Baju Baru Sang Raja; Cara Lain ‘Menertawakan’ Hipokrit Politik

Baju Baru Sang Raja; Sebuah Pementasan Teater Sastra Universitas Indonesia karya I Yudhi Soenarto (Dok.Khusus)


(Catatan atas Pementasan Teater ‘Baju Baru Sang Raja’ karya/sutradara I.Yudhi Soenarto)

 Oleh: Dodi Prananda

Menyaksikan pementasan teater Baju Baru Sang Raja karya/sutradara I.Yudhi Soenarto yang diangkat dari The Emperor’s New Clothes karya H.C. Andersen seperti menyaksikan potret imajinasi yang sangat nyata kita rasakan saat ini. Boleh jadi, pementasan ini semacam gambaran betapa miris dan ironinya keadaan dan kondisi politik yang ada saat ini.

 Pementasan ini bercerita mengenai gambaran akan kompleksnya keadaan sebuah kerajaan pasca Indonesia pecah pada tahun 2020, dimana intrik politik, hawa nafsu, kebohongan dan ‘pembohongan’, kebodohan dan termasuk ‘pembodohan’ maupun sekelumit pengabaian terhadap nilai dan normal diangkat secara gamblang. Pun diceritakan, pada tahun ini, pasca mengalami keruntuhan sehingga wilayah-wilayahnya memisahkan diri dan menjadi negara-negara baru. Salah satu negaranya, yang menganut sistem pemerintahan monarki konstitusional, dipimpin oleh raja yang bersikap serba mewah. Ia dibantu oleh lima orang menteri yang dijadikan sebagai alat propaganda, pencitraan, sekaligus kemewahan. Hal ini sekaligus mengakomodosi pementasan Baju Baru Sang Raja ini sebagai upaya (untuk) hendak menunjukkan betapa kekuasaan (politik), tidak berarti apa-apa selain menjadi alat yang ‘mapan’ untuk melakukan penakhlukan sekaligus penghancuran logika dan nilai.

 Adalah hal yang patut diapresiasi atas kelincahan I.Yudhi Soenarto dalam mengemas dongeng kanak-kanak The Emperor’s New Clothes karya H.C. Andersen dengan menyuguhkan sesuatu yang terasa segar di dalamnya, yaitu iklim yang buruk terhadap betapa politik telah menjadikan logika dan nilai sebagai sesuatu yang begitu gampang untuk dihancurkan.

Baju Baru Sang Raja tidak lagi sekadar menjadi suatu tontonan fantasi dan dongeng klasik yang semata menampilkan ikhwal kisah raja dan jubah barunya (yang katanya hanya bisa dilihat oleh orang tertentu, dan memaksa diri ia sendiri untuk berbohong). Melainkan, ini menjadi sebuah cara lain untuk menampilkan hipokrit-hipokrit yang busuk dalam ranah politik yang selalu berkiblat pada kekuasan, keagungan, dan kewibawaan.

I. Yudhi Soenarto menghadirkan ini sebagai suatu tontonan bergizi, sebab, pada konteks kekinian, moral values yang diangkat dalam pementasan ini menjadikan kita sangat sensitif dan berupaya untuk meraba-raba pesan-pesan yang diselipkan di dalamnya, lalu mencoba mengorelasikannya dengan wajah perpolitikan Indonesia saat ini.

Pementasan ini kaya dengan beraneka sindiran-sindiran yang dihadirkan melalui karakter raja yang fanatik terhadap kekuasaan, dan punya kecendrungan birokrasi inertia yang tinggi, sehingga kedudukannya yang agung sebagai raja disimbolkan sebagai sesuatu yang mutlak dapat melumpuhkan kekuatan dan pakem logika dan nilai yang dianut.

Selain itu, pementasan ini terasa sangat berhasil mendongengkan betapa telah bobroknya moral yang didengung-dengungkan sebagai hal yang agung, yang justru pada  kenyataannya hal ini telah menjadi semacam ‘sampah’. Hal lain yang membuat pementasan ini menjadi bernilai adalah cara penyampaian yang dihadirkan melalui unsur komedik yang kentara, sehingga, ranah politik yang dijadikan bahan satiran, tampak implisit. Hanya saja, dalam penilaian saya secara subjektif, durasi pementasan yang relatif lama, membuat saya menilai rasanya ada beberapa babak yang terkesan memanjang-manjangkan cerita. Sehingga, tanpa babak itupun tidak akan mengurangi keutuhan dan subtansi utama cerita. Untuk Bapak I.Yudhi Soenarto (dan para pemain) saya ucapkan selamat atas keberhasilan pementasan yang luar biasa ini. (*)

Iklan

Tanamlah Toge, Berharap Tumbuh Trembesi!

Inilah yang setidaknya menjadi sebuah analogi dalam pemikiran saya, seusai mengikuti sebuah seminar yang mengangkat isu-isu kepemudaan. Sebuah Seminar bertajuk ‘Seminar Kepemudaan: Kontiniutas Peran Pemuda dalam Kepemimpinan, Kepeloporan dan Kewirausahaan yang dihelat oleh BEM FISIP dan Mahalum Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Kamis (15/12) di Auditorium AJB Bumiputera, Gedung F Lantai 2. Bahwa saya punya sebuah kesimpulan yang menarik; Tanamlah Toge, Berharap Tumbuh Trembesi!

Sebagai Mahasiswa Baru (Maba) di FISIP UI, di jurusan Ilmu Komunikasi, kegiatan mengikuti seminar menjadi semacam hobi favorit belakangan ini. Saya selalu mencari tahu kegiatan-kegiatan seminar terbaru, apapun tema yang diangkat dalam seminar itu. Saya juga bahkan tidak memperhatikan (kadang), siapa yang menjadi pembicara di seminar itu, dan siapa pula yang mengadakannya. Yang menjadi perhatian saya hanyalah; apapun seminar yang saya ikuti, sedikit banyak akan menyumbangkan pemikiran dan ilmu pada diri saya. Untuk itu, saya menjadi punya semacam kredo bahwa selagi ada seminar (di lingkungan Universitas Indonesia), khususnya yang free entry, saya akan selalu sempatkan untuk datang.

Sebagaimana kebiasaan ikut pada acara seminar itu, juga berlaku pada hari ini. Dulu, sebelum kami sempat konflik di Asosiasi Mahasiswa Pecinta Seminar (AMPS) Tiga Serangkai . Kami selalu memantau kegiatan seminar terbaru, dan sedikit ‘melototkan’ mata pada flyer dan selebaran di halte bis kuning jurusan apapun, mading fakultas apapun dan memperhatikan setiap nama contact person sebuah event seminar dan buru-buru mendaftarkan diri. Tapi, khusus seminar kali ini, saya nyaris tidak punya persiapan. Saya tipikal orang yang prepare untuk suatu hal, selalu siap sebelum masuk pada suatu dan kondisional keadaan tertentu. Pun berlaku bila saya mengikutkan diri untuk kegiatan berupa seminar; dimana saya selalu mencari bahan sebelum datang ke acara seminar tersebut. Seolah ada prinsip yang tertanam dalam diri saya bahwa saya tidak ingin menjadi asing bila bersentuhan dengan suatu hal, dengan kata lain, hanya tidak ingin terlihat ‘tidak tahu’ dan buta pada bahasan yang menjadi isu seminar dan diskusinya.

Seminar kali ini saya ikut sporadis. Tapi, berkesan. Amat meninggalkan banyak buah-buah pemikiran yang perlu follow up pembahasannya dan rasanya waktu lima jam sangat kurang untuk mengkover bahasan yang amat menarik. Pada dasarnya, saya selalu membuka diri untuk bersentuhan dengan cabang ilmu manapun dengan aneka topik apapun, karena bagi saya bila ada seseorang yang ‘masturbasi ilmu’ adalah mereka-mereka yang bagai sebuah ember kecil, yang merasa bahagia sudah terisi penuh, sementara banyak di luar sana, ember-ember besar yang masih terus mengisi, tiada lelah menampung apa saja yang bisa ditampungnya. Kali ini, seminar membahas ikhwal isu kepemudaaan dan bagaimana peran pemuda mampu melakukan upaya akeselarasi dalam perubahan.

Saya tidak ingin berbagai tentang apa yang menjadi bahasan penyaji seminar pada kesempatan ini, tapi saya hanya mengemas suatu hal yang bagi saya menarik untuk ditulis. Saya menyenangi para penyaji yang terlihat berapi-api di depan forum ketika saya mencoba melempar sebuah kasus ke floor, dan sontak sang penyaji mencoba mengupas apa yang menjadi buah pemikiran saya tersebut. Pada kesempatan itu, saya bertanya ikhwal kiblat pragmatis kapitalistik yang terlalu menggerus jaman sehingga menihilkan keberadaan prinsip nasional yang dianut, membuat pemuda kehilangan jati diri karena kuatnya desakan pengaruh kapitalisme dalam mempengaruhi cara pandang, pola perilaku, mindsheet dan sebagainya. Pada tataran teoritis, saya senang pemateri mampu menjawab ini dan terasa sangat mengenyangkan saya dengan aneka referensi teorotisinya.

Akan tetapi, sepanjang diskusi yang alot itu berlangsung, saya menyimpulkan suatu hal yang amat penting; bahwa tanamlah toge, siapa tahu, suatu saat akan tumbuh trembesi.

Dalam rangka memanifestasikan spirit-spirit perubahan, seorang pemuda tidak semestinya pula harus muluk-muluk memimpikan perubahan dari suatu aksi yang besar. Banyak pemuda sekarang terjebak pada keinginan ingin mewujudkan perubahan yang besar tapi merujuk pada sesuatu yang terlampau tinggi dan pada skala tertentu, justru terasa nihil dan tidak mungkin untuk diwujudkan. Untuk itu, dalam persepsi dan pemahaman (pun pada tataran saya menginterprestasikannya), saya menjadi terdorong untuk selalu berkata ‘go a change‘ tapi mulai pada hal-hal kecil di sekitar saya. Banyak hal kecil di sekitar kita yang semestinya bisa kita lakukan dalam rangka perubahan itu sendiri, tapi sayang, mata kita yang lamur dan pikiran yang ngawang, kerap membuat kita terkurung pada pemikiran perubahan yang harus pada taraf yang besar. Oh, tidak, itu salah kaprah. Sebagaimanapula kebanyakan orang (dan juga mungkin saya) selalu bermimpi ingin menembus KOMPAS, tapi tidak memulainya pada media-media kecil (semisal media lokal di daerah) dan aneka media terbitan Jakarta. Ayo, dari sekarang, tanamlah toge, suatu saat, siapa tahu trembesi yang akan menggantikan pertumbuhan toge itu.

Depok, 15 Desember 2011.

Muhammad Iman Usman Itu Dimata Saya, Seperti…

Muhammad Iman Usman, Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. (Foto; Dok.Pribadi)

Oleh: Dodi Prananda

Sebelum saya memulai cerita ini, saya hendak memperkenalkan diri terlebih dahulu melalui bahasa tulis. Saya Dodi Prananda, berusia 18 tahun dan saat ini sedang menempuh studi di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia. Tulisan ini semata, memberikan gambaran, penilaian serta apresiasi terhadap pribadi Sdr.Muhammad Iman Usman, senior saya di SMA Negeri 1 Padang sekaligus senior juga di FISIP UI. Tulisan ini adalah semacam testimonanial untuk mengulas bagaimana influe karakter Sdr.Iman Usman yang ditularkan secara tidak langsung dan memiliki pengaruh besar terhadap diri saya.

Saya mengenal sosok Iman Usman ketika saya menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas di Padang. Ketika itu, saya masih kelas X SMA, di SMA 1 Padang, ketika itu sekolah masih berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman. Meski siswa baru kala itu, saya sudah mengenal nama Iman Usman ketika masih duduk di bangku SMP (saat itu saya menempuh pendidikan di SMPN 7 Padang). Saya kerap kali menemukan artikel yang mengulas tentang Iman, berikut berita-berita seputar prestasi terbaru Sdr.Iman yang diwartakan media lokal Sumatera Barat. Masih segar dalam ingatan saya, profil Iman dalam sejumlah perlombaan yang ditampilkan bersamaan dengan berita tentang kemenangannya dalam sebuah even.

Dari cerita teman sejawat, saya mendengar pula, prestasi yang diraih Iman sewaktu ia masih SMP (seingat saya, saya mengenali Iman sebagai siswa teladan yang aktif di lingkungan organisasi sekolah). Ketika tercatat sebagai siswa SMAN 1 Padang, darisinilah saya bisa melihat langsung sosok dan pribadi siswa yang selama ini saya baca dan temukan di media massa. Saat itu pula, saya masih mengingat Iman merupakan siswa teladan di sekolah, selain karena sederat prestasinya yang ikut bersumbangsih dalam mendongkrak reputasi dan kredibilitas sekolah, ia juga dikenal sebagai sosok yang kutu buku, gemar berkecimpung dalam organisasi dan kerap melibatkan diri dalam sejumlah aktivitas kemanusiaan.

Darisinilah saya mencoba menumbuhkembangkan setiap stimulus, spirit, dan energi positif yang secara tidak langsung saya serap melalui keseharian Iman di sekolah. Saya acap kagum, bilamana melihat Iman di jam istirahat sekolah, duduk diantara kursi panjang koridor sekolah sambil membuka buku. Buku barangkalai bisa dikonotasikan sebagai pacar setia Iman. Bilamana jam istirahat datang, saya akan selalu mendapati Iman sibuk dengan bacaannya.

Meski hobi membaca telah saya miliki sejak SD, saya tetap berani mengklaim dan mengakui bahwa, ada spirit terselubung yang sangat saya sadari yang ditangkap oleh diri saya. Disaat siswa-siswa lain (khususnya siswa ‘kebanyakan’ menghabiskan jam istirahat dengan kelompok sebaya, dengan kekasih, dengan makanan di kantin), Iman cenderung dan memang lebih menyukai mengisi jam istirahat untuk aktivitas membaca. Inilah yang kemudian mendasari, sejak di bangku SMA, saya lebih menyenangi pustaka sebagai destinasi kunjungan kala jam istirahat.

Ini mungkin hanya bagian dari stimulus paling sederhana, bila perlu saya menjabarkan semangat lain (yang dengan sadar tertangkap oleh diri saya), maka itu adalah semangat berjunalistik Sdr. Iman. Kecintaan pada dunia kepenulisan, khususnya jurnalistik dan sastra adalah dunia yang telah saya geluti pada bangku SMP. Tetapi, saya semakin merasa terarah dan mendapatkan panah dan petunjuk yang cerah tentang betapa asyik ikut melibatkan diri dalam dunia ini. Di bangku SMA, Iman ikut terlibat secara aktif di media jurnalistik sekolah yaitu MEDIA SMANSA dan menempati posisi sebagai Redaktur Pelaksana. Tugas yang cukup berat di emban, dibuktikan dengan semangat etos kerja yang tinggi oleh ia, sehingga menghasilkan buah karya jurnalistik yang maksimal. Setahu saya, dan sepengamatan saya pula, di Padang, selain SMAN 1 Padang, baru sekolah kami yang mampu menerbitkan majalah selain SMA Don Bosco Padang dan SMAN 2 Padang. Kendatipun begitu, Media SMANSA, ditangan Iman Usman, mampu bermetamorfosis dari format publikasi yang awalnya berupa tabloid menjadi majalah. Spirit begitu cepat lahir dalam tubuh saya, sehingga pada tahun 2008, saya dipercaya menjadi Koordinator Berita, berikut setahun setelah itu diangkat menjadi Pejabat Sementara menggantikan posisi Pimpinan Redaksi yang mendapat surat pemberhentian. Semangat itu, meski kadang tidak tersadari, telah melahirkan buah manis yaitu saya secara resmi dilantik pada tahun 2010 menjadi Pimpinan Redaksi, menaungi penerbitan majalah selama kurang lebih tujuh kali penerbitan. Inilah, dampak positif yang terasa begitu nyata bila saya menunaskan spirit dan energi positif yang diberikan Iman melalui aktivitas dan kesehariannya di sekolah.

Meskipun demikian, saya lebih senang menyatakan ini sebagai suatu semangat yang dilahirkan kembali ke dalam diri saya. Bukan berarti, saya adalah seorang pembajak, apalagi mesti dikatakan followers, terlebih fanatik sosok seorang Iman.

Tetapi, saya lebih senang menyebut ini sebagai, apresiasi tersendiri dari saya atas pribadi Iman yang mesti saya ekspresikan dengan cara saya sendiri. Dalam kalimat lain, energi positif yang disebarkan Iman secara tidak langsung, telah saya tangkap dan saya eksplorasi sesuai versi diri saya, berprestasi dan berkreasi dengan cara dan ‘gaya’saya sendiri.

Hal lain yang terasa sama pada diri Iman, dan juga ada pada diri saya, adalah kegemaran berorganisasi. Di sekolah, pada masa bhakti 2008 hingga 2009 (bila saya tak salah mengingat tahun), Iman adalah Ketua Bidang 4 OSIS SMA Negeri 1 Padang sekaligus dipercaya menjadi Ketua penyelenggaraan iven sains akbar di Sumatera Barat garapan SMAN 1 Padang. Iman terkenal dengan pesona dan kharismatik organisasinya di kalangan pelajar Sumbar, terlebih ia kerap kali melibatkan diri dalam organisasi eksternal sekolah. Iman tercatat pernah menjadi Sekretaris Forum Anak Daerah Sumbar (yang menjadi salah satu indikator dan cikal bakal terpilihnya Iman menjadi Pemimpin Muda Indonesia 2008 karena aktivitasnya pada bidang itu).

Jam terbangnya yang sangat banyak dengan organisasi membuat Iman ikut melibatkan diri dan dilibatkan banyak pihak. Saya tidak hapal persis apa saja organisasi eksternal sekolah yang digelutinya selain beberapa organisasi yang sempat terekam oleh jejak pengamatan saya. Meskipun demikian, seolah tak ingin kalah, saya di SMA pun lebih berkontribusi melalui kapasitas dan kapabilitas diri yang bisa saya sumbangkan demi kemajuan sekolah, seperti layaknya Iman berkontribusi. Meski menguasai bidang yang berbeda pada OSIS (Saya Bidang 6 OSIS), saya tetap menyatakan ini sebagai usaha saya untuk ingin menjadi siswa yang kontributif dan tidak terjebak pada stereotype dan ‘gaya’ hidup siswa kebanyakan di sekolah yang cenderung menghabiskan waktu untuk hal-hal tidak sarat guna dan jauh dari mutu.

Muhammad Iman Usman. (Dok.Pribadi)

 

Akan tetapi, meski sebetulnya banyak spirit yang ada di sekitar keseharian Iman, tidak berhasil tertangkap dengan baik oleh diri saya. Tentu saja ini, atas dasar perbedaan kesempatan, perbedaan faktor keburuntungan dan perbedaan kapasitas diri, membuat saya, kadang tidak berhasil mewujudkan apa yang telah menginspirasi dalam diri saya. Misalnya, ketika Iman punya riwayat pertukaran pelajar ke Jepang melalui program JENESYS, saya belum berhasil untuk itu. Faktor tadi yang kadang menghambat keinginan saya untuk melakukan hal yang sama, karena saya menilai itu adalah hal baik dan positif yang mesti saya contoh, saya tiru dan diimitasi bila perlu.

Hal lain adalah, menjadi Pemimpin Muda Indonesia, sebuah penghargaan tertinggi UNICEF yang diberikan kepada anak-anak dan remaja yang berkontribusi terhadap upaya advokasi dan pemenuhan hak anak. Sangat sayang rasanya, keterlembatan menjadi faktor ketidakmampuan saya mengikuti jejak positif itu. Iman telah melibatkan dirinya dalam kegiatan kemanusian (yang peta aktivitas Iman untuk hal ini tidak begitu saya ketahui), serta keterlibatan Iman dalam sejumlah lembaga indenpenden dan nirlaba di kawasan Padang secara khusus, dan Sumbar secara umum. Hal terbesar yang pernah ditorehkan Iman yang hingga kini belum dapat saya wujudkan adalah bertemu langsung dengan Presiden RI, karena dalam riwayat usia saya hingga kini, baru di usia 17 tahun saya baru berhasil mencapai segelintir porsi dari apa yang telah saya mimpi; yaitu bertemu langsung dan bersalaman dengan Bapak Boediono, Wakil Presiden RI, meski dalam kacamata di sisi lain, bertemu Wakil Presiden mungkin bagian dari terkecil dari catatan perjalanan prestasi Iman. Akan tetapi saya sadar satu hal, Iman yang kerap bertemu tokoh-tokoh penting nasional dan dunia telah membakar semangat saya untuk melakukan hal serupa. Iman dengan caranya, telah berupaya menunjukan aksi-aksi revolusi yang nyata, dan saya dengan cara saya pula, telah berusaha pula menampilkannya di permukaan meski secara objektif disadari banyak hal-hal besar yang telah dilakukan Iman, tetapi masih menjadi bagian dari mimpi, cita dan target saya.

Saya sangat menyadari, membaca tulisan-tulisan Iman tentang catatan perjalanannya ke luar negeri, dan bertemu tokoh-tokoh hebat Indonesia adalah bagian dari cara saya menginspirasi diri. Tulisan-tulisan itulah yang pada akhirnya, menjadi salah satu pembakar semangat saya untuk tetap berprestasi dan menunjukan eksistensi diri yang saya miliki. Karena saya menyadari potensi dalam dunia kepenulisan, saya mengarahkannya pada koridor sejenis yaitu dunia tulis menulis. Alhasil, sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2011 (bulan September), saya telah mengantongi sebanyak 50 butir prestasi yang didominasi prestasi dibidang kepenulisan sastra dan nonsastra.

Satu hal terbesar yang saya catat dalam kamus perjalanan hidup saya adalah saya telah berhasil mewujudkan mimpi untuk bisa mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Secara ekonomi dan finansial keluarga, saya bahkan mungkin jauh di bawah Iman Usman. Saya memang kurang bahkan jarang punya motivator internal seperti orangtua, terlebih ketika duduk dibangku kela VI sekolah dasar, saya kehilangan sosok seorang Ibu. Kendatipun begitu, saya justru merasa sangat bahagia memiliki motivator sejati yang tidak pernah lelah menginspirasil; seorang manusia biasa yang ‘tak biasa’ bernama Muhammad Iman Usman. Sukses selalu untukmu Bang…

Depok, 8 September 2011

Waktu-Waktu Produktif yang Diperkosa Kemalasan

Dok.Pribadi

Belakangan, inilah yang kerap menimpa saya; waktu-waktu produktif yang diperkosa kemalasan.

Saya tidak mengerti, entah kenapa tiga bulan belakangan ini saya menjadi manusia yang amat pemalas. Tidak hanya soal malas menulis, tetapi juga untuk aktivitas harian. Dulu, ketika masih di Padang, saya merasa amat sangat mandiri melakukan aktivitas rumahan. Saya jadi babu untuk diri saya sendiri (karena sewaktu SMP hingga tamat SMA, saya tinggal di rumah nenek); saya mencuci baju sendiri, saya menyetrika baju sendiri, saya kadang memasak sendiri bila di rumah menunya tidak saya suka (palingan juga mie rebus atau telor dadar ala Chef.Dodi Hahahaa), dan bila dihari Minggu, saya bantu Tante membersihkan rumah; gorden yang berdebu, jendela yang penuh abu, dan banyak aktivitas yang saya lakukan diluar sekolah, datang saban Minggu ke sanggar sastra saya, rapat ini itu, organisasi di sekolah. Di tengah kesibukan itu, saya masih bisa menulis. Masih bisa berprestasi. Masih bisa mendapat nilai akademik yang baik.

Tapi, sekarang, semenjak bermukim dikosan, aku merasa menjadi Dodi yang serba malas. Kalau dihitung-hitung frekuensi aktivitas, palingan waktu saya hanya habis untuk berkuliah. Selebihnya, saya tidak mengerti kenapa waktu saya menjadi jadi lebih sedikit, sementara ragam kegiatan tidak bervariasi; kuliah, ya hanya kuliah. Sementara, untuk aktivitas domestik ala anak kosan, tidak penuh saya lakukan. Di kosan, sudahlah pakaian kotor memakai jasa binatu, sudahlah juga tidak perlu menyetrika sendiri, tetapi kemana perginya waktu saya? Apakah kemalasan yang telah memperkosanya.

Saya kembali mengevaluasi.  Ternyata, kemasalahan ini tidak hanya menimpa aktivitas demikian, melainkan juga waktu menulis dan membaca.  Saya paham, buku-buku yang bertumpuk di kamar kosan, tidak disentuh bukan karena saya malas membaca (karena membaca adalah pekerjaan yang paling saya cintai), melainkan karena waktu-waktu yang nyaris tidak tersedia untuk itu. Sementara, ide-ide berloncatan dari tempurung kepala saya, minta dituliskan. Ketika ada hasrat untuk menulis, mendadak saya menjadi terdiam di depan monitor laptop dan menganggurkan sebuah halaman Microsoft Word dengan kursor yang hilang timbul tanpa ada satu aksara pun.

Ini kerap menjebak saya, kejadian dimana saya jauh lebih banyak menghabiskan waktu berputar-putar tak karuan di jendela facebook. Tanpa ada yang saya cari, tanpa ada sesuatu yang berarti. Tulisannya tak jadi-jadi.

Di luar itu, saya juga tidak mengerti, betapa kegabutan saya juga telah menjebak saya menjadi manusia yang tidak produktif. Dulu bahkan, saban bulannya saya bisa terima honor dari Singgalang. Beberapa bulan ini saya nyaris tidak terima karena saya mandul menulis. Saya mandul mengirimkan tulisan ke Singgalang, dan tentu saja tidak ada honor yang diterima. Bahkan, kegabutan ini juga telah menjebak saya menjadi manusia yang hedon.

Berkali-kali saya gelap mata dan terpenjara di pesona hedonisme mall untuk sesuatu yang jelas tidak penting, tidak berarti, dan tidak ada juntrungannya. Oh, tidak. Tuhan, kembalikan saya ke masa dulu itu, dimana setiap detik waktu, saya hargai sebagai pemberian-MU dan saya gunakan sebaik mungkin. Sekarang, saya mandul ‘aktivitas’, kemasalahan telah memperkosanya. (*)

‘Surat Kecil Untuk Bapak Presiden’

(SEDIKIT PENGANTAR)

Teman saya di Komunikasi, Amalia Puspa Khoirunissa, suatu malam minta dituliskan sebuah puisi tentang kemiskinan. Saya menjadi ingat puisi yang dulu pernah saya tulis sewaktu penyeleksian peserta Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), helatan Kementerian Pendidikan Nasional. Puisi berjudul Surat kecil untuk Bapak Presiden ini, mengantarkan saya menjadi Juara II dan tidak berkesempatan mewakili Provinsi Sumatera Barat di ajang tersebut (pada tahun itu diselenggarakan di Surabaya). Seleksinya berlangsung di Rumah Puisi Taufiq Ismail, di wilayah Aie Angek, Bukit Taeh, Padang Panjang.

Oleh dewan juri, Bapak Sulaiman Djuned, puisi saya awalnya dikira nyontek dan plagiat dari karya lain. Ia ingat, ada sebuah karya yang juga memiliki diksi judul yang sama. Saya sendiri pun, ketika menulis puisi ini, khususnya pada bagian judul entah kenapa merasa familiar. Tapi saya tetap pakai judul ini, toh, ini murni karya saya. Lagian, setelah Pak Sulaiman Djuned melakukan klarifikasi dan pengecekan, ia menyatakan tidak ada indikasi plagiasi. Simaklah petikan puisinya:

Pak!
Kemarin sore rakyatmu mandi di sungai luka
Setelah kering kerontang membungkus lagu-lagu wakil rakyat kita
Yang celemok dusta,
Dan ekspresi tawa yang selembut sutra

Pak! Pak!
Tiap malam langit di kota kami pengap
Dan asap-asap dari pabrik atau orang-orang berdasi
Dari gedung-gedung sibuk menyoal suap menyuap
Sementara rakyat-rakyat kecil seperti kami
Dengan mata sayu sambil terkantuk-kantuk
Mendengar pidato dari ruang presiden
Soal harga beras dan cabe yang melambung tinggi
Atau tentang jelata dengan nafas sekarat dan terpenggal melepas suntuk
dan gurat-gurat luka batin

Pak! Pak! Pak!
Adakah hujan akan turun di rumah kardus kami?
Demi menghapus duka lara dan jerit-jerit suara demonstrasi
Yang membahana hingga meluap-luap di radio hingga televisi
Adakah matahari akan singgah menjumpai kami?
Untuk mengucap selamat pagi
dan dengan sangsi berucap
“Apa yang kau tanak pagi ini selain batu atau kerak-kerak lumpur di halaman?”

Sementara itu dari koran-koran
Dikabarkan tentang nostalgia busung lapar dan roman gelandangan
Bersamaan ketika suara ribut dan berisik dari stasiun televisi
Yang memberitakan tentang kasus-kasus korupsi yang tiada henti-henti

Pak! Pak! Pak! Pak!
Kemarin pagi kami sibuk menghitung airmata
Menyaksikan langit kota kami gelap gulita
Dan pagi tak kembali
Karena para gelandangan terlena mencium bau kudis, dan muntah
Di sepanjang rumah kami yang bergelimpangan sampah-sampah
Tapi, Bapak sibuk dengan pidato lima puluh halaman dan urusan politik
Dan tak pernah merasa tergelitik
Untuk membaca surat kecil ini
Sepenggal lagu kesedihan
Dari orang-orang yang berselimut kemiskinan

Pak! Pak! Pak! Pak! Pak!

 

(Padang, 1 Juli 2011)


Saya Bangga Menjadi Mahasiswa Komunikasi UI

Komunikasi Universitas Indonesia 2011. (Foto:Adel)


Saya menyadari, ketika masa kenaikan kelas XI di bangku Sekolah Menengah Atas saya baru menyusun target untuk bisa berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia. Ketika masih awam dulu, sewaktu masih buta tentang jurusan di perkuliahan, saya hanya tahu Universitas Indonesia didengung-dengungkan sebagai universitas terbaik di Indonesia tanpa tahu jurusan apa saja yang popular di sana. Baru di bangku pertama SMA, saya mulai membiasakan diri bertanya pada senior, mulai menyempatkan diri duduk di depan monitor komputer jinjing saya, membiarkan jendela pencarian google memberikan informasi seputar jurusan di perguruan tinggi.

Saya yang kala itu telah memetakan rencana perjalanan akademik saya di rumpun sosial, hanya melirik jurusan Hubungan Internasional yang kemudian saya ketahui sebagai jurusan terbaik di rumpun sosial (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) setelah Akuntansi (di Fakultas Ekonomi). Ketika itulah, semasa kepala sekolah saya di SMA meminta setiap murid menuliskan cita-citanya di dinding kelas, saya menuliskan target kuliah di Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Hubungan Internasional, tentu saja dengan memasang ekspektasi profesi sebagai Diplomat. Meski dalam kepala saya saat itu, gambaran tentang jurusan itu hanya sebatas belajar tata cara diplomasi di ranah Internasional (membayangkan seorang tetangga saya yang jadi Duta Negara di Arab Saudi).

Ah, harapan itu tidak bertahan lama. Persis seperti yang saya duga. Ketika saya duduk di kelas X 7 Internasional di SMA Negeri 1 Padang, di mana ketika itu hampir semua teman-teman saya memasang target untuk mengambil jurusan IPA karena hendak melanjutkan di tataran perkuliahan yang tak lepas dengan ilmu eksakta (semisal Institut Teknologi Bandung atau Institut Pertanian Bogor).

Ketika itulah, saya telah memainkan stir peta kehidupan saya, dan membanting stir ke jalur sosial (seperti yang telah saya rancang sebelumnya). Kendati saat itu target saya memang hanya bulat di ranah sosial, kali ini, saya beralih ke Fakultas Ekonomi, bercita-cita ingin kuliah di Jurusan Ilmu Ekonomi di Universitas Indonesia. Saya menjadi ingat sosok bankir yang kerap menginspirasi saya, dan saya mengingat persis ia lulusan sana. Saya mencoba realistis, mengukur-ukur abilitas matematis dan pendidikan teoritis seputar ilmu ekonomi saya yang tidak begitu mapan dan cukup mumpuni untuk survive selama perkuliahan di sana, semisal saya diterima.

Saya tidak mampu membayangkan, mendadak saya berhenti kuliah di tengah jalan, karena muak dengan numerik, hitung-hitungan, angka-angka, dan teori baku yang membuat kepala saya berasap. Oh, tidak! That’s not my choice, that’s not my world. Saya mencoba realistis saja!

Saya sangat menyadari, semenjak duduk di bangku pertama SMA, tidak satu atau dua teman yang mengatakan bahwa nantinya saya akan berkuliah di jurusan Sastra, tepatnya di Sastra Indonesia. Persis seperti penilaian mereka ketika mengapresiasi tulisan-tulisan prosa saya yang dimuat di media massa ketika masih di SMP, menulis cerpen-cerpen dan tulisan-tulisan lepas yang dimuat di media lokal di Sumatera Barat. Itu bagai suatu pernyataan yang seolah mendoktrin mereka bahwa nantinya saya memang akan melanjutkan studi di jurusan Sastra Indonesia.

Saya akui, memang iya, bahkan, saya bermimpi ingin bertemu Pak Sapardi Djoko Damono (yang saat itu tercatat sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, setelah sebelumnya menjadi Dekan di sana). Meski sadar ada keinginan kesana, tapi, saya berusaha menguburnya dengan berbagai pertimbangan.  Tapi, di balik semua itu, saya merasa bahagia karena tidak ada sama sekali tekanan dari orangtua. Orangtua saya tak pernah sama sekali intervensi saya dalam memilih. Dalam pemikiran ayah saya, pilihan adalah sesuatu yang patut dihargai dari seorang anak, dan untuk itu tugas orangtua hanyalah mendukungnya. Bukan mengintervensi, apalagi mencoba menggariskan alur pilihan dan hidup anaknya.  Hal ini pun sama berlakunya ketika dulu saya memilih jurusan IPS ketika penjurusan di SMA, ayah hanya memberikan senyum dan mengatakan “Bukan jurusannya, tapi berhasilkah kamu dengan jurusannya itu. Kalau itu terbaik buat kamu, dengan sendirinya itu akan menjadi terbaik pula untuk ayah!”

Karena itulah, tiga tahun masanya di SMA, saya bebas menentukan pilihan. Saya ingat kata Andrea Hirata ketika suatu kesempatan diskusi dengannya. Bahwa, ikhwal keberuntungan kita ada pada kemampuan kita dalam memilih. “We are lucky person, cause we have the choice..”

Pilihan saya hanya 2; Jurusan Sastra Indonesia dan Ilmu Komunikasi. Itu saja. Sungguh.

Maka, saya mulai menimbang-nimbang. Bila saya memilih Sastra Indonesia misalnya, saya tidak bisa membayangkan apakah hidup saya nanti akan terus berkutat dengan dunia tulis menulis sastra. Ada pula bayangan, di tengah jalan saya sekonyong-konyong tidak bisa lagi menulis sastra akibat terkungkung dengan teori-teori (sebagaimana cerita para sahabat dan senior-senior di beberapa perguruan tinggi), atau takut membayangkan suatu waktu ketika dewasa saya tidak bisa hidup sejahtera di tengah ‘kemiskinan’ apresiasi sastra dan hidup di Indonesia yang menomorsekiankan sastra (tidak seperti cara orang Indonesia berpandangan bahwa;  (seolah-olah) hanya Kedokteran yang mampu menyejahterakan! Dengan sadar lagi, saya merasa ini hanya sebuah ketakutan yang tidak begitu mutlak.

Sebenarnya, memilih jurusan Ilmu Komunikasi, telah ternanam dalam diri saya ketika saya dulu aktif sebagai reporter di sebuah Tabloid Pelajar Grup Padang Ekspres bernama P’Mails. Di sanalah, saya ditempa belajar jurnalistik praktis bersama rekan-rekan pelajar SMA lainnya di kota Padang dan sejumlah area di Sumbar. Di sana, saya bertemu orang-orang hebat. Jurnalis hebat dari Sumbar. Di sana pula, saya bisa bisa bertemu orang-orang penting yang tidak mungkin bisa bertemu dengan anak-anak sekolah pada umumnya. Tambah lagi, di SMA, saya pernah menjadi Pemimpin Redaksi untuk media sekolah.

Darisana muncul keinginan untuk belajar jurnalistik teoritis di bangku mahasiswa, dan di samping menginginkan HI, saya diam-diam jatuh cinta pada Ilmu Komunikasi. Saya ingat ucapan seorang teman, memilih jurusan Ilmu Komunikasi bagi saya, sama artinya dengan memilih menu makanan favorit harian saya; yaitu ayam goreng. Saya memilih jurusan yang menu-nya saya cintai; antara lain jurnalisme. Dulu sekali, jam terbang yang minim dan taraf informasi yang kurang memadai, membuat saya buta dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Di luar informasi yang saya terima dari guru, senior, hasil searching di jendela google, nyaris tidak ada informasi yang bisa menguatkan saya untuk memilih jurusan Ilmu Komunikasi. Tapi, selalu saja ada rasanya yang menguatkan dan meneguhkan pendirian saya untuk memilih jurusan itu tatkala saya diingatkan dengan sosok Effendi Gazali yang kerap muncul di media televisi saat itu, ketika saya selalu menyimak ia hadir membawakan sejumlah acara di televisi swasta nasional.

Hal lain, saya merasa ada dorongan yang kuat ketika punya prinsip seperti ini; saya tahu saya punya kemampuan dalam menulis sastra (pun menulis kreatif lainnya). Ketika misalnya saya memilih sastra, tentulah saya tidak punya background akademis komunikasi. Tapi, saya membalikan semua ini; kalau saya memilih komunikasi, maka saya punya dua tataran ilmu, komunikasi dan sastra. Saya bisa jadi nomor 1 di komunikasi karena belum tentu anak komunikasi bisa menguasai sastra, pun berlaku sebaliknya. Anak jurusan sastra pun, belum tentu bisa menguasai ilmu komunikasi. Oke bukan, dengan demikian saya bisa kuasai dua ilmu. Persis seperti saya mengingat Pak Taufiq Ismail yang selain oke di Sastra tapi juga punya background akademis di jurusan Kedokteran Hewan, atau seperti Cerpenis favorit saya, Om Gus tf Sakai yang juga lulusan Peternakan Universitas Andalas, tapi sangat mumpuni di sastra, dan masih banyak sejumlah figur yang menjadi contoh.

Inilah pilihan saya yang sesungguhnya. Maka saya memilih!

Saya masuk di jurusan Ilmu Komunikasi lewat jalur SNMPTN Undangan. Sebelumnya, saya sempat ikut PPKB Universitas Indonesia (jalur PMDK yang dihelat rumah tangga Universitas Indonesia). Tapi, karena ada remodifikasi sistem dari Kemendiknas (sekarang Kemendikbudnas), alhasil saya mesti pindah jalur ke jalur SNMPTN Undangan (untuk tulisan tentang SNMPTN Undangan ditulis menyusul). Ahamdulillah, setelah terkatung-katung menunggu hasil PPKB UI yang berbuah pahit penundaan berbulan-bulan, SNMPTN Undangan membuahkan sesuatu yang manis, saya lulus tanpa perlu ada tes. Saat itulah, saya bangga menjadi Mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Banyak hal sebenarnya yang membuat saya berbesar hati menjadi keluarga besar civitas akademika Universitas Indonesia, khususnya di Komunikasi. Tidak sedikit mereka-mereka yang hebat ada di sini, sebagaimana ketika saya merasa bangga diajar oleh Dosen Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi; Mbak Nina Armando, yang tak lain adalah Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang kerap menghadirkan isu-isu media terbaru dikala kelas Pengantar Ilmu Komunikasi, kerap menampilkan iklan-iklan yang dicekal KPI atau tontonan yang mendapat layangan surat pemberhentian tayang dari KPI. Rasanya, bersama Mbak Nina, belajar Komunikasi terasa amat menyenangkan, waktu dua jam di kelas tidak terasa bergulir cepat karena terlena dengan kualitas komunikasi dan cara ia mengajar di depan kelas yang menyita perhatian mahasiswa.

Kelas Pengantar Ilmu Komunikasi memang tidak satu dan saya lupa jumlahnya ada berapa. Dulu, ketika saya di depan monitor dan di screen tertera SIAK NG. (situs akademis mahasiswa UI) saya bingung menentukan pilihan untuk kelas PIK. Beberapa nama yang asing ada disana, tak terkecuali nama Mbak Nina Armando yang di situs resmi tertulis Nina Mutmainah, baru kemudian setelah itu saya tahu nama belakang beliau diambil dari nama suaminya yaitu Bang Ade Armando yang juga akademisi komunikasi.Tapi, pilihan dengan  Mbak Nina rasanya pilihan yang tepat mengingat ia bisa mengimbangkan pembelajaran teori dengan menyuguhkan materi-materi dan subtansi pembelajaran yang praktis (seperti rekomendasi film yang harus ditonton pasca belajar PIK, potongan-potongan reklame televisi yang menarik disimak, hasil liputan media baru, youtube dan beraneka studi media literasi yang selalu dihadirkan Mbak Nina di setiap kelas). Tapi sayangnya, kesibukan beliau di luar kampus, khususnya atas tanggungjawab sebagai Wakil Ketua KPI membuat beliau acapkali keluar kota dan kelas yang tiba-tiba kosong dan dipindahkan saban hari Jumat.

Mbak Nina Armando (Dok.google.com)

Dulu sekali, ketika baru pertemuan perdana kelas PIK, saya masih gugup di depan beliau karena di kelas beliau saya satu-satunya cowok dan saya adalah lelaki tertampan.  Di awal, Mbak Nina pernah cerita bahwa ia adalah Asisten dari Pak Prof.Alwi Dahlan, yang merupakan Doktor Komunikasi pertama di Indonesia. Sebelumnya saya pernah tahu bahwa Prof.Alwi Dahlan (kelahiran Padang Sumatera Barat) adalah tokoh komunikasi termansyur di Indonesia karena ia merupakan orang yang pertama meraih gelar Doktor Komunikasi dari  Universitas Ilinois, Urbana, USA. Di Universitas Illinois, Pak Alwi adalah murid dari Bapak Komunikasi Dunia yaitu Wilbur Schramm. Bisa dibayangkan, betapa ranji itu membuat saya merasa bangga dan saya adalah (berada di lini) generasi mutakhir yang meneruskan ranji para tokoh itu.

Oke, Wilbur Schramm sebagai Bapak Komunikasi Dunia (penyandang Doktor Pertama di dunia) pernah mengajar Prof.Alwi Dahlan yang tercatat sebagai Tokoh Komunikasi Indonesia dan peraih Doktor pertama bidang Komunikasi di Indonesia pernah mengajar Dra.Nina Armando yang saat ini mengajar Dodi Prananda (dkk) yang belum tahu nantinya akan mengajar siapa? Hahahaa…

Prof. Alwi Dahlan, Doktor Bidang Komunikasi pertama di Indonesia asal Sumatera barat. (Dok.google)

Sebenarnya, tidak hanya  Mbak Nina atau Prof.Alwi yang membuat Komunikasi menjadi glow , prestisius, dan berkualitas. Sejumlah tokoh praktisi pengajar ataupun dosen lainnya juga menjadi hal yang membuat saya bangga menjadi Mahasiswa Komunikasi. Misalnya Pak Effendi Gazali yang selalu fasih berkomunikasi di ranah politik, atau Ade Armando yang juga sering muncul di TV. Selain Mbak Nina di KPI juga ada Bapak Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja, MA, Ph.D, mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia beberapa tahun silam. Perlu nama lebih? Sebutlah Arbain Rambey, Redaktur Foto Senior KOMPAS yang saat ini mengajar saya untuk mata kuliah Foto Jurnalistik atau Bang Masmimar Mangiang, seorang Mantan Jurnalis, Wartawan Senior Tempo, yang bila bicara soal jurnalistik, dibuat terpukaulah kita.

Oke, sekarang, kalian tidak punya alasan untuk tidak memilih Komunikasi UI lagi kan? Saya tunggu kalian menjadi keluarga besar di sini.

Depok, 13 Desember 2011

Refleksi 18 Tahun: Sebuah Catatan Evaluasi Diri

Rasanya baru kemarin, saya merayakan hari kebahagian sebagai manusia berusia tujuh belas tahun bersama teman-teman dan keluarga. Tapi, hari ini, Minggu, 16 Oktober 2011 kebahagian yang sama kembali menghampiri saya. Inilah momentum yang saya tunggu-tunggu di setiap tahunnya. Bilamana hari kelahiran datang, maka disanalah akan ada semacam evaluasi diri untuk sekadar mengukur, telah sejauh manakah saya mampu mempergunakan usia itu hingga pada jatuhnya hari jadi itu dan telah sampai mana saya berhasil mencapai apa yang telah saya rancang untuk dicapai pada tahun sebelumnya.

Persis seperti ketika hari kelahiran saya pada 16 Oktober 2010 silam, saya membuka catatan tahun sebelumnya dan melakukan pengoreksian diri atas apa yang telah saya tulis. Maka, saya akan mulai mengambil stabilo, lalu membiarkan tinta stabilo menandai mana poin-poin yang telah berhasil saya raih, dan melakukan kroscek terhadap poin yang gagal saya lakukan. Hal yang sama juga saya lakukan ditahun ini, mulai melakukan evaluasi atas pencapaian apa yang telah berhasil apa saya tempuh. Dan, catatan tahun 2010 silam akan menjawab pertanyaan besar tersebut.

Berusia 18 tahun, rasanya saya disadarkan betapa telah cukup lama ternyata saya hidup sebagai manusia. Angka tersebut juga menandai sebuah arti besar menjadi seorang remaja dan dewasa, angka yang identik diasosiasikan pada kemandirian, kematangan berpikir dan lain sebagainya. Dan itu, berarti pula bahwa kini sudah saatnya saya mulai menyadari, keberhasilan apa pula yang telah saya capai setelah saya diberikan jatah usia selama 18 tahun hingga sekarang. Tahun 2011, atau tepatnya di usia yang ke 18 tahun ini, keberhasilan terbesar yang sudah saya genggam adalah impian menjadi Mahasiswa Universitas Indonesia dan menempuh studi di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sebuah ekspektasi besar yang telah saya tanamkan, jauh ketika saya masih duduk di tingkat awal Sekolah Menengah Atas. Untuk kedua kalinya, di depan saya, saya menyaksikan mata ayah berkaca-kaca ketika mendapati kenyataan anaknya dapat di terima di perguruan tinggi yang sangat tersohor di Indonesia (melalui jalur SNMPT Undangan), setelah sebelumnya ketika saya juga menempati kursi di SMA Favorit di Padang. Alhamdulillah, Tuhan Maha Basar, apa yang telah saya targetkan, didengar oleh-NYA dan dikabulkan menjadi kenyataan.

Pada sisi lain, juga ada tendensi yang kuat untuk selalu melakukan kebiasaan saya bila berhadapan dengan ayah. Dulu, ketika masih di Padang, saya tidak pernah henti-hentinya untuk selalu memperbaharui semangat ayah. Bila ayah datang ke rumah – karena ketika itu saya menetap di rumah nenek—saya akan menyampaikan pada ayah soal kabar-kabar gembira yang telah saya himpun sedemikian rupa, semata demi meningkatkan dan membarakan guruh semangat di dalam dada ayah. Dan saya selalu berhasil melakukannya; maka ketika ayah mengunjungi saya di rumah, saya akan bercerita padanya tentang prestasi apa yang baru saya capai setelah berminggu-minggu ia disibukkan rutinitas kerja. Tidak hanya soal prestasi, tetapi juga pengalaman yang menarik, apakah itu soal peristiwa di sekolah, tentang pengalaman berjurnalistik saya, hingga pada pencapaian apa yang saya asumsikan dapat menimbulkan getaran semangat agar ayah tidak pernah lelah untuk saya. Tidak pernah lelah, hingga ia pun kelak dihadapkan pada apa yang pernah dimimpikannya, berubah menjadi nyata di hadapannya; melihat saya menjadi sarjana. Di usia 18 tahun inipula, saya merasa terpanggil untuk tidak menghentikan kesengajaan ini. Karena saya merasa, cukup Tuhan yang paham dan mengerti rasa bahagia dan bangga saya memiliki seorang ayah seperti yang saya miliki hingga kini.

Berusia 18 tahun, juga mengingatkan saya bahwa sepanjang saya menghabiskan satu tahun usia sejak berusia 17 tahun (dari Oktober 2010 s.d Oktober 2011), pada tahun silam, saya merasa sudah cukup banyak pencapaian lain yang sudah saya buat. Tercatat, sebanyak 15 butir prestasi yang sudah mampu saya torehkan sepanjang setahun waktu bergulir. Tapi, pada sisi lain, saya selalu merasa kelaparan untuk terus menggapai apa saja yang membuat orang-orang di sekeliling saya merasa bangga memiliki saya, merasa saya ada di sampingnya, merasa bahagia karena saya selalu menciptakan senyum di wajahnya. Merasa selalu haus akan prestasi-prestasi yang akan membuat ayah dan ibu saya memiliki saya meski mereka tidak pernah menampilkannya di hadapan saya. Merasa kelaparan untuk terus melakukan yang terbaik, dan menjadikan apa-apa yang tidak berhasil saya wujudkan pada tahun silam, sebagai ‘pekerjaan rumah’ bagi saya di usia 18 tahun ini.

Hari ulang tahun, Minggu (16/10) rasanya meninggalkan banyak kesan. Pertama, meski tidak melenggang menjadi Pemenang Utama pada Lomba Menulis Cerpen Remaja Tingkat Nasional 2011 Kategori C PT.Rohto Laboratories Indonesia. Kali ini, di pentas kompetisi yang lawanya tidak hanya homogen, sebagaimana laiknya ketika saya menjadi Juara I (Perempuan Simpang­) pada tahun lalu di kategori B dan berhasil mewujudkan apa saya damba-dambakan, kini saya dihadapkan pada pentas rival yang heterogen, yang tidak hanya mahasiswa, melainkan juga guru, dosen dan umum. Rasanya, untuk menembus angka sebagai 200 Pemenang Favorit (lewat cerpen berjudul Kamar Ibu) pada kategori C sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Dan ini akan menjadi pelecut semangat, sebagaimana pula saya dilecut ketika tahun 2009, saya hanya mampu bertengger di posisi 10 Pemenang Harapan (pada waktu itu dengan cerpen berjudul ‘Menanti Ibu’. Ini menandakan, sudah seharusnya pula lecutan semangat itu berulang pada tahun depan, dan saya pun berharap, sejarah kembali berulang.

Kedua, saya juga menerima kabar gembira bahwa di hari ulang tahun saya yang ke -18, saya mendapat penghargaan sebagai peraih 7 Puisi Terpuji dalam Lomba Cipta Puisi Kota Padang Tingkat Nasional. Ini tidak pernah ada dalam dugaan saya, bahwa saya akan mencapai posisi 150 nominasi, lalu dengan mulus menembus 75 nominasi. Lalu sesudahnya, saya semakin pesimis ketika menyadari para penulis yang sudah prominen karyanya, sudah berbuku pula ia, sudah wara-wiri pula karyanya di media nasional, dan menjelaskan bahwa lawan saya dalam kompetisi ini adalah mereka yang mayoritas penulis yang ‘mapan’ dalam taraf berkarya. Dan, tidak henti-hentinya puji kepada Tuhan Yang Maha Esa, puisi saya (Menulis Kangen; Padang), sebagai 7 Puisi Terpuji. Rasanya, ini pencapain yang sudah melebihi apa yang saya asumsikan untuk terjadi.

Ketiga, saya mengucapkan terima kasih banyak pada Bapak Nasrul Aswar, Redaktur Sastra dan Budaya untuk rubrik Seni di Haluan Minggu. Saya mendapat kado yang manis di usia 18 tahun ini, ketika mendapati rubrik cerpen Haluan memuat cerpen saya berjudul Kandang Bapak, ini akan menjadi catatan menarik dari sepanjang peringatan hari kelahiran saya.

Dan sebagai pengharapan untuk tahun depan (Oktober 2012), saya ingin kembali berpekspektasi. Sebagaimana layanan pesan pendek yang masuk ke ponsel saya dari rekan-rekan, ada doa dan  harapan agar saya mampu menerbitkan buku saya yang pertama di tahun ini, di usia yang bertambah satu tahun ini, dan pada semangat baru ini. Ada doa-doa agar saya sukses pada studi yang tengah saya emban. Pun saya juga mencatat keinginan di tahun ini, bahwa saya ingin sekali untuk bisa menembus KOMPAS, saya tidak akan berhenti berkarya dan selalu meningkatkan kualitas karya dari hari ke hari. Tidak hanya KOMPAS, tetapi juga koran nasional yang lainnya. Saya akan mulai dari Republika, Jurnas, hingga nantinya pada Kortem dan KOMPAS. Saya tipikal orang yang sangat menyakini, tidak ada yang tidak  mungkin di dunia ini bila sesuatu hal didasari atas keinginan, dorongan, yang dipadukan dengan usaha, tekad yang bulat serta dibalut dengan doa.

Terakhir, terima kasih kepada guru saya di Padang. Sang Guru, yang sangat berperan besar dalam diri saya yang sekarang, yang tidak hanya sekedar mengajari tentang bagaimana cara menulis, tetapi juga tentang hidup. Rasanya, inilah guru sejati yang pernah ada dalam sepanjang saya hidup, seorang guru yang perannya terasa jauh melebihi peran orangtua saya di rumah. Terima kasih kepada rekan-rekan semua, kakak-kakak di Padang, teman-teman di Universitas Indonesia dan juga alumni SMA 1 Padang tahun 2011, guru-guru saya di SMAN 1 Padang, empat orang adik saya tercinta (Rafi, Icha Aji dan Nazwa), keluarga tersayang (memiliki kalian saya merasa bahagia), teman-teman yang selalu saya rindukan, orang-orang yang pernah membantu saya dalam berbagai kesulitan (yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu). Terima kasih atas ucapan selamat ulang tahunnya yang masuk di situs jejaring sosial, ponsel dan sebagainya. Mohon maaf bila tidak dapat dibalas satu persatu. Hari ini saya katakan pada dunia; saya harus menjadi lebih baik lagi di tahun mendatang. Sebuah keharusan yang mutlak. n

*Catatan ini ditulis untuk menyambut Hari Ulang Tahun saya yang ke 18 tahun, 16 Oktober 2011.

Dodi Prananda
Refleksi 18 Tahun: Sebuah Catatan Evaluasi Diri- Foto:Dok.Pribadi