Sajak-Sajak

Tragedi Sampah

:mengenang Musibah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, 21 Februari 2005

(puisi ini ditulis untuk memperingati Hari Anti Sampah Nasional, 21 Februari 2011)

 

Enam tahun lalu di kota kami, orang-orang saban harinya sibuk memproduksi sampah dari mulut-mulut mereka. dari rumah-rumah mereka. dari toko-toko mereka. dari apartemen mereka. dan dari pabril-pabrik mereka.

Sehingga ketika kami hendak mandi di sungai, kami mandi dalam lautan sampah. Sampah-sampah mencuat dari perut buncit manusia yang mengonsumsi ribuan sampah dalam perutnya. Milyaran sampah menetas dari mulut-mulut manusia yang hidup di sekitar sungai, rawa-rawa atau danau di kota

Atau ketika kami hendak berjalan-jalan melihat pemandangan indah di kota kami, alangkah kaget kami ketika sampah-sampah bertriliyun jumlahnya tumbuh di sepanjang jalan, menjadi batang sampah yang melahirkan sampah-sampah. Tumbuh menjadi pohon-pohon raksasa yang memuntahkan sampah-sampah di sungai, di laut atau di danau.

Bahkan lebih kaget aku ketika melihat rumah-rumah tertimbun dalam gunungan sampah. Dan orang-orang dari lantai enam belas gedung kantornya, berlomba-lomba memuntahkan sampah dari mulutnya. Dari rahimnya, dari perut buncitnya, dari airmatanya, dari tawanya, dari sedihnya. Sehingga jadilah kota kami menjadi kota sampah.

Di sepanjang mall, di sepanjang etalase toko-toko di pasar, di halte, di stasiun, di bandara, di terminal atau di  keramaian: orang-orang membangun candi sampah, tapi lebih mirip bangunan sampah seperti hotel sampah. Bahkan, ada juga yang membangun rumah sampah, yang kemudian sampah-sampah berkembang biak di sana.

Sementara di jantung kota, Pemerintah membangun monument Adipura. Karena pongah, kotanya disanjung paling bersih dari sampah. Tetapi, pada akhirnya sampah-sampah meluber ke kantor-kantor pemerintah, sehingga pejabat-pejabat pemerintah berteriak ketika minum paginya dan makan siang adalah racikan sampah-sampah yang meluap hingga ke kantornya. Sementara lagi, monument adipura yang telah di bangun tinggi-tinggi tujuh meter, tak kuasa mengalahkan gunungan sampah yang telah menutup hampir sebagian kota.

Ketika itu, kota kami telah menjadi kota sampah. Bahkan penduduknya hanyut terbenam dalam lautan sampah. Yang hanya tinggal, tangan-tangan melambai minta tolong sementara tubuh mereka tertimbun dalam lautan sampah itu…

Padang, 2011


———-

*) Dodi Prananda lahir di Padang, Sumatra Barat. Menulis cerpen, puisi, dan artikel yang dimuat di berbagai media Sumatra Barat dan Jakarta. Cerpennya Perempuan Simpangmasuk dalam Antologi ‘Sehadapan’ (Rayakultura Press, 2010) Antologi Peraih Anugerah Lipe Ice Selsun Golden Award 2010, Antologi Misteri Tas Merah Jambu (Kompas Gramedia, 2010) dan Negeri Kesuda (Antologi Pemenang Lomba Cerpen IAIN Imam Bonjol Se-Indonesia). Aktif berkegiatan di Yayasan Citra Budaya Indonesia – Sumatra Barat, Sanggar Sastra Pelangi Padang.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s