Artikel Populer

Refleksi 18 Tahun: Sebuah Catatan Evaluasi Diri

Rasanya baru kemarin, saya merayakan hari kebahagian sebagai manusia berusia tujuh belas tahun bersama teman-teman dan keluarga. Tapi, hari ini, Minggu, 16 Oktober 2011 kebahagian yang sama kembali menghampiri saya. Inilah momentum yang saya tunggu-tunggu di setiap tahunnya. Bilamana hari kelahiran datang, maka disanalah akan ada semacam evaluasi diri untuk sekadar mengukur, telah sejauh manakah saya mampu mempergunakan usia itu hingga pada jatuhnya hari jadi itu dan telah sampai mana saya berhasil mencapai apa yang telah saya rancang untuk dicapai pada tahun sebelumnya.

Persis seperti ketika hari kelahiran saya pada 16 Oktober 2010 silam, saya membuka catatan tahun sebelumnya dan melakukan pengoreksian diri atas apa yang telah saya tulis. Maka, saya akan mulai mengambil stabilo, lalu membiarkan tinta stabilo menandai mana poin-poin yang telah berhasil saya raih, dan melakukan kroscek terhadap poin yang gagal saya lakukan. Hal yang sama juga saya lakukan ditahun ini, mulai melakukan evaluasi atas pencapaian apa yang telah berhasil apa saya tempuh. Dan, catatan tahun 2010 silam akan menjawab pertanyaan besar tersebut.

Berusia 18 tahun, rasanya saya disadarkan betapa telah cukup lama ternyata saya hidup sebagai manusia. Angka tersebut juga menandai sebuah arti besar menjadi seorang remaja dan dewasa, angka yang identik diasosiasikan pada kemandirian, kematangan berpikir dan lain sebagainya. Dan itu, berarti pula bahwa kini sudah saatnya saya mulai menyadari, keberhasilan apa pula yang telah saya capai setelah saya diberikan jatah usia selama 18 tahun hingga sekarang. Tahun 2011, atau tepatnya di usia yang ke 18 tahun ini, keberhasilan terbesar yang sudah saya genggam adalah impian menjadi Mahasiswa Universitas Indonesia dan menempuh studi di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sebuah ekspektasi besar yang telah saya tanamkan, jauh ketika saya masih duduk di tingkat awal Sekolah Menengah Atas. Untuk kedua kalinya, di depan saya, saya menyaksikan mata ayah berkaca-kaca ketika mendapati kenyataan anaknya dapat di terima di perguruan tinggi yang sangat tersohor di Indonesia (melalui jalur SNMPT Undangan), setelah sebelumnya ketika saya juga menempati kursi di SMA Favorit di Padang. Alhamdulillah, Tuhan Maha Basar, apa yang telah saya targetkan, didengar oleh-NYA dan dikabulkan menjadi kenyataan.

Pada sisi lain, juga ada tendensi yang kuat untuk selalu melakukan kebiasaan saya bila berhadapan dengan ayah. Dulu, ketika masih di Padang, saya tidak pernah henti-hentinya untuk selalu memperbaharui semangat ayah. Bila ayah datang ke rumah – karena ketika itu saya menetap di rumah nenek—saya akan menyampaikan pada ayah soal kabar-kabar gembira yang telah saya himpun sedemikian rupa, semata demi meningkatkan dan membarakan guruh semangat di dalam dada ayah. Dan saya selalu berhasil melakukannya; maka ketika ayah mengunjungi saya di rumah, saya akan bercerita padanya tentang prestasi apa yang baru saya capai setelah berminggu-minggu ia disibukkan rutinitas kerja. Tidak hanya soal prestasi, tetapi juga pengalaman yang menarik, apakah itu soal peristiwa di sekolah, tentang pengalaman berjurnalistik saya, hingga pada pencapaian apa yang saya asumsikan dapat menimbulkan getaran semangat agar ayah tidak pernah lelah untuk saya. Tidak pernah lelah, hingga ia pun kelak dihadapkan pada apa yang pernah dimimpikannya, berubah menjadi nyata di hadapannya; melihat saya menjadi sarjana. Di usia 18 tahun inipula, saya merasa terpanggil untuk tidak menghentikan kesengajaan ini. Karena saya merasa, cukup Tuhan yang paham dan mengerti rasa bahagia dan bangga saya memiliki seorang ayah seperti yang saya miliki hingga kini.

Berusia 18 tahun, juga mengingatkan saya bahwa sepanjang saya menghabiskan satu tahun usia sejak berusia 17 tahun (dari Oktober 2010 s.d Oktober 2011), pada tahun silam, saya merasa sudah cukup banyak pencapaian lain yang sudah saya buat. Tercatat, sebanyak 15 butir prestasi yang sudah mampu saya torehkan sepanjang setahun waktu bergulir. Tapi, pada sisi lain, saya selalu merasa kelaparan untuk terus menggapai apa saja yang membuat orang-orang di sekeliling saya merasa bangga memiliki saya, merasa saya ada di sampingnya, merasa bahagia karena saya selalu menciptakan senyum di wajahnya. Merasa selalu haus akan prestasi-prestasi yang akan membuat ayah dan ibu saya memiliki saya meski mereka tidak pernah menampilkannya di hadapan saya. Merasa kelaparan untuk terus melakukan yang terbaik, dan menjadikan apa-apa yang tidak berhasil saya wujudkan pada tahun silam, sebagai ‘pekerjaan rumah’ bagi saya di usia 18 tahun ini.

Hari ulang tahun, Minggu (16/10) rasanya meninggalkan banyak kesan. Pertama, meski tidak melenggang menjadi Pemenang Utama pada Lomba Menulis Cerpen Remaja Tingkat Nasional 2011 Kategori C PT.Rohto Laboratories Indonesia. Kali ini, di pentas kompetisi yang lawanya tidak hanya homogen, sebagaimana laiknya ketika saya menjadi Juara I (Perempuan Simpang­) pada tahun lalu di kategori B dan berhasil mewujudkan apa saya damba-dambakan, kini saya dihadapkan pada pentas rival yang heterogen, yang tidak hanya mahasiswa, melainkan juga guru, dosen dan umum. Rasanya, untuk menembus angka sebagai 200 Pemenang Favorit (lewat cerpen berjudul Kamar Ibu) pada kategori C sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Dan ini akan menjadi pelecut semangat, sebagaimana pula saya dilecut ketika tahun 2009, saya hanya mampu bertengger di posisi 10 Pemenang Harapan (pada waktu itu dengan cerpen berjudul ‘Menanti Ibu’. Ini menandakan, sudah seharusnya pula lecutan semangat itu berulang pada tahun depan, dan saya pun berharap, sejarah kembali berulang.

Kedua, saya juga menerima kabar gembira bahwa di hari ulang tahun saya yang ke -18, saya mendapat penghargaan sebagai peraih 7 Puisi Terpuji dalam Lomba Cipta Puisi Kota Padang Tingkat Nasional. Ini tidak pernah ada dalam dugaan saya, bahwa saya akan mencapai posisi 150 nominasi, lalu dengan mulus menembus 75 nominasi. Lalu sesudahnya, saya semakin pesimis ketika menyadari para penulis yang sudah prominen karyanya, sudah berbuku pula ia, sudah wara-wiri pula karyanya di media nasional, dan menjelaskan bahwa lawan saya dalam kompetisi ini adalah mereka yang mayoritas penulis yang ‘mapan’ dalam taraf berkarya. Dan, tidak henti-hentinya puji kepada Tuhan Yang Maha Esa, puisi saya (Menulis Kangen; Padang), sebagai 7 Puisi Terpuji. Rasanya, ini pencapain yang sudah melebihi apa yang saya asumsikan untuk terjadi.

Ketiga, saya mengucapkan terima kasih banyak pada Bapak Nasrul Aswar, Redaktur Sastra dan Budaya untuk rubrik Seni di Haluan Minggu. Saya mendapat kado yang manis di usia 18 tahun ini, ketika mendapati rubrik cerpen Haluan memuat cerpen saya berjudul Kandang Bapak, ini akan menjadi catatan menarik dari sepanjang peringatan hari kelahiran saya.

Dan sebagai pengharapan untuk tahun depan (Oktober 2012), saya ingin kembali berpekspektasi. Sebagaimana layanan pesan pendek yang masuk ke ponsel saya dari rekan-rekan, ada doa dan  harapan agar saya mampu menerbitkan buku saya yang pertama di tahun ini, di usia yang bertambah satu tahun ini, dan pada semangat baru ini. Ada doa-doa agar saya sukses pada studi yang tengah saya emban. Pun saya juga mencatat keinginan di tahun ini, bahwa saya ingin sekali untuk bisa menembus KOMPAS, saya tidak akan berhenti berkarya dan selalu meningkatkan kualitas karya dari hari ke hari. Tidak hanya KOMPAS, tetapi juga koran nasional yang lainnya. Saya akan mulai dari Republika, Jurnas, hingga nantinya pada Kortem dan KOMPAS. Saya tipikal orang yang sangat menyakini, tidak ada yang tidak  mungkin di dunia ini bila sesuatu hal didasari atas keinginan, dorongan, yang dipadukan dengan usaha, tekad yang bulat serta dibalut dengan doa.

Terakhir, terima kasih kepada guru saya di Padang. Sang Guru, yang sangat berperan besar dalam diri saya yang sekarang, yang tidak hanya sekedar mengajari tentang bagaimana cara menulis, tetapi juga tentang hidup. Rasanya, inilah guru sejati yang pernah ada dalam sepanjang saya hidup, seorang guru yang perannya terasa jauh melebihi peran orangtua saya di rumah. Terima kasih kepada rekan-rekan semua, kakak-kakak di Padang, teman-teman di Universitas Indonesia dan juga alumni SMA 1 Padang tahun 2011, guru-guru saya di SMAN 1 Padang, empat orang adik saya tercinta (Rafi, Icha Aji dan Nazwa), keluarga tersayang (memiliki kalian saya merasa bahagia), teman-teman yang selalu saya rindukan, orang-orang yang pernah membantu saya dalam berbagai kesulitan (yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu). Terima kasih atas ucapan selamat ulang tahunnya yang masuk di situs jejaring sosial, ponsel dan sebagainya. Mohon maaf bila tidak dapat dibalas satu persatu. Hari ini saya katakan pada dunia; saya harus menjadi lebih baik lagi di tahun mendatang. Sebuah keharusan yang mutlak. n

*Catatan ini ditulis untuk menyambut Hari Ulang Tahun saya yang ke 18 tahun, 16 Oktober 2011.

Dodi Prananda

Refleksi 18 Tahun: Sebuah Catatan Evaluasi Diri- Foto:Dok.Pribadi

Iklan
Standar

2 thoughts on “Refleksi 18 Tahun: Sebuah Catatan Evaluasi Diri

  1. Shona Ve berkata:

    Cara yang berbeda..

    Biasanya resolusi pertahun baru, tapi ini perulang tahun *jadi terinspirasi*

    Selamat ulang tahun dodi *telat* 🙂

    semoga impian2 di usia berikutnya tercapai,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s