

  48. Terima kasih, ya, Kak, tulisan Kakak ini semakin menambah motivasi saya untuk berusaha diterima dan menuntut ilmu di jurusan ilmu komunikasi UI. Kak, klo saat ini nilai rata-rata rapot saya di atas 88 didukung dengan satu piagam juara KIR tingkat nasional dan tiga piagam juara KIR tingkat kabupaten bidang ips dan humaniora , menurut Kakak saya bisa tidak bersaing masuk UI lewat jalur SNMPTN atau PPKB UI atau saya harus mendaftar kedua-duanya? Balas, ya, Kak. Doakan mudah-mudahan saya bisa menjadi juniornya Kakak, ya 🙂

  49. kak, aku dari sman 1 pariaman (sumatera barat), aku pengen banget masuk ilmu komunikasi UI, karena selama ini, aku rasa, ya di sanalah bakat yang aku miliki, tapi aku dari jurusan ipa, namun karena aku dengar UI bisa lintas jurusan, aku jadi merasa yakin deh masuknya, namun, hal yang membuat ku bimbang dalam memilih jurusan ini, karena , kemarin setelah aku konsul jurusan sama guru bimbelku, mereka bilang, kalau dari perhintungannya, aku tidak mungkin untuk masuk kesana, namun, dari nilai ku, aku rasa tidak begitu rendah, ditambah lagi aku juga punya beberapa sertifikat tingkat kota dan provinsi yang kebnyakan berhubungan dengan debat b.inggris, kampanye, dan teater,..
    Bagaiman menurut kakak, apa aku tetap yakin ambil jurusan ilmu komunikasi UI atau aku harus beralih ke yang lain, dan menguburkan dalam” cita cita ku untuk jadi mahasiswa ilmu komunikasi UI,,
    Aku mohon balasannya ya kak..makasi kakak,.

    1. Guru Bimbel bukan hakim yang bisa memutuskan dan menggariskan hidupmu. Kalau boleh tahu, apa perhitungan mereka? Hanya kamu yang mengenali dirimu sendiri, jauh lebih baik daripada orang lain mengenal diri kita…

  50. makasi banget ya kak,, udah ngasi tanggapan..
    oh iya kak, kalo masalah perhitungan itu,mereka punya semacam aplikasi yg bisa memprediksi kelulusan kita, jadi disitu bisa terlihat apakah nilai kita cukup untuk masuk ke perguruan tinggi tersebut..
    dan setelah mereka memasukkan nilai ku ke aplikasi tsb, ternyata, nilai aku tidak cukup untuk masuk ke ilmu komunikasi UI..rasanya, ketika mendengar hal tersebut,, dunia ini rasanya hancur, dan bahkan rasanya, motivasi besar yg kumiliki mulai menipis..
    tapi, karena pengisian snmptn terakhir tanggal 15 maret kemaren, dan setelah berpikir matang”, aku mulai mengalihkan pikiranku, akhirnya aku ngambil ilmu komunikasi di universitas lain, dan hingga sekarang,, ketika mengingat tentang UI pun, saya masih sering nangis sendiri kak, apalagi ketika dengar lagunya rio febrian yg judulnya ku yakin sampai disana, soalnya, video klip nya itu tentang seseorang yg ingin kuliah di UI..
    tapi ya sudahlah, mungkin takdir ku bukan dikampus yg selama ini aku idamkan..
    dan inilah jalanku..oh iya, makasi ya kak, aku bangga bisa bercerita dengan kakak, dan buat mahasiswa baru ilmu komunikasi UI 2015 nanti,, aku bangga dan kagum sama meraka..jangan disia”kan bangku ilmu komunikasi yg kalian daptkan, karena diluar sana, termasuk aku, sangat mengidamkan untuk bisa kuliah di ilmu komunikasi UI.. salam ilmu komunikasi :’)

  51. Tulisan ini membuat saya semangat kembali ditengah lelahnya persiapan SIMAK UI besok, sungguh kakak sangat beruntung bisa diterima melalui jalur undangan. Doakan saya ya kak, bisa diterima di Ilmu Komunikasi UI merupakan impian saya dari dulu. Semoga impian saya membuat majalah sendiri nanti akan terwujud! Sukses selalu untuk kakak!

  52. Kak, saya dari jurusan IPA pengen juga masuk ke jurusan ilkom UI ini, apakaah benar kalo yang diliat nilainya untuk jalur undangan itu b.indo,b.inggris, sama mtk? Kalau iya nilai b.indo saya ga terlalu bagus ka, tapi alhamdulillah naik dri smester 3 ke 4, saya bagus di inggris dengan nilai sitar 8,5, dan nilai mtk saya sekirar 80 keatas (saya lupa hehe), saya juga gaada prestasi yang cocok dengan bidang komunikasi ini, ada paling sertifikat tanda pernah ikut lomba b.inggris saja waktu smp itu juga.. apakah saya masih ada kesempatan untuk masuk ILKOM UI? Saya juga dari sma 2 depok dan alumni saya banyak yang masuk UI, katanya kalau banyak alumni yang masuk, ade kelasnya bisa punya kemungkinan lebih besar untuk masuk juga ka.. Gimana tuh? Bener ga ya?
    Thanks A LOT ka

    1. Saya juga sepertinya gaada dukungan dari orang tua ka, orang tua selalu nyudutin saya masuk teknik 😦 , padahal saya ga enjoy disitu. Cara saya membujuk orang tua saya supaya mreka yakin dengan saya minat di ilmu komunikasi gimanna nih ka? Orang tua saya liat saya sebagai introvert dan org yang cocoknya kerja di meja, dan cuman nganggep FIKOM ini cuman berhubungan sama jurnalisme dan selalu berhubungan dengan pengangguran. Punya solusi untuk bujuknya kah?

    2. Hai Tobiby, benar nilai yang dilihat seperti yang kamu tuli Peluangnya tetap ada, apalagi kamu bilang rata-rata 80. Tapi saya kira banyak yang punya nilai begitu. Bila ada anak IPS juga 80, dan kamu juga 80, maka pihak panitia (khususnya UI sebagai kampus tujuan) akan memilih IPS, karena saya ingat sekali ada statement bahwa UI lebih memprioritaskan siswa program IPS untuk mengambil kursi jurusan yang ada di lingkup sosial humaniora. Tapi jangan lemah semangat hanya karena itu, sebab nanti yang memperhitungkan kamu diterima atau tidak sangat bergantung dengan nilai pesaingmu. Selamat berjuang.

  53. Hey Kak! Salam kenal ya.. aku gak sengaja nemuin blog kaka. Aku iseng aja buka dan setelah aku baca, tulisan kaka menarik, menginspirasi sekali. Aku jatuh cinta dengan dunia tulis menulis dan sastra. Aku berkeinginan untuk mengambil sastra Indonesia dari waktu aku smp. Tapi saat awal masuk sma, yang saat itu langsung penjurusan, aku mengambil jurusan IPA, saat itu aku kurang mengerti dan masih bingung dengan tujuanku. Aku mengambil IPA juga karena saran orangtuaku. Setelah berjalan dua tahun di kelas IPA, aku mulai menyadari passion aku ternyata bukan disini. Ya walaupun nilai eksak ku ngga jelek jelek banget, tapi aku kurang tertarik saat belajar itu. Nah, temen temen aku juga bilang aku cocok dengan sastra. Aku suka menulis, aku juga suka berbicara. Tapi, semakin kesini aku jadi ragu juga memilih sastra, walaupun orangtua menyerahkan semua pilihan kepada aku tetapi aku memikirkan lagi apabila aku mengambil sastra, semisalnya diterima disana aku tiba tiba jenuh dan mentok dengan kata-kata, juga pekerjaan saya nanti apa. Pas aku baca blog kakak ini kok aku ngerasa ‘wah kok sama banget kaya aku yaa’ dan akhirnya pilihanku pun sama seperti kaka, jatuh di komunikasi. Selain aku menemukan duniaku (tulis menulis) di komunikasi juga aku bisa berbicara dan berhubungan dengan orang lain, dengan ilmu yang lebih luas pastinya dari sastra yang hanya tulis menulis. Tapi yang jadi masalah, aku kan dari jurusan IPA, apa bisa?nilaiku juga biasa aja, aku gapunya sertifikat lomba juga. Aku tidak terlalu berharap banyak dengan jalur undangan, tapi aku tetep doa&berusaha karena kalo jodoh pasti gak akan kemana kan kak? Hehe. Oh iya, di komunikasi nanti akan dibagi lagi ya ka jadi 5 jurusan yang lebih spesifik? Kakak ngambil apa? Aku pengen tau banyak tentang komunikasi kak, hehe. Terakhir, terimakasih banyak, kak:)

    1. Biaya tergantung dari program yang kamu ambil, Ain. Ada 3 program: reguler, paralel dan internasional.

      Untuk reguler: kamu tidak perlu bayar uang pangkal, hanya bayar uang kuliah semester saja. Itupun ada mekanisme di mana kamu hanya perlu bayar sesuai kemampuan penanggung biaya. Untuk rumpun IPS 100 terendah– 5 juta termahal, lalu untuk IPA terendah 100 termahal 7.5 juta. Terbuka juga banyak beasiswa atau pengajuan cicilan.

      Untuk paralel, biayanya bersifat tetap (fixed cost). Kalau disuruh UI bayar segitu ya harus bayar segitu. Plus uang pangkal. Untuk International sama dengan paralel, hanya saja relatif lebih tinggi karena akan ada masa belajar di luar negeri.

      Semoga infonya membantu.

  54. Halo kak. Saya pengen crita nih. Kmrin saya baru sja menang lomba karya jurnalistik siswa tkt provinsi. Masih nunggu nasionalnya ni. Doain ya kak

    gini kak, saya gatau passion saya tu apakah bener2 dibidng jurnalistik? dri tulisan sih lumayan, tpi bnyk teman saya yg lebih keren. Trus saya juga pengurus mading. Posisi saya dri redaktur alhamdulillah naik jdi Pimpinan Redaksi. Tapi guru saya gak serius gitu. Ya saya ngerasa saya ga ada bedanya sma anggota lain. Jdi saya tu gabisa ngukur kemampuan diri saya. Gtu *-* mohon bantuannya yaaa. Makasiii. Saya sangatt tertarik skali sma kisah kaka diatas sma comment2 kaka. Thx

  55. Halo Dodi, saya mahasiswa komunikasi UB sedang mengerjakan skripsi yang berkaitan dengan akademisi komunikasi UI.
    Boleh saya meminta kontak? email atau lainnya, untuk membantu dalam penelitian saya diperlukan beberapa opini. Saya sangat mengaharapkan bahwa Dodi bersedia.
    Terimakasih Dodi.

  56. Hai kak. Saya Sheina, 17 tahun. Ambil IPA di SMAN 4 Tambun Selatan. Saya tertarik sekali dengan advertising. Tapi, saya dilanda kebingungan karena lulusan advertising adalah Diploma/D3. Saya bingung kedepannya, apakah saya bisa mendapatkan pekerjaan dengan loyalitas tinggi. Atau dengan lulusan D3 itu masih dibutuhkan atau tidak di dunia advertising? Atau harus melanjutkan hingga Sarjana?
    Mohon bantuannya ya kak..
    Terima kasih banyak, Salam sukses! 😀

  57. Kak, aku M. Azhari Hendrawan siswa kelas XI ipa dari sman 1 pkp

    gini kak, jujur aja aku tuh sama sekali gak tertarik sama mata pelajaran ipa. dan ngak tau kenapa bisa masuknya ke jurusan ipa, terus mulai sekarang kan udah harus planning masuk kuliah nih, jujur kalo felling aku sih aku cocok banget masuk jurusan ilkom, banyak temen2 ku juga yg bilang kalo aku tuh cocok jadi seorang jurnalistik karna aku pinter ngomong, sebenernya aku emang suka banget nge-wawancara seseorang, selain itu aku juga suka banget nulis karya-karya ilmiah remaja gitu kak, alhamdulillah sih kak aku udah beberapa kali memangkan lomba karya ilmiah remaja, dan pernah menjadi peserta parlemen remaja yg di adakan oleh dpr ri

    yang jadi permasalahaannya sekarang itu gini kak, karena aku jurusan ipa, otomatis nilai2nya kan banyakan dijurusan ipa ya kak, dan nilai2 nya itu ya bisa di bilangkan jelek sih paling rendah 80 an dan paling tinggi kisaran 88 an, sedangkan nilai2 ilmu sosial yg lain seperti pkn dan sejarah lebih menonjol, ditambah lagi nilai2 semester 3 ku banyak yg menurun di bandingkan semester 1 dan 2 , ditambahkan sekarang ada peraturan yg ikut snmptn berdasarkan akreditasi sekolah. alhamdulillahnya sih akreditasi sekolahku a.

    nah itu masih ada kemungkinan untuk bisa lulus snmptn gak kak?
    Makasih kak

  58. Kak, aku M. Azhari Hendrawan siswa kelas XI ipa dari sman 1 pkp

    gini kak, jujur aja aku tuh sama sekali gak tertarik sama mata pelajaran ipa. dan ngak tau kenapa bisa masuknya ke jurusan ipa, terus mulai sekarang kan udah harus planning masuk kuliah nih, jujur kalo felling aku sih aku cocok banget masuk jurusan ilkom, banyak temen2 ku juga yg bilang kalo aku tuh cocok jadi seorang jurnalistik karna aku pinter ngomong, sebenernya aku emang suka banget nge-wawancara seseorang, selain itu aku juga suka banget nulis karya-karya ilmiah remaja gitu kak, alhamdulillah sih kak aku udah beberapa kali memangkan lomba karya ilmiah remaja, dan pernah menjadi peserta parlemen remaja yg di adakan oleh dpr ri

    yang jadi permasalahaannya sekarang itu gini kak, karena aku jurusan ipa, otomatis nilai2nya kan banyakan dijurusan ipa ya kak, dan nilai2 nya itu ya bisa di bilangkan jelek sih paling rendah 80 an dan paling tinggi kisaran 88 an, sedangkan nilai2 ilmu sosial yg lain seperti pkn dan sejarah lebih menonjol, ditambah lagi nilai2 semester 3 ku banyak yg menurun di bandingkan semester 1 dan 2 , ditambahkan sekarang ada peraturan yg ikut snmptn berdasarkan akreditasi sekolah. alhamdulillahnya sih akreditasi sekolahku a.

    nah itu masih ada kemungkinan untuk bisa lulus snmptn gak kak?
    Makasih kak

  59. Tulisannya sangat menginspirasi sekali kak. Saat ini saya sdng duduk dikelas 3 SMA dan akhir-akhir ini saya lagi kepikiran untuk ambil komunikasi UI. Tapi bayang-bayang keinginan masuk Ilmu Ekonomi UI jg lagi besar-besarnya. Sebenarnya lebih ketat persaingan ilmu ekonomi atau ilmu komunikasi ya kak? Saya takut salah strategi pemilihan jurusan. Mohon informasinya kak. Terima kasih.

    1. Kalau dilihat jumlah peminat Komunikasi setiap tahun, lebih ketat Ilmu Komunikasi dibanding Ilmu Ekonomi. Tapi kalau ketat bukan berarti harus minder, justru kamu harus ambil bagian dalam “perang” memperebutkan kursi Ilmu Komunikasi. Soal strategi, ini soal medan perang saja, pastikan kamu punya amunisi yang cukup alias nilai dan prestasi yang bisa diandalkan

  60. halo kak, tulisannya menginspirasi sekali 😀 ohya di jurnalistik itu belajar apa sih kak? tipe anak yg kyk gimana ya yg pas milih peminatan jurnalistik?

    1. Terima kasih Dinda. Belajar bagaimana memproduksi sekaligus mengelola media massa: cetak dan elektronik. Yang jelas tipe yang suka membaca, mengamati, menulis dan senang mengetahui setiap kejadian di sekitarnya…

  61. Selamat pagi kak. sy kls 1 sma, dan menargetkan buat masuk ilmu komunikasi snmptn. tapi saya berasal dr jurusan bhs. kira2 sy harus menargetkan nilai rapot brp agar dapat mengalahkan jurusan ipa dan ips?

  62. Halo, Kak Dodi. Aku siswi naik kelas 11 ini di Tulungagung. Berawal dari aku suka sama bidang Bahasa, aku bingung menentukan pilihan nanti waktu SNMPTN, karena kebetulan jurusanku di SMA sekarang MIPA. Sebelum nemuin blog Kak Dodi, nggak sedikit sumber yg aku baca terlampir bahwa Ilmu Komunikasi – IPS.
    Yg aku ingin tanyakan ke Kak Dodi, hal detail apa yg Kak Dodi siapkan untuk bisa diterima di Komunikasi UI seperti sekarang? Dan apakah peluang diterima di Komunikasi UI dari jurusan IPA juga tidak sedikit? Terima kasih, Kak..

  63. ka, sebenarnya modal utama untuk jadi anak komunikasi itu apa ka ? saya belum punya pengalaman apa-apa tentang komunikasi ?

  64. Assalamualaikum, kak.
    Keren tulisannya. Sangat menginspirasi. Oiya kak, aku saat ini sdg duduk di kelas XII program IPA disalahsatu SMA swasta di Jateng. Aku berniat untuk masuk HI/IKom UI. Aku pengen tanya kak, seberapa besarkah peluang anak IPA bisa masuk kejurusan tsb yg mana keduanya adalah Soshum.
    Nilai raport saya tidak terlalu bagus. Namun ada beberapa piagam/sertifikat, itu juga hanya lingkup Jateng, kedu, dan kabupaten, diantaranya menjadi peserta pelatihan jurnalistik Jateng, juara I storytelling kedu, juara III kampanye kesehatan reproduksi remaja & HIV/AIDS kabupaten.
    Itu bagaiman kak? Makasih.

    1. Waalaikumsalam. Kalau ada kesempatan bertarung di SNMPTN, dengan mempertimbangkan tidak ada anak IPS yang unggul di sekolahmu yang kebetulan mau masuk Komunikasi juga, bertarunglah di SNMPTN. Tapi kalau ada, saranku, anak IPA baiknya bertarung di SBMPTN atau SIMAK UI. Rasanya lebih adil begitu.

  65. Halo kak! gue pernah komentar di blog ini 2 tahun yang lalu, saat itu gue masih kelas 3 SMA. Baca blog ini semakin menguatkan niat gue buat jadi salah satu bagian dari komunikasi UI. Waktu itu saya sangat pesimis melihat peluang saya yang sangat kecil (rapor jelek, belum ada alumni UI dll.) tapi waktu itu kak Dodi membalas komentar saya dengan kalimat “Aku melihat peluang diterima yang besar pada dirimu, jadi coba saja daftar ya. Jangan takut-takut. Kamu harus mendobrak kalau siswa dari sekolahmu pun layak diterima di UI. Jadilah yang pertama ya. Sukses.” Dan kak Dodi benar!! saya ditolak di SNMPTN, tapi alhamdulillah SBMPTN menjadi langkah saya menjadi salah satu bagian dari keluarga besar Komunikasi UI 2015 🙂 Sekarang saya sedang dilema peminatan nih kak, wkwk kemungkinan besar bakal ambil kajian media. Semoga kelak kita bisa ketemu ya kak biar saya bisa terima kasih secara langsung.

    Anw terima kasih telah menginspirasi! Dan semoga selalu menginspirasi 🙂

    anw, saya juga diajar mbak nina dan mas ade 🙂

  66. Setelah cari-cari info tentang ilmu komunikasi yang ternyata lumayan susah di cari di internet ternyata dapet juga info yang menarik dan memotivasi dari blog ini. Tertarik banget buat belajar tentang ilmu komunikasi karena pengalaman selama sma yang buat aku berfikir public speaking itu sangat menyenangkan. Walaupun aku anak ipa tapi gak ragu lagi buat murtad ke jurusan sosial ini. Post an ini udh lama bgt kayaknya tapi semoga aja kak dodi bisa baca comment aku dan bales comment “semangat berjuang untuk jadi bagian keluarga komunikasi ui” mungkin kalo aku udh masuk ui komunikasi nanti udh gabisa ketemu lagi sama kak dodi, tapi berharap bisa ketemusama kak dodi yang memotivasiku di kesempatan lain.

  67. Assalamuaalaikum kakak…
    Kak kalau di ilmu komunikasi mata kuliahnya banyak bicara di depan banyak org yah kak?
    Kalau orangnya yg pandai komunikasi tapi grogi banget kalau bicara di dpn org banyak iti gimana kak😢

    1. Waalaikumsalam. Hai Adiva. Enggak mesti begitu kok. Tapi kemampuan komunikasi bagaimanapun tetap butuh untuk menghadapi perkuliahan yang mengharuskan kita jago presentasi dan diskusi di kelas. Kalaupun gak bisa public speaking, toh masih ada sejumlah peminatan yang tidak memaksa kita untuk tampil, melainkan “ngomong” lewat karya, seperti Industri Kreatif Penyiaran atau Periklanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s